Harta 50 Orang Terkaya RI Rp4.651 Triliun, Setara Milik 55 Juta Rakyat!

- Studi Celios 2026 mengungkap kekayaan 50 orang terkaya Indonesia mencapai Rp4.651 triliun, setara dengan harta 55 juta rakyat, menyoroti ketimpangan ekonomi yang makin tajam.
- Sektor energi dan ekstraktif menyumbang hampir 58 persen kekayaan para super kaya, dengan keluarga Hartono tetap di puncak daftar orang terkaya Indonesia.
- Celios memprediksi tanpa perubahan struktural, pada 2050 kekayaan 50 orang terkaya bisa setara dengan milik 111 juta penduduk, memperlebar jurang kesenjangan sosial-ekonomi.
Jakarta, IDN Times - Center of Economic and Law Studies (Celios) baru saja menerbitkan studi berjudul "Republik Oligarki Ketimpangan Ekonomi Indonesia" 2026. Salah satu temuan menarik dalam studi tersebut adalah fakta bawah kekayaan 50 orang terkaya di Indonesia setara dengan kekayaan 55 juta rakyat Indonesia.
Dalam studi tersebut, Celios menyatakan ketimpangan di Indonesia semakin terlihat jelas. Kekayaan dan akses sumber daya banyak dikuasai oleh segelintir orang, sementara sebagian besar masyarakat harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan sulit meningkatkan taraf hidupnya.
Berdasarkan data Forbes terkait 50 orang terkaya di Indonesia yang diolah Celios, dalam periode 2019–2025 kekayaan 50 orang terkaya di Indonesia meningkat hampir dua kali lipat, dari sekitar Rp2.508 triliun menjadi Rp4.651 triliun.
"Kekayaan beberapa orang super kaya bisa bertambah ribuan triliun hanya dalam waktu singkat. Hal ini memunculkan pertanyaan sederhana soal bagaimana mekanisme redistribusi ekonomi Indonesia dan siapa yang paling diuntungkan dari pertumbuhan ekonomi," tulis Celios dalam studinya, dikutip Selasa (21/4/2026).
1. Harta 50 orang terkaya RI berasal dari sektor energi dan ekstraktif

Pada periode 2019 hingga 2022, kontribusi sektor energi dan ekstraktif terhadap total kekayaan berada di angka 39-46 persen. Hingga pada 2026, proporsi harta 50 orang super kaya yang berasal dari sektor ekstraktif melonjak mencapai 57,8 persen.
"Artinya, para oligarki terus menumpuk kekayaan dari keuntungan besar, di mana lebih dari separuh kekayaan kelompok superkaya Indonesia berasal dari aktivitas eksploitasi sumber daya alam seperti batu bara, sawit, dan nikel," sebut Celios.
2. Sosok orang paling kaya di Indonesia

Celios menyebutkan, peringkat orang terkaya di Indonesia masih ditempati oleh Keluarga Hartono dengan kekayaan sebesar Rp650 triliun. Sementara Prajogo Pangestu menempati posisi kedua dengan kekayaan Rp483 triliun.
Selanjutnya disusul keluarga Widjaja (Rp478 triliun), Low Tuck Kwong (Rp341 triliun), Anthony Salim (Rp221 triliun), dan keluarga Tahir (Rp179 triliun).
Sementara itu, berdasarkan laju pertumbuhan rata-rata tahunan atau Compound Annual Growth Rate (CAGR), kekayaan Haryanto Tjiptodihardjo tumbuh paling cepat hingga mencapai 71 persen. Kemudian disusul Marina Budiman dengan peningkatan kekayaan 47,9 Persen, dan Lim Hariyanto Wijaya Sarwono meningkat sebesar 42,2 persen.
"34 persen kekayaan 50 super kaya di Indonesia berasal dari sektor energi dan ekstraktif. Selain kekayaan mereka yang bersumber dari aktivitas yang mengeksploitasi sumber daya alam, gaya hidup mereka juga sarat akan kerusakan lingkungan," sebut Celios.
Celios menuliskan, 57 jet pribadi milik super kaya Indonesia menghasilkan 46.170 ton CO₂e per tahun, setara dengan emisi 7.825 mobil dan 51.993 motor.
"Para oligarki ini menjadi penyumbang utama kerusakan lingkungan dan krisis iklim di Indonesia," tulis Celios.
3. Kekayaan 50 orang super kaya bakal setara dengan 111 juta penduduk RI

Dalam studinya, Celios juga menyatakan bahwa 50 orang terkaya Indonesia yang secara statistik sebesar 0,000000174 persen dari populasi menguasai kekayaan milik 18,6 persen rakyat Indonesia.
Selain itu, tanpa perubahan struktur ekonomi dan politik pada 2050, 50 orang terkaya di Indonesia akan memiliki kekayaan setara dengan 111 juta penduduk Indonesia. Fakta lainnya yang disampaikan Celios dalam studi terbarunya adalah kekayaan 50 super kaya RI bertambah Rp9,36 juta tiap detik, Rp13,48 miliar per hari, dan Rp4,92 triliun setiap tahun.
Di sisi lain, rerata upah buruh di Indonesia sangat jauh dari dengan hanya meningkat Rp1,47 per detik, Rp2.113 per hari, dan Rp760.728 setiap tahun.


















