Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Efek Ramadan, Penjualan Ritel Maret 2026 Diproyeksi Naik 9,3 Persen
Logo Bank Indonesia
  • Bank Indonesia memproyeksikan Indeks Penjualan Riil Maret 2026 naik 9,3 persen secara bulanan, didorong oleh peningkatan permintaan selama Ramadan dan Idul Fitri.
  • Kota-kota seperti Surabaya, Semarang, Banjarmasin, dan Denpasar mencatat pertumbuhan penjualan tahunan positif, sementara tekanan inflasi diperkirakan meningkat pada Mei 2026 sebelum stabil di Agustus.
  • Responden BI memperkirakan penjualan eceran akan terus naik dalam tiga hingga enam bulan ke depan, seiring meningkatnya aktivitas masyarakat pada berbagai hari besar nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) memperkirakan Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Maret 2026 mencapai 254,2. Secara tahunan (year-on-year/yoy), IPR diperkirakan tumbuh sebesar 2,4 persen. Namun, kinerjanya lebih rendah dari periode yang sama sebelumnya yang tumbuh 6,5 persen (yoy).

"Sementara itu, secara bulanan, IPR Maret 2026 diperkirakan melanjutkan tren peningkatan dengan pertumbuhan mencapai 9,3 persen (mtm), setelah sebelumnya tumbuh 4,1 persen (mtm) pada Februari 2026," kata Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangannya, Senin (13/4/2026).

1. Faktor Ramadan jadi penopang utama kinerja penjualan eceran Maret

ilustrasi perempuan belanja bahan makanan (pexels.com/Gustavo Fring)

Dia menjelaskan, kinerja penjualan eceran tersebut terutama ditopang oleh pertumbuhan penjualan kelompok suku cadang dan aksesori, makanan, minuman, dan tembakau, serta barang budaya dan rekreasi.

"Mayoritas kelompok mencatatkan peningkatan dan mendorong kinerja penjualan eceran terutama pada Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi, Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, dan Subkelompok Sandang dengan pertumbuhan masing-masing sebesar 8,1 persen (mtm), 6,4 persen (mtm); 18,6 persen (mtm) meningkat dari periode sebelumnya masing-masing sebesar-5,2 persen (mtm); -3,8 persen (mtm); 6,1 persen (mtm) sejalan dengan peningkatan permintaan saat Ramadan dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri 1447 H," ujar Denny.

2. Tekanan inflasi pada tiga bulan mendatang akan naik

Belanja (pexels.com/@gustavo-frin)

Denny menyebut kinerja penjualan eceran diperkirakan tetap tumbuh di beberapa kota dalam cakupan survei. Secara tahunan, beberapa kota yang tercatat tumbuh yaitu

  • Surabaya dengan indeks sebesar 525,2, tumbuh sebesar 13,6 persen (yoy); Semarang (termasuk Purwokerto) dengan indeks sebesar 113,7, tumbuh 8,7 persen (yoy)

  • Banjarmasin dengan indeks sebesar 121,2, tumbuh 8,2 persen(yoy)

  • Denpasar dengan indeks sebesar 123,8 tumbuh 5,1 persen (yoy).

Selanjutnya, secara bulanan, peningkatan IPR utamanya didorong oleh kinerja penjualan pada sebagian besar kota cakupan, khususnya Manado (14,4 persen, mtm); Jakarta (5,3 persen, mtm); Bandung (12,5 persen, mtm), dan Surabaya (8,4 persen, mtm).

Dari sisi harga, tekanan inflasi tiga bulan yang akan datang, yaitu Mei 2026, diperkirakan meningkat, sementara pada enam bulan yang akan datang, yaitu Agustus 2026, diperkirakan relatif stabil. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Mei 2026 sebesar 157,4, lebih tinggi dibandingkan dengan IEH April 2026 sebesar 153,9, seiring kenaikan harga bahan baku. Sementara itu, IEH Agustus 2026 diprakirakan sebesar 157,2, relatif stabil dibandingkan dengan IEH pada Juli 2026 sebesar 157,1.

3. Penjualan eceran dalam waktu 3 hingga 6 bulan mendatang bakal naik

ilustrasi orang belanja sayuran (pixabay.com/TungArt7)

Bank Indonesia menyebut responden memperkirakan penjualan eceran pada tiga dan enam bulan yang akan datang meningkat. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) Mei dan Agustus 2026 tercatat sebesar 147,2 dan 162,4, lebih tinggi dari 146,7 dan 149,1 pada April dan Juli 2026.

"Peningkatan IEP Mei 2026 didorong oleh meningkatnya kegiatan masyarakat pada sejumlah HBKN (Idul Adha, Kenaikan Yesus Kristus, dan Waisak), sementara peningkatan IEP Agustus 2026 didorong oleh event Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) maupun tahun ajaran baru," kata Denny.

4. Indeks penjualan eceran Februari naik 6,5 persen

ilustrasi pertumbuhan ekonomi (unsplash.com/Mathieu Stern)

Sementara itu, pada Februari 2026, Indeks Penjualan Riil (PR) secara tahunan tumbuh sebesar 6,5 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan IPR Januari 2026 sebesar 5,7 persen (yoy). Secara bulanan, IPR pada Februari 2026 tercatat meningkat dari sebelumnya terkontraksi 2,7 persen (mtm) pada Januari 2026 menjadi tumbuh 4,1 persen (mtm) pada Februari 2026.

Pertumbuhan tersebut didukung oleh peningkatan penjualan pada mayoritas kelompok, terutama Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, dan Subkelompok Sandang. Secara bulanan, penjualan eceran pada Februari 2026 tumbuh sebesar 4,1 persen (mtm), meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang berada pada fase kontraksi sebesar 2,7 persen (mtm).

"Peningkatan tersebut didukung oleh kinerja penjualan Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, serta Subkelompok Sandang sejalan dengan kenaikan permintaan masyarakat pada periode Ramadan," ujar Denny.

Denny menjelaskan hasil penjualan eceran Februari 2026 mengindikasikan kinerja penjualan eceran meningkat dibandingkan periode Januari 2026.

Editorial Team