Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi pertanian (Pexels.com/Heru Dharma)
  • SIUMA menggabungkan mikrohidro dan panel surya untuk mengairi 10,26 hektare sawah, mengoperasikan mesin, serta menerangi kawasan pertanian yang melibatkan 185 petani.
  • Sensor kelembapan tanah membantu pengairan lebih terarah, sementara traktor listrik dan mesin giling padi berkapasitas 200 kilogram per jam mengurangi ketergantungan diesel serta meningkatkan nilai panen.
  • Energi SIUMA juga mendukung 43 lampu otomatis di jalur joging 2,4 kilometer; usaha pertanian dan pariwisata menghasilkan pendapatan lebih dari Rp585 juta per tahun.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pemanfaatan energi terbarukan tidak hanya berkaitan dengan upaya mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Di sektor pertanian, teknologi ini juga bisa dimanfaatkan untuk menekan biaya operasional, meningkatkan efisiensi pengelolaan lahan, hingga membuka peluang usaha baru bagi masyarakat. Salah satu contohnya terlihat di kawasan Subak Sembung, Denpasar Utara, Bali. Petani setempat memanfaatkan energi surya dan mikrohidro melalui Sistem Suplai Energi Manajemen Irigasi Uma Palak (SIUMA) untuk mendukung kegiatan pertanian dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Sistem tersebut mengintegrasikan kincir air atau mikrohidro dengan panel surya untuk menyediakan energi bagi lahan pertanian seluas 10,26 hektare. Pemanfaatannya mencakup pengairan sawah, pengoperasian mesin pertanian, hingga penerangan kawasan. Saat ini, aktivitas pertanian di kawasan tersebut melibatkan 185 petani dan memberikan dampak ekonomi langsung kepada lebih dari 400 warga sekitar.

Melalui pengembangan usaha pertanian dan pariwisata, kelompok tani setempat mencatatkan pendapatan lebih dari Rp585 juta per tahun. Berikut tiga cara pemanfaatan energi terbarukan dapat mendukung produktivitas dan pendapatan petani di Subak Sembung.

1. Menghemat penggunaan energi untuk pengairan dan pengolahan lahan

ilustrasi pertanian (Pexels.com/Jeffry Surianto)

Salah satu tantangan petani adalah menjaga ketersediaan air, terutama ketika musim kemarau. Sebelum menggunakan SIUMA, petani di kawasan Subak Sembung kerap mengalami keterbatasan pasokan air untuk mengairi sawah. Kini, sistem tersebut dilengkapi sensor kelembapan tanah yang membantu petani mengetahui bagian lahan yang membutuhkan air. Dengan begitu, pengairan dapat dilakukan lebih terarah dan penggunaan air tidak berlebihan.

Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Uma Palak Lestari, Wayan Sukadana (47), mengatakan teknologi tersebut membantu petani mengelola kebutuhan air secara lebih efisien. Pemanfaatan energi terbarukan juga mulai diterapkan pada mesin pertanian. Jika sebelumnya petani menggunakan traktor diesel untuk mengolah lahan, kini mereka mulai memanfaatkan traktor listrik berbaterai yang dapat diisi ulang menggunakan energi surya dan mikrohidro. Penggunaan mesin listrik tersebut dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar diesel. Selain itu, petani bisa memanfaatkan pasokan energi yang tersedia di kawasan pertanian untuk mengisi daya mesin.

2. Mengolah hasil panen untuk meningkatkan nilai tambah produk

energi surya dan mikrohidro membantu petani Subak Sembung menekan biaya operasional (Dok. Pertamina)

Peluang ekonomi berikutnya muncul dari pemanfaatan energi untuk kegiatan pascapanen. Selama ini, nilai ekonomi hasil pertanian tidak hanya ditentukan oleh proses budidaya, tetapi juga bagaimana produk diolah sebelum dipasarkan. Dalam rangkaian kunjungan delegasi ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE) pada 29 Oktober 2026, Pertamina menyerahkan mesin giling padi elektrik kepada kelompok tani di Uma Palak Lestari. Mesin tersebut memiliki kapasitas pengolahan hingga 200 kilogram padi per jam. Kehadirannya diharapkan membantu petani mengolah hasil panen menjadi beras secara lebih efisien.

Salah satu komoditas yang dikembangkan kelompok tani setempat adalah beras Mentik Susu yang dipasarkan sebagai produk premium. Dengan mengelola proses penggilingan, kelompok tani memiliki peluang untuk menghasilkan produk siap jual dan memperoleh nilai tambah dari hasil panen. Artinya, aktivitas ekonomi petani tidak hanya berhenti pada produksi gabah, tetapi juga mencakup pengolahan produk sebelum sampai ke konsumen.

3. Mengembangkan pariwisata untuk membuka sumber pendapatan baru

ilustrasi pertanian (Pexels.com/Ari Setiawan)

Selain pertanian, kawasan Subak Sembung juga dikembangkan sebagai ruang aktivitas masyarakat dan destinasi wisata. Potensi persawahan dimanfaatkan untuk menarik pengunjung sekaligus membuka peluang pendapatan tambahan bagi warga. Kawasan tersebut memiliki jalur joging sepanjang 2,4 kilometer yang membentang di antara area persawahan. Untuk mendukung aktivitas masyarakat hingga malam hari, sebanyak 43 titik lampu penerangan otomatis telah dipasang dengan memanfaatkan energi dari SIUMA.

Pengunjung dapat berjalan santai, berolahraga, hingga membeli sayuran langsung dari petani. Aktivitas ini membuka kesempatan bagi kelompok tani untuk memperoleh pendapatan di luar kegiatan produksi pertanian. Saat ini, pengembangan usaha pertanian dan pariwisata di kawasan tersebut menghasilkan pendapatan lebih dari Rp585 juta per tahun bagi KUB bersama petani lokal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article