Defisit Neraca Pembayaran Susut Jadi 900 Juta Dolar AS di Kuartal II 2026

- Neraca Pembayaran Indonesia kuartal II 2026 defisit 0,9 miliar dolar AS, menyusut tajam dari 9,1 miliar dolar AS pada kuartal sebelumnya.
- Defisit transaksi berjalan melebar menjadi 12,5 miliar dolar AS akibat kenaikan impor minyak, penurunan surplus nonmigas, serta peningkatan pembayaran pendapatan primer.
- Surplus transaksi modal dan finansial mencapai 12 miliar dolar AS, didorong investasi langsung dan portofolio; cadangan devisa akhir Juni tercatat 145,6 miliar dolar AS.
Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) melaporkan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal II 2026 mencatat defisit 0,9 miliar dolar AS, jauh lebih rendah dibandingkan defisit pada kuartal I 2026 sebesar 9,1 miliar dolar AS.
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan transaksi berjalan mencatat defisit yang lebih besar. Kondisi ini dipengaruhi oleh meningkatnya defisit neraca perdagangan migas dan menurunnya surplus neraca perdagangan nonmigas.
"Sementara itu, transaksi modal dan finansial mencatat surplus ditopang oleh peningkatan aliran masuk investasi langsung dan investasi portofolio sehingga mendukung kinerja NPI yang tetap terjaga," ujar Denny dalam keterangannya, Jumat (21/8/2026).
1. Cadangan devisa Juni tercatat 145,6 miliar dolar AS

ilustrasi uang kertas (unsplash.com/@moneyphotos) Di sisi lain, posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2026 tetap terjaga sebesar 145,6 miliar dolar AS. Cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor, atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
"Posisi tersebut juga berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor," kata Denny.
2. Defisit transaksi berjalan melebar ke 12,5 miliar dolar AS

ilustrasi uang (pexels.com/Pixabay) Denny menjelaskan, laju transaksi berjalan tercatat defisit pada kuartal II 2026 sebesar 12,5 miliar dolar AS atau 3,3 persen dari PDB, melebar dibandingkan dengan defisit pada kuartal sebelumnya sebesar 3,6 miliar dolar AS atau 1,0 persen dari PDB.
"Peningkatan defisit transaksi berjalan dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang diperkirakan bersifat sementara. Salah satunya adalah meningkatnya defisit neraca perdagangan migas akibat kenaikan impor minyak seiring dengan tingginya harga minyak dunia," kata Denny.
Sementara itu, surplus neraca perdagangan nonmigas menurun akibat meningkatnya impor nonmigas untuk memenuhi kebutuhan kegiatan ekonomi dalam negeri yang masih tinggi.
Di sisi lain, defisit neraca pendapatan primer meningkat sejalan dengan kenaikan pembayaran pendapatan primer. Kemudian, surplus neraca pendapatan sekunder relatif stabil dibandingkan dengan kuartal I 2026.
3. Transaksi modal dan finansial catatkan surplus 12 miliar dolar AS di kuartal II

ilustrasi pertumbuhan ekonomi (unsplash.com/Mathieu Stern) Transaksi modal dan finansial mencatat surplus sebesar 12 miliar dolar AS pada kuartal II, setelah pada kuartal I 2026 mengalami defisit 4,8 miliar dolar AS. Surplus ini didukung oleh peningkatan aliran masuk investasi langsung dan investasi portofolio.
Denny mengatakan, investasi langsung mencatat surplus lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Kondisi ini didorong oleh terjaganya persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian dan iklim investasi domestik.
Investasi portofolio juga mencatat surplus yang meningkat seiring dengan kenaikan imbal hasil instrumen keuangan domestik. Sementara itu, investasi lainnya mencatat defisit yang lebih rendah.
"Ke depan, prospek NPI diperkirakan tetap baik sehingga mendukung ketahanan eksternal. Defisit transaksi berjalan diprakirakan lebih rendah, didukung perbaikan prospek ekspor sejalan dengan kenaikan harga komoditas global, termasuk harga komoditas unggulan ekspor Indonesia, dan dampak positif penurunan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS)," kata Denny.




















