Target Stok Minyak 60 Hari, Crude Storage Bakal Dibangun di Sumatra

Pemerintah berencana membangun crude storage di sejumlah wilayah Sumatra dengan target kapasitas stok minyak hingga 60 hari.
Studi kelayakan telah selesai, sementara peninjauan calon lokasi dijadwalkan mulai akhir 2026 dengan mempertimbangkan keselamatan dan risiko bencana.
Pemerintah juga menyiapkan bioetanol E20 hingga E50 serta memastikan program biodiesel B50 tetap berjalan.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah berencana membangun fasilitas penyimpanan minyak mentah (crude storage) di sejumlah wilayah Sumatra. Fasilitas itu ditargetkan mampu menampung stok minyak hingga 60 hari untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan pembangunan fasilitas penyimpanan tersebut ditujukan untuk menambah kapasitas tampung minyak sekaligus memberi keleluasaan dalam mengelola pasokan minyak nasional.
"Kami akan membangun beberapa storage di wilayah Sumatra untuk ketika kita melakukan impor crude. Target kita bisa sampai dengan 60 hari," kata Bahlil, dikutip dari keterangan tertulis, Rabu (4/11/2026).
1. Studi kelayakan crude storage sudah rampung

Kilang minyak PT Pertamina. /Foto: Dok. Pertamina Pria yang juga menjabat sebagai Menteri Koordinator (Menko) Hilirisasi dan Transisi Energi itu mengatakan studi kelayakan atau feasibility study (FS) pembangunan fasilitas penyimpanan minyak tersebut telah selesai. Pemerintah akan mulai meninjau sejumlah calon lokasi pada akhir 2026.
Penentuan lokasi tidak hanya mempertimbangkan kebutuhan teknis, tetapi juga faktor keselamatan dan potensi bencana. Pemerintah ingin memastikan fasilitas penyimpanan minyak tidak dibangun di kawasan yang memiliki risiko bencana besar.
"Salah satu di antaranya adalah kami rancang agar jangan sampai kondisi di mana meletakkan storage itu punya peluang atau potensi besar untuk jadi bencana. Itu kan menyangkut keselamatan," ujar Bahlil.
2. Bioetanol E20 hingga E50 disiapkan bertahap

ilustrasi etanol (pexels.com/ThamKC) Selain pembangunan tempat penyimpanan minyak, pemerintah juga menyiapkan pengembangan bioetanol sebagai bagian dari diversifikasi energi. Pemerintah telah menyusun rencana strategis pengembangan bioetanol secara bertahap, mulai dari E20 hingga E50.
Pelaksanaannya akan melibatkan Kementerian ESDM dan Kementerian Pertanian (Kementan). Kerja sama kedua kementerian diperlukan karena pengembangan bioetanol membutuhkan kesiapan bahan baku dari sektor pertanian.
"E20 sampai dengan E50 dan kami sudah menyiapkan renstranya. Saya dengan Pak Mentan, karena hulunya itu adalah kolaborasi antara Pak Mentan dengan ESDM," ujar Bahlil.
3. Program biodiesel B50 tetap berlanjut

PT Pertamina Patra Niaga mulai melakukan lifting atau pengiriman perdana Biosolar 50 (B50) sebagai bagian dari implementasi program mandatori B50. (Dok/Istimewa). Sementara itu, pemerintah memastikan program mandatori biodiesel B50 tetap berjalan. Itu menjadi salah satu kebijakan untuk meningkatkan penggunaan energi berbasis sumber daya dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil.
Dengan demikian, pemerintah tengah menyiapkan tiga langkah di sektor energi, yakni pembangunan fasilitas penyimpanan minyak mentah, pengembangan bioetanol dari E20 hingga E50, serta kelanjutan program biodiesel B50.




















