Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
E-Commerce RI Ekspansi ke Thailand, Begini Strateginya
E-commerce Indonesia ekspansi ke Thailand. (Dok. AHA Commerce)
  • AHA Commerce membuka operasi di Thailand dengan menerapkan sistem pengelolaan e-commerce yang sebelumnya dibangun di Indonesia.
  • Penyesuaian terhadap konsumen, marketplace, promosi, dan kebutuhan brand lokal menjadi bagian dari pengelolaan di Thailand.
  • Perusahaan menggunakan AI Marketing AHABOT serta skema garansi kenaikan omzet minimal 20 persen bagi klien.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
September 2025

AHA Commerce mendapat tugas mengelola operasional marketplace sebuah brand yang telah hadir di Thailand. Brand tersebut mencatat kenaikan omzet sebesar 221 persen.

Saat ini

AHA Commerce telah memiliki badan usaha resmi, kantor operasional, dan tim yang seluruhnya direkrut dari Thailand. Pengelolaan dilakukan secara hybrid dengan tim lokal dan tim Indonesia.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    AHA Commerce memaparkan strategi ekspansi bisnis e-commerce ke Thailand, termasuk pengelolaan brand lokal, marketplace, dan penggunaan AI.
  • Who?
    AHA Commerce, Chief Executive Officer Stephen Lawrence, Chief Business Officer sekaligus Co-Founder Andre Chouw, serta tim Indonesia dan Thailand.
  • Where?
    Thailand, dengan AHA Commerce telah memiliki badan usaha resmi dan kantor operasional di negara tersebut.
  • When?
    Operasional marketplace sebuah brand di Thailand mulai dikelola pada September 2025. Stephen menyampaikan keterangan tertulis pada Sabtu (15/8/2026).
  • Why?
    Thailand menjadi langkah awal AHA Commerce untuk mewujudkan visi membawa pendekatan pengelolaan e-commerce ke pasar regional.
  • How?
    Perusahaan mengelola brand lokal, membagi peran tim Indonesia dan Thailand, serta memakai AI Marketing AHABOT untuk promosi, kampanye, dan diskon.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

AHA Commerce dari Indonesia membuka usaha di Thailand. Mereka membantu toko online brand lokal dan memakai sistem yang sudah dipakai di Indonesia. Tim Indonesia bekerja bersama tim Thailand. Mereka juga memakai AI untuk memilih produk, kampanye, dan diskon. Sekarang mereka punya kantor dan tim dari Thailand.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pengelolaan hybrid yang melibatkan tim Indonesia dan Thailand memberi ruang bagi sistem yang telah diuji untuk tetap disesuaikan dengan perilaku konsumen serta karakter marketplace setempat. Penggunaan AI berbasis data dan skema garansi juga membuat hasil pengelolaan dapat dievaluasi secara transparan sesuai ketentuan perusahaan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Thailand menjadi salah satu pasar yang bisa dipertimbangkan pelaku bisnis e-commerce Indonesia untuk memperluas usaha ke luar negeri. Namun, ekspansi tidak cukup hanya dengan membawa cara kerja yang sudah berjalan di Indonesia.

AHA Commerce, perusahaan pengelola e-commerce asal Indonesia yang membuka operasi di Thailand, menunjukkan sejumlah hal yang perlu disiapkan sebelum masuk ke pasar tersebut.

Chief Executive Officer AHA Commerce Stephen Lawrence mengatakan perusahaan lebih dulu membangun sistem dan cara kerja pengelolaan e-commerce selama lebih dari satu dekade di Indonesia. Sistem yang telah digunakan untuk mengelola berbagai brand tersebut kemudian dicoba diterapkan di pasar Thailand.

"Ketika sistem tersebut terbukti mampu menghasilkan pertumbuhan yang konsisten bagi brand di Indonesia, kami melihat peluang untuk membawa pendekatan yang sama ke pasar regional. Thailand menjadi langkah awal kami dalam mewujudkan visi tersebut," kata Stephen dalam keterangan tertulis, Sabtu (15/8/2026).

1. Mulai dari brand lokal

ilustrasi e-commerce (pexels.com/Mikhail Nilov)

Salah satu cara yang dilakukan saat masuk ke pasar Thailand adalah mengelola toko online milik brand lokal. Sistem dan pengalaman yang sudah digunakan di Indonesia tetap dapat menjadi acuan, tetapi penerapannya perlu disesuaikan dengan perilaku konsumen, kondisi marketplace, dan pola promosi di Thailand.

Chief Business Officer sekaligus Co-Founder AHA Commerce Andre Chouw mengatakan pembagian peran antara tim Indonesia dan Thailand menjadi bagian dari proses tersebut. Tim Indonesia menangani sistem dan memberikan pengalaman operasional, sementara tim lokal menyesuaikan pelaksanaannya dengan kondisi pasar setempat.

Sistem yang digunakan telah dibangun dan diuji selama bertahun-tahun. Namun, penerapannya di Thailand tetap mengikuti perilaku konsumen, karakter marketplace, dan kebutuhan setiap brand.

"Tentu implementasinya tetap disesuaikan dengan perilaku konsumen, karakter marketplace, serta kebutuhan masing-masing brand di Thailand. Prinsipnya sama, namun eksekusinya harus relevan dengan kondisi pasar lokal," ujar Andre.

2. Mulai dengan mengelola marketplace yang sudah berjalan

ilustrasi belanja di e-commerce (magnific.com/rawpixel.com)

Sebelum membangun operasi di Thailand, perusahaan bisa memulainya dengan mengelola marketplace brand yang sudah berjualan di negara tersebut.

Cara itu dilakukan perusahaan pada September 2025 saat mendapat tugas mengelola operasional marketplace sebuah brand yang telah hadir di Thailand. Brand tersebut mencatat kenaikan omzet sebesar 221 persen.

Pengalaman tersebut kemudian dilanjutkan dengan membangun kegiatan usaha di Thailand. Saat ini, perusahaan telah memiliki badan usaha resmi, kantor operasional, dan tim yang seluruhnya direkrut dari Thailand. Pengelolaan dilakukan secara hybrid dengan melibatkan tim lokal dan tim Indonesia.

Langkah tersebut didukung pengalaman perusahaan di Indonesia. Saat ini, lebih dari 280 brand dikelola dengan dukungan lebih dari 220 tenaga ahli. Dalam 12 bulan terakhir, jumlah pesanan yang ditangani telah mencapai lebih dari 8,1 juta dengan total omzet yang dikelola lebih dari Rp453 miliar.

3. Manfaatkan AI untuk kelola toko online

Ilustrasi manusia dan kecerdasan buatan (Igor Omilaev / Unsplash.com)

Penggunaan AI dapat menjadi salah satu cara untuk mengelola toko online di pasar Thailand. Sistem AI Marketing AHABOT yang digunakan perusahaan dikembangkan dari pengalaman mengelola ratusan toko online.

Sistem tersebut membantu menentukan produk yang dipromosikan, kampanye yang diikuti, hingga besaran diskon berdasarkan data. Sebelumnya digunakan di Indonesia, sistem yang sama kemudian diterapkan dalam kegiatan di Thailand.

Penggunaan sistem tersebut juga berkaitan dengan skema garansi yang ditawarkan kepada klien. Perusahaan menjamin kenaikan omzet minimal 20 persen dibandingkan rata-rata enam bulan sebelumnya. Dengan asumsi struktur harga pokok penjualan (HPP) yang berlaku, kenaikan omzet tersebut ditargetkan dapat meningkatkan profit klien.

Jika target kenaikan omzet tidak tercapai, klien tidak dikenakan biaya komisi. Ketentuan yang sama berlaku untuk kegiatan perusahaan di Thailand

"Kami percaya skema itu hanya bisa diberikan ketika perusahaan memiliki sistem yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan. Jadi garansi itu mencerminkan komitmen perusahaan dalam menghadirkan layanan yang berorientasi pada hasil dan dapat dievaluasi secara transparan," kata Andre.

Menurut dia, layanan tersebut tidak hanya ditujukan untuk menaikkan penjualan dalam waktu singkat, tetapi juga meningkatkan omzet dan profitabilitas brand secara berkelanjutan.

Ke depan, perusahaan akan menambah tim lokal serta menyesuaikan sistem dan layanan dengan kebutuhan pasar Thailand. Proses mencari dan mengakuisisi brand lokal Thailand yang membutuhkan bantuan mengembangkan bisnis melalui berbagai platform e-commerce juga akan dilanjutkan.

Pengalaman dan sistem yang telah digunakan di Indonesia akan menjadi dasar untuk mengelola lebih banyak brand di Thailand dan pasar Asia Tenggara lainnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article