Harga batu bara melonjak tajam pada awal pekan ini akibat gangguan besar pada infrastruktur energi di Timur Tengah. Serangan pesawat tanpa awak atau drone memaksa Qatar untuk menghentikan operasional di Ras Laffan, yang merupakan fasilitas ekspor gas alam cair (LNG) terbesar di dunia. Fasilitas ini menyumbang sekitar 20 persen dari total pasokan gas dunia dan baru kali ini ditutup sepenuhnya dalam 30 tahun sejarah operasionalnya. Kondisi ini menyebabkan lubang besar dalam pasokan energi global yang sulit ditutupi oleh negara produsen lain dalam waktu singkat.
Krisis ini semakin buruk setelah jalur perdagangan laut yang sangat penting, yaitu Selat Hormuz, ditutup akibat aksi militer. Penutupan ini memutus rantai pasokan energi ke berbagai negara di Asia dan Eropa, karena Selat Hormuz adalah jalur utama bagi kapal tanker yang membawa hampir sepertiga perdagangan minyak dunia.
Di saat yang sama, para produsen minyak di kawasan Teluk secara mendadak memangkas produksi mereka karena alasan keamanan. Hal ini menyebabkan harga minyak mentah dunia jenis Brent melambung hingga mendekati angka 120 dolar AS (Rp2 juta) per barel.
Pasar saat ini merasa khawatir karena tidak ada cadangan energi yang cukup untuk menggantikan gas dari Qatar dengan cepat. Ketidakpastian mengenai kapan Selat Hormuz akan dibuka kembali memicu spekulasi harga yang liar.
Di Eropa, harga gas alam bahkan sempat naik hingga 30 persen dalam satu hari. Kondisi ini menciptakan efek domino yang merambat ke pasar batu bara, karena banyak negara terpaksa beralih kembali ke bahan bakar konvensional yang lebih mudah didapat dan disimpan untuk menjaga ketahanan energi mereka.