Saudi Aramco Bukukan Laba Rp658,02 Triliun selama Kuartal III 2026

Saudi Aramco membukukan laba bersih US$36,3 miliar pada kuartal III 2026, naik 34,6 persen secara tahunan, didorong harga minyak lebih tinggi dan divestasi aset.
Pendapatan naik 26 persen menjadi US$140,5 miliar; laba hilir melonjak 234 persen berkat margin penyulingan, sementara EBIT hulu turun akibat volume penjualan dan royalti.
Arus kas bebas meningkat 19,7 persen menjadi US$28,2 miliar. Aramco menyatakan serangan fasilitas tidak diperkirakan berdampak material hingga 30 September 2026.
Jakarta, IDN Times - Perusahaan minyak Arab Saudi, Saudi Aramco, membukukan laba bersih sebesar 36,3 miliar dolar AS (setara Rp658,02 triliun) pada kuartal III 2026. Angka tersebut meningkat 34,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 26,9 miliar dolar AS (setara Rp487,63 triliun).
Kenaikan laba didukung oleh harga minyak yang lebih tinggi dan keuntungan dari divestasi aset di tengah gangguan pasokan energi global akibat ketegangan geopolitik dan serangan terhadap infrastruktur energi.
1. Pendapatan Saudi Aramco naik 26 persen

ilustrasi tanker minyak (unsplash.com/Fredrick F.) Dilansir Gulf Business pada Selasa (3/11/2026), pendapatan dan pemasukan lain dari penjualan Saudi Aramco mencapai 140,5 miliar dolar AS (setara Rp2.546,90 triliun) pada kuartal III 2026. Jumlah tersebut meningkat 26 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 111,5 miliar dolar AS (setara Rp2.021,20 triliun).
Sementara itu, laba bersih yang telah disesuaikan naik 9,2 persen menjadi 31,2 miliar dolar AS (setara Rp565,57 triliun), dari 28,6 miliar dolar AS (setara Rp518,44 triliun) pada kuartal III 2025. Akan tetapi, angka tersebut mengalami penurunan apabila dibandingkan kuartal II 2026 yang mencapai 33,4 miliar dolar AS (setara Rp605,45 triliun).
2. Laba industri hilir melonjak 234 persen

ilustrasi kilang minyak (unsplash.com/Kamekichi Photos) Industri hilir Aramco mencatat peningkatan laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) yang telah disesuaikan sebesar 234 persen menjadi 10,3 miliar dolar AS (setara Rp186,71 triliun). Pada periode yang sama tahun sebelumnya, angkanya tercatat sebesar 3,1 miliar dolar AS (setara Rp56,20 triliun). Peningkatan tersebut terutama didukung oleh penguatan margin penyulingan minyak.
Sebaliknya, EBIT setelah disesuaikan di industri hulu turun dari 51,5 miliar dolar AS (setara 933,56 triliun) menjadi 46,8 miliar dolar AS (setara Rp848,36 triliun). Penurunan tersebut mencerminkan berkurangnya volume penjualan minyak mentah dan meningkatnya royalti produksi, kendati sebagian dampak diimbangi oleh harga minyak yang lebih tinggi.
Harga rata-rata minyak mentah yang direalisasikan Aramco mencapai 95,2 dolar AS (setara Rp1,73 juta) per barel, naik dari 70,1 dolar AS (setara Rp1,27 juta) pada kuartal III 2025. Akan tetapi, angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 108,1 dolar AS (setara Rp1,96 juta) per barel.
3. Aramco catat arus kas bebas Rp511,19 triliun

Asap mengepul dari pipa minyak Timur-Barat. (commons.wikimedia.org/European Union/Copernicus Sentinel) Aramco menghasilkan arus kas operasional sebesar 38,7 miliar dolar AS (setara Rp701,53 triliun) pada kuartal III 2026, meningkat dari 36,1 miliar dolar AS (setara Rp654,40 triliun) pada periode yang sama tahun sebelumnya. Arus kas bebas juga naik 19,7 persen menjadi 28,2 miliar dolar AS (setara Rp511,19 triliun), dari 23,6 miliar dolar AS (setara Rp427,81 triliun).
Di sisi lain, belanja modal perusahaan turun menjadi 10,5 miliar dolar AS (setara Rp190,34 triliun) dari 12,6 miliar dolar AS (setara Rp228,40 triliun) pada kuartal III 2025. Dewan direksi Aramco juga menetapkan pembagian dividen dasar sebesar 21,9 miliar dolar AS (setara Rp396,99 triliun) untuk kuartal tersebut, naik 3,5 persen secara tahunan. Pembayarannya dijadwalkan berlangsung pada kuartal IV 2026.
Presiden sekaligus CEO Saudi Aramco, Amin H. Nasser, mengatakan bahwa ketidakpastian geopolitik dan serangan terhadap fasilitas energi utama terus memperburuk krisis pasokan energi global. Kendati demikian, ia menyebut perusahaan tetap mampu memasok kebutuhan pelanggan melalui jaringan distribusi dan operasionalnya.
Aramco juga melaporkan sejumlah fasilitas milik perusahaan dan afiliasinya di Arab Saudi menjadi sasaran serangan selama kuartal III 2026 dan setelahnya. Hingga 30 September 2026, perusahaan memperkirakan dampaknya tidak akan material terhadap posisi keuangan, hasil operasional, maupun arus kas.




















