Ilustrasi Investasi (IDN Times/Sukma Shakti)
Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk mengurangi risiko diworsification. Salah satunya melalui penasihat keuangan. Mereka dapat membantu menyusun alokasi aset, menentukan bobot setiap instrumen dalam portofolio, serta melakukan rebalancing agar komposisi investasi tetap sesuai tujuan dan tingkat risiko investor.
Pilihan lain adalah menggunakan robo advisor atau managed wrap account. Layanan ini menyusun rekomendasi portofolio berdasarkan profil risiko investor dengan mengacu pada teori portofolio modern. Namun, pilihan aset yang digunakan tetap terbatas. Pada robo advisor, misalnya, alokasi optimal umumnya hanya disusun dari sekitar 10 exchange-traded fund (ETF) milik perusahaan manajemen investasi yang menjadi mitranya.
Investor individu juga dapat mengacu pada alokasi aset yang umum digunakan berdasarkan profil risiko. Investor konservatif biasanya lebih banyak menempatkan dana pada instrumen berisiko rendah, seperti dana pasar uang, dana pinjaman, dan dana obligasi. Investor moderat cenderung membagi portofolio secara seimbang antara saham dan instrumen pendapatan tetap. Sementara itu, investor agresif dapat menempatkan hingga sekitar 90 persen portofolionya pada saham dan instrumen pertumbuhan.
Meski demikian, pembagian berdasarkan kelas aset belum sepenuhnya menghilangkan risiko diworsification. Investor tetap perlu memperhatikan hubungan atau korelasi antaraset dalam portofolionya.
Sebagai contoh, sebuah saham berpotensi tumbuh tinggi belum tentu memberikan manfaat tambahan jika pergerakannya sangat mirip dengan saham lain yang sudah dimiliki. Karena itu, selain mempertimbangkan prospek pertumbuhan, investor juga perlu melihat korelasi investasi baru dengan aset yang telah ada agar penambahan instrumen benar-benar meningkatkan kualitas portofolio.