Kerugian WIKA Melonjak hingga 328 Persen, Kekayaan Menyusut Rp10 T!

- WIKA mencatat kerugian Rp9,71 triliun pada 2025, melonjak 328 persen dibanding tahun sebelumnya akibat penurunan pendapatan bersih hingga 30,75 persen.
- Perusahaan memperoleh kontrak baru Rp17,46 triliun dan meningkatkan gross profit margin menjadi 8,5 persen berkat kinerja sektor infrastruktur, gedung, dan EPCC.
- Meskipun berhasil menekan utang dan liabilitas, ekuitas WIKA anjlok 85,8 persen menjadi Rp1,68 triliun dengan penyusutan aset hingga Rp50,15 triliun.
Jakarta, IDN Times - PT Wijaya Karya (Persero) Tbk membukukan kerugian hingga Rp9,71 triliun berdasarkan laporan keuangan tahun 2025.
Kerugian WIKA membengkak hingga 328,31 triliun dibandingkan 2024 yang hanya Rp2,27 triliun.
Pembengkakan kerugian perusahaan seiringan dengan pendapatan bersih yang turun 30,75 persen. Pada 2024, perusahaan membukukan pendapatan bersih Rp19,24 triliun, dan di 2025 hanya Rp13,32 triliun.
1. WIKA bukukan kontrak baru Rp17,46 triliun

Di sisi lain, sepanjang 2025, perseroan membukukan kontrak baru sebesar Rp17,46 triliun, yang berkontribusi pada total kontrak berjalan sebesar Rp50,52 triliun.
Atas kontrak berjalan tersebut, WIKA mencatatkan penjualan sebesar Rp20,45 triliun, terdiri dari Penjualan non Kerja Sama Operasi (KSO) sebesar Rp13,33 triliun, dan Penjualan KSO sebesar Rp7,12 triliun, sehingga Perseroan membukukan laba kotor (gross profit) sebesar Rp1,13 triliun.
Gross Profit Margin (GPM) WIKA meningkat dari 7,9 persen di 2024, menjadi 8,5 persen di 2025. Peningkatan margin tersebut terutama berasal dari core business Perseroan yaitu infrastruktur & gedung dan EPCC.
2. Utang perusahaan berhasil diturunkan

WIKA berhasil menurunkan beban keuangan dari Rp3,28 triliun pada 2024, turun 9,59 persen menjadi Rp2,97 triliun pada 2025. Liabilitas perusahaan pada 2025 juga turun 6,07 persen, dari Rp51,59 triliun pada 2024, menjadi hanya Rp48,46 triliun pada 2025.
WIKA juga mencatatkan penurunan pada utang usaha sebesar Rp1,79 triliun, dan utang berbunga sebesar Rp2,08 triliun, atau menurun 29,5 persen dan 5,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain mengupayakan operation excellence dan perbaikan struktur permodalan, perseroan melalui delapan langkah stream penyehatan keuangan juga terus mengupayakan percepatan penyelesaian piutang baik melalui mediasi hukum maupun upaya penagihan. Perusahaan menurunkan nilai piutang sebesar Rp1,89 triliun atau sebesar 29,2 persen menjadi Rp4,58 triliun, dan nilai pekerjaan dalam proses konstruksi sebesar Rp1,15 triliun atau sebesar 34,6 persen di 2025.
Corporate Secretary WIKA, Ngatemin atau yang akrab disapa Emin menyampaikan, perseroan terus berupaya meningkatkan kinerja operasi dan melakukan perbaikan struktur permodalan.
“Di tahun ini perseroan akan terus berupaya melakukan restrukturisasi komprehensif untuk menurunkan beban keuangan atas penugasan yang dikerjakan dan divestasi atas aset yang belum dapat memberikan laba bagi Perseroan,” ujar Emin.
3. Kekayaan perusahaan menyusut Rp10,19 triliun

Meski begitu, pada 2025 ekuitas perusahaan menyusut hingga 85,8 persen atau Rp10,19 triliun, dari Rp11,87 triliun pada 2024, menjadi hanya Rp1,68 triliun tahun lalu.
Aset perusahaan juga menyusut 20,98 persen, dari Rp63,47 triliun pada 2024, menjadi hanya Rp50,15 triliun pada 2025.


















