Selat Hormuz (MODIS Land Rapid Response Team, NASA GSFC, Public Domain, via Wikimedia Commons)
Eskalasi konflik antara Tehran dan Washington juga merembet ke jalur pelayaran strategis Selat Hormuz yang menjadi urat nadi perdagangan migas dunia. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memicu kontroversi setelah mengunggah gambar peta yang mengklaim perairan Selat Hormuz sebagai wilayah baru Amerika Serikat di platform Truth Social. Langkah provokatif tersebut langsung direspons keras oleh pejabat tinggi keamanan nasional Iran yang menolak mentah-mentah klaim kedaulatan tersebut.
Sekretaris Dewan Tertinggi Keamanan Nasional Iran, Mohsen Rezaei, mengkritik tajam klaim sepihak yang disampaikan oleh pihak Amerika Serikat. "Jarak antara ketidakmampuan Amerika Serikat untuk membuka kembali Selat Hormuz dan klaim kepemilikannya lebih besar daripada jarak 7.000 mil antara Washington dan Selat itu sendiri," tegas Rezaei. Rezaei juga menyindir retorika Washington dengan menambahkan, "Selamat datang di tatanan pasca-Amerika di Teluk Persia."
Di sisi lain, Sekretaris Kementerian Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, bersiap mengumumkan paket sanksi ekonomi paling ketat dalam sejarah untuk menekan sektor minyak Iran. Rezaei memperingatkan negara-negara tetangga di kawasan Teluk agar tidak terlibat dalam perang ekonomi yang dilancarkan Washington. Ia menegaskan bahwa negara mana pun yang membantu blokade Amerika Serikat akan dianggap sebagai musuh oleh Tehran.