Ilustrasi obligasi (IDN Times/Aditya Pratama)
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan, kondisi likuiditas di pasar China yang sedang melimpah menjadi faktor utama yang mendorong tingginya permintaan obligasi berdenominasi yuan tersebut.
Menurut dia, indikasi tersebut terlihat dari besarnya minat investor pada tenor lima tahun. Apabila investor khawatir terhadap risiko Indonesia, mereka cenderung memilih obligasi berjangka pendek untuk meminimalkan eksposur.
"Kalau faktor utamanya adalah kekhawatiran terhadap risiko Indonesia, investor biasanya akan lebih memilih tenor pendek karena memiliki eksposur risiko yang lebih rendah. Namun, permintaan yang lebih besar pada tenor panjang menunjukkan sebagian investor sedang memburu imbal hasil dan durasi, terutama karena pasar memperkirakan suku bunga masih memiliki ruang untuk turun," ujar dia saat dihubungi, Sabtu (25/7/2026).