ilustrasi pendapatan negara (IDN Times/Nathan Manaloe)
Sebagai ilustrasi, Ronny menghitung, jika perdagangan 50 juta ton batu bara menghasilkan margin 1 dolar AS per ton yang dapat dipertahankan perusahaan Indonesia, potensi margin bruto mencapai 50 juta dolar AS per ton. Sementara jika marginnya 2 dolar AS per ton, nilainya bisa mencapai 100 juta dolar AS per ton.
Namun, ia mengingatkan, angka tersebut sebatas ilustrasi dan bukan proyeksi keuntungan bersih. Pemerintah tetap perlu memperhitungkan biaya pembiayaan, logistik, asuransi, pemasaran, serta risiko transaksi untuk mengetahui manfaat ekonomi yang sebenarnya.
Selain potensi tambahan margin, ekspor langsung juga dinilai dapat memperkuat hubungan antara eksportir nasional dan pembeli akhir. Dengan begitu, perusahaan Indonesia berpeluang memperoleh akses informasi yang lebih baik mengenai harga, permintaan pasar, kualitas produk, hingga kebutuhan konsumen internasional.
"Jadi, manfaatnya bukan hanya potensi tambahan keuntungan dari margin perdagangan, tetapi juga penguatan posisi perusahaan nasional dalam rantai nilai global," ujarnya.
Meski begitu, Ronny mengingatkan, kebijakan ekspor langsung tidak cukup hanya dengan mengubah jalur perdagangan. Pemerintah perlu memperkuat kapasitas perusahaan perdagangan nasional, akses pembiayaan dan asuransi, infrastruktur pelabuhan, hingga kemampuan pengelolaan risiko harga. Pasalnya, perusahaan nasional harus memiliki daya saing untuk mengambil alih peran yang selama ini dijalankan perusahaan perdagangan internasional.
Di sisi lain, pengawasan transaksi juga perlu diperkuat untuk mencegah praktik underinvoicing atau pelaporan nilai ekspor lebih rendah dari nilai transaksi sebenarnya. Pengawasan tersebut perlu dilakukan melalui pencocokan data produksi, dokumen kepabeanan, transaksi perbankan, hingga data impor dari negara tujuan.
"Jika dilakukan secara konsisten, kebijakan ini berpotensi meningkatkan transparansi perdagangan, memperbaiki kepatuhan pajak, dan mengoptimalkan penerimaan negara," jelas Ronny.
Dalam jangka panjang, Ronny menilai kebijakan ekspor langsung dapat menjadi bagian dari strategi memperkuat kedaulatan ekonomi Indonesia. Namun, keberhasilannya harus diukur dari tambahan nilai ekonomi yang benar-benar masuk ke dalam negeri, bukan sekadar perubahan rute pengiriman komoditas.