Jakarta, IDN Times – Ekonom menilai keberhasilan pemerintah menerbitkan Panda Bond yang mengalami kelebihan permintaan (oversubscribe) hingga 2,4 kali tidak semata-mata mencerminkan kuatnya fundamental ekonomi Indonesia. Likuiditas yang melimpah di pasar keuangan China juga dinilai menjadi faktor penting yang mendorong tingginya minat investor terhadap surat utang tersebut.
Chief Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Irman Faiz, mengatakan tingginya permintaan terhadap Panda Bond merupakan kombinasi antara kepercayaan investor terhadap kualitas kredit Indonesia dan kondisi likuiditas di pasar obligasi China yang sedang kondusif.
"Oversubscription Panda Bond sebesar 2,4 kali mencerminkan kombinasi antara kepercayaan investor terhadap kualitas kredit Indonesia dan kondisi likuiditas pasar China yang sedang sangat mendukung. Jadi, tidak tepat jika tingginya permintaan hanya dikaitkan dengan imbal hasil ataupun semata-mata dianggap sebagai bukti kuatnya fundamental Indonesia," ujar Irman saat dihubungi, Jumat (24/7/2026).
Pemerintah menerbitkan Surat Utang Negara (SUN) berdenominasi renminbi (CNY) atau Panda Bond di pasar obligasi China pada Kamis (23/7/2026). Nilai penerbitannya mencapai CNY 7 miliar atau setara sekitar US$ 1,033 miliar sebagai bagian dari strategi diversifikasi sumber pembiayaan negara.
Penerbitan tersebut terdiri atas dua seri. Seri pertama bertenor tiga tahun dengan nilai CNY 5,6 miliar menawarkan imbal hasil (yield) sebesar 1,9 persen. Sementara itu, seri kedua bertenor lima tahun senilai CNY 1,4 miliar menawarkan yield sebesar 2,19 persen.
Penerbitan perdana Panda Bond Indonesia mendapat sambutan positif dari investor. Total permintaan mencapai CNY 17 miliar atau sekitar 2,4 kali dari nilai penerbitan sebesar CNY 7 miliar.
