Irwan Hidayat Ungkap Dampak Perang Timur Tengah ke SIDO

- Konflik AS-Israel dan Iran memicu gejolak ekonomi global, menekan pasokan BBM serta berdampak pada impor kemasan PT Sido Muncul yang bergantung pada dolar AS.
- SIDO mengantisipasi kenaikan harga bahan baku pertanian dan menerapkan efisiensi, termasuk memangkas waktu persediaan dari tiga bulan menjadi 21 hari untuk menjaga stabilitas keuangan.
- Perusahaan tetap menyiapkan ekspansi pasar ekspor secara selektif dengan fokus membuka kantor pemasaran di China dan India tanpa membangun pabrik baru.
Jakarta, IDN Times - Memanasnya konflik di Timur Tengah yang dipicu serangan Amerika Serikat (AS)-Israel ke Iran menyebabkan gejolak ekonomi dunia.
Keputusan Iran menutup Selat Hormuz menyebabkan ketidakseimbangan di sektor logistik, serta pasokan dan harga BBM.
Beberapa negara berpotensi mengalami krisis BBM, seperti Vietnam hingga Australia. Bahkan, Filipina telah mendeklarasikan darurat energi.
PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) membeberkan bagaimana dampak konflik tersebut ke perusahaan.
Direktur SIDO, Irwan Hidayat, mengatakan perusahaan menghadapi tantangan dalam impor kemasan atau packaging.
“Kita ini yang terdampak mungkin packaging. Packaging itu kan impor, belinya pakai dolar AS,” kata Irwan dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (26/3/2026).
1. Kenaikan harga bahan baku

Di sisi lain, perusahaan juga mengantisipasi kenaikan harga bahan baku hasil pertanian dalam negeri.
“Kalau petani, ya, pasti ada kenaikan,” ujar Irwan.
2. Lakukan efisiensi

Untuk menghadapi berbagai kondisi itu, perusahaan telah menyiapkan langkah efisiensi demi menjaga kinerja keuangan. Salah satunya dengan efisiensi di inventarisasi.
“Nanti kurangin dengan cara efisiensi. Efisiensi di inventory. Tadi tuh inventory-nya bisanya 3 bulan karena punya uang. Ya, sekarang kita jadiin 21 hari,” kata Irwan.
3. Selektif dalam rencana perluasan pasar ekspor

Sido Muncul sebagai pemimpin dalam industri jamu Tanah Air telah berhasil memasarkan produknya ke beberapa negara, seperti Malaysia, Singapura, Brunei, Australia, Korea Selatan, Nigeria, Aljazair, Hong Kong, Amerika Serikat, Arab Saudi, Mongolia dan Rusia.
Saat ini, perusahaan telah menyiapkan beberapa langkah ke depan yang akan dilakukan, salah satunya memperluas pasar ekspor.
Namun, di tengah konflik geopolitik yang terjadi, perusahaan menyusun ulang rencana ekspansi. Akan tetapi, ada dua negara yang tengah disasar perusahaan untuk membuka kantor permasaran atau marketing di China dan India.
“Yang kami lakukan efisiensi, terus negara yang kami pilih, nanti kami tidak akan buat pabrik, tapi akan kami buat kantor marketing, marketing office,” ucap Irwan.

















