Vietnam Tancap Gas, PDB per Kapita Diproyeksi Lampaui Indonesia

IMF memproyeksikan PDB per kapita Vietnam mencapai 5.259 dolar AS pada 2026, melampaui Indonesia sebesar 5.153 dolar AS, dengan keunggulan tipis diperkirakan berlanjut hingga 2027.
Pertumbuhan Vietnam ditopang manufaktur ekspor, investasi asing elektronik, dan infrastruktur; ekonomi tumbuh 9,95 persen pada kuartal III-2026, sementara Indonesia berada di kisaran 5 persen.
Meski pendapatan per kapita Vietnam naik, Indonesia tetap ekonomi terbesar Asia Tenggara dengan proyeksi PDB 1,48 triliun dolar AS; Vietnam menargetkan 8.500 dolar AS per kapita pada 2030.
Jakarta, IDN Times - Vietnam diproyeksi menyalip Indonesia dalam produk domestik bruto (PDB) per kapita pada 2026. Proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) menunjukkan, PDB per kapita Vietnam akan mencapai 5.259 dolar AS, lebih tinggi dibandingkan Indonesia yang diperkirakan sebesar 5.153 dolar AS.
Dilansir dari South China Morning Post, Rabu (4/11/2026), PDB per kapita Vietnam diperkirakan tumbuh 8,9 persen pada tahun ini. Angka tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan posisi satu dekade lalu.
Dengan capaian tersebut, Vietnam diproyeksi menempati peringkat kelima di antara negara-negara anggota ASEAN berdasarkan PDB per kapita, di bawah Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Thailand.
1. PDB per kapita dipengaruhi pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan kurs

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (Dok. IDN Times) Ketua lembaga kajian VietKnow yang berbasis di Hanoi, Ha Hoang Hop mengatakan, laju pertumbuhan ekonomi Vietnam ditopang oleh kekuatan sektor manufaktur berorientasi ekspor, masuknya investasi asing di industri elektronik, dan sektor bernilai tambah tinggi lainnya, serta peningkatan belanja pemerintah untuk pembangunan infrastruktur.
"Vietnam merupakan kontributor yang kian penting bagi ekspansi manufaktur dan diversifikasi rantai pasok di Asia Tenggara,” ucap Ha.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa PDB per kapita tidak hanya dipengaruhi pertumbuhan ekonomi, tetapi juga inflasi, dan pergerakan nilai tukar (kurs). Faktor tersebut berpotensi mengubah posisi Vietnam yang hanya unggul tipis dari Indonesia.
"Perubahan nilai tukar dapat membalikkan peringkat dalam nilai dolar nominal, sementara konvergensi yang berkelanjutan memerlukan produktivitas, keterampilan, dan kapabilitas teknologi yang lebih kuat," ujar Ha.
2. PDB Indonesia diproyeksi capai 1,48 triliun dolar AS pada 2026

ilustrasi pertumbuhan ekonomi (IDN Times/Arief Rahmat) Dari sisi pertumbuhan ekonomi, Vietnam mencatatkan ekspansi sebesar 9,95 persen secara tahunan pada kuartal III-2026. Capaian tersebut menjadi pertumbuhan kuartalan tercepat sejak pandemik COVID-19.
Pertumbuhan itu juga meningkat dibandingkan kuartal II-2026 yang telah direvisi menjadi 8,81 persen. Kuatnya ekspor dan investasi infrastruktur menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi Vietnam pada periode Juli-September 2026. Capaian tersebut mendekati target pertumbuhan dua digit yang dicanangkan pemerintah Vietnam.
Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berkutat di kisaran 5 persen. Meski demikian, Indonesia tetap menjadi negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara. IMF memproyeksikan PDB Indonesia mencapai 1,48 triliun dolar AS pada 2026, jauh lebih besar dibandingkan Vietnam yang diperkirakan sebesar 542 miliar dolar AS.
3. Vietnam target kejar Thailand

Bendera Vietnam (pexels.com/Hugo Heimendinger) Vietnam juga memasang target meningkatkan PDB per kapita menjadi sekitar 8.500 dolar AS pada 2030. Angka tersebut kurang lebih setara dengan posisi Thailand saat ini. Namun, Ha menilai target tersebut masih menjadi peluang jangka menengah dan belum tentu dapat tercapai dalam waktu dekat.
Konsultan ekonomi sekaligus mantan penasihat ekonomi senior Bank Dunia untuk Vietnam, Raymond Mallon juga menilai Vietnam masih membutuhkan waktu untuk mengejar Thailand.
"Jika ekonomi Thailand tumbuh sekitar 2 persen-3 persen dan Vietnam mampu mempertahankan pertumbuhan 8 persen, Vietnam berpotensi menyamai PDB per kapita Thailand pada pertengahan 2030-an. Namun, skenario tersebut dinilai belum tentu terjadi karena kinerja ekonomi Thailand diperkirakan membaik;" tuturnya.
Vietnam memang memiliki sejumlah keunggulan manufaktur dibandingkan Thailand, terutama karena porsi industri baru seperti elektronik dan semikonduktor yang lebih besar. Perkembangan sektor tersebut turut didorong oleh derasnya investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI).
Berdasarkan data investasi ASEAN, aliran FDI ke Vietnam pada tahun lalu mencapai sekitar 20,4 miliar dolar AS. Angka tersebut berada di bawah Singapura sebesar 150,9 miliar dolar AS, dan Indonesia sebesar 21,4 miliar dolar AS.
Ha menilai, capaian tersebut menunjukkan daya tarik Vietnam sebagai tujuan investasi, meskipun pertumbuhan ekonomi kawasan tidak hanya ditopang oleh satu negara.
Di sisi lain, Mallon menilai, keberhasilan ekonomi Vietnam tidak terlepas dari kebijakan keterbukaan ekonomi atau doi moi yang dimulai pada 1980-an. Sejak saat itu, Vietnam mengalami pertumbuhan pesat dan berhasil menekan tingkat kemiskinan.
Meski demikian, ketergantungan terhadap ekspor membuat Vietnam tetap rentan terhadap guncangan eksternal. Salah satu risiko yang perlu diwaspadai adalah kebijakan tarif perdagangan Amerika Serikat (AS), yang merupakan pasar ekspor terbesar Vietnam.
Mallon menilai Vietnam memiliki fondasi ekonomi yang cukup kuat, didukung tingkat literasi tinggi, kualitas pendidikan dasar yang solid, serta tenaga kerja yang kompetitif dari sisi biaya dan fleksibilitas. Ia juga menyoroti perlambatan ekonomi China dan meningkatnya biaya tenaga kerja di negara tersebut sebagai salah satu faktor yang membuka peluang bagi Vietnam untuk menarik lebih banyak investor asing.
Sementara itu, Ha menilai penguatan basis manufaktur dan posisi Vietnam dalam rantai pasok internasional dapat meningkatkan daya tawar negara tersebut dalam kerja sama perdagangan, infrastruktur, dan teknologi. Namun, peningkatan pengaruh Vietnam di kawasan ASEAN diperkirakan membutuhkan waktu karena Indonesia masih unggul dari sisi skala ekonomi dan jumlah penduduk, sementara Singapura dan Malaysia memiliki keunggulan tersendiri dalam tingkat kematangan ekonomi.
IMF memperkirakan Vietnam dapat mempertahankan keunggulan tipis atas Indonesia hingga 2027. PDB per kapita Vietnam diproyeksikan mencapai 5.659 dolar AS, sedangkan Indonesia sebesar 5.550 dolar AS. Proyeksi tersebut sekaligus berbalik dari perkiraan IMF pada April lalu yang sebelumnya memperkirakan Indonesia masih akan unggul atas Vietnam pada 2026.






















