Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengapa Biaya Platform Bisa Menggerus Keuntungan Penjual?
ilustrasi platform marketplace (freepik.com/freepik)
  • Marketplace mengenakan biaya administrasi, layanan, komisi, dan program tertentu yang dipengaruhi kategori produk, jenis toko, serta kebijakan platform.
  • Selisih harga modal dan harga jual bukan keuntungan bersih; biaya platform, pembayaran, diskon, dan program promosi dapat menipiskan margin, terutama pada produk berharga rendah.
  • Pesanan dan omzet tinggi belum menjamin laba besar. Penjual perlu menghitung profit bersih serta memastikan biaya promosi sebanding dengan tambahan penjualan dan keuntungan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Menjual produk di marketplace memang terasa praktis. Penjual tidak perlu membangun website sendiri, mencari pelanggan dari nol, atau mengurus sistem pembayaran secara terpisah. Cukup mengunggah produk, memasang harga, lalu menunggu pesanan masuk. Namun, ada satu hal yang sering luput diperhitungkan ketika menentukan harga jual: biaya yang dipotong oleh platform.

Sekilas, potongannya mungkin terlihat kecil. Akan tetapi, jika dihitung dari setiap transaksi dan dikumpulkan selama sebulan, jumlahnya bisa cukup besar. Bagi penjual dengan margin keuntungan yang tipis, biaya platform bahkan dapat membuat keuntungan yang seharusnya diterima menyusut jauh lebih cepat dari perkiraan. Mari, kita bahas kegalauan penjual mengenai biaya platform!

1. Apa itu biaya platform?

ilustrasi berjualan di marketplace (freepik.com/freepik)

Biaya platform adalah sejumlah biaya yang dikenakan marketplace kepada penjual atas transaksi atau layanan tertentu. Bentuknya bisa berbeda-beda, mulai dari biaya administrasi, biaya layanan, komisi penjualan, hingga biaya tambahan ketika penjual mengikuti program promosi atau layanan tertentu. Besarnya biaya juga tidak selalu sama untuk setiap penjual. Kategori produk, jenis toko, program yang diikuti, serta kebijakan platform dapat memengaruhi total potongan yang harus dibayarkan.

Karena itu, penjual tidak cukup hanya membandingkan harga jual dengan harga modal. Mereka perlu menghitung seluruh biaya yang muncul dalam setiap transaksi. Dengan begitu, penjual dapat mengetahui berapa besar keuntungan yang benar-benar tersisa setelah semua potongan diperhitungkan.

2. Mengapa biaya platform bisa menggerus keuntungan

ilustrasi digital marketing (unsplash.com/Carlos Muza)

Masalah utamanya terletak pada margin keuntungan. Misalnya, seorang penjual membeli produk dengan harga Rp60 ribu dan menjualnya seharga Rp100 ribu. Sekilas, terdapat selisih Rp40 ribu yang terlihat seperti keuntungan.

Namun, angka tersebut belum tentu menjadi keuntungan bersih. Setelah dikurangi biaya platform, biaya pembayaran, diskon yang ditanggung penjual, atau biaya program lainnya, jumlah yang tersisa bisa jauh lebih kecil. Semakin banyak biaya yang dikenakan, semakin tipis pula margin yang diterima penjual. Kondisi ini akan semakin terasa jika penjual menjual produk dengan harga rendah karena ruang untuk mengambil keuntungan sejak awal memang sudah terbatas.

3. Penjualan ramai belum tentu untung besar

ilustrasi aplikasi pesan makanan online (freepik.com/freepik)

Banyak penjual mungkin merasa bisnisnya berjalan baik ketika jumlah pesanan terus meningkat. Padahal, omzet dan keuntungan adalah dua hal yang berbeda. Bayangkan sebuah toko mendapatkan ratusan pesanan setiap bulan. Jika keuntungan bersih dari setiap produk hanya beberapa ribu rupiah setelah semua biaya dipotong, penjualan yang tinggi belum tentu menghasilkan keuntungan yang besar. Inilah alasan mengapa penjual perlu melihat profit bersih, bukan hanya omzet atau jumlah produk yang terjual. Toko yang terlihat ramai belum tentu memiliki kondisi keuangan yang sehat jika sebagian besar pendapatannya habis untuk menutup berbagai biaya.

4. Diskon dan promosi bisa menambah beban

ilustrasi diskon (unsplash.com/Ashkan Forouzani)

Biaya platform juga bisa menjadi lebih kompleks ketika penjual mengikuti berbagai program promosi. Voucher, gratis ongkir, cashback, iklan, dan kampanye tertentu memang dapat membantu meningkatkan visibilitas produk serta menarik lebih banyak pembeli. Namun, semua program tersebut perlu dihitung dengan cermat. Jika diskon atau biaya promosi terlalu besar dibandingkan margin produk, penjualan tambahan justru dapat menghasilkan keuntungan yang sangat kecil.

Bukan berarti penjual harus menghindari promosi. Promosi tetap bisa digunakan untuk menarik lebih banyak pembeli dan meningkatkan penjualan. Namun, penjual perlu memastikan biaya yang dikeluarkan sebanding dengan tambahan penjualan dan keuntungan yang diperoleh.

Pada akhirnya, biaya platform memang menjadi bagian dari ekosistem jualan online yang sulit dihindari. Namun, dampaknya terhadap keuntungan dapat dikendalikan selama penjual memahami setiap potongan dan menghitung margin secara realistis. Sebab, dalam bisnis, banyaknya penjualan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan—yang penting adalah berapa banyak keuntungan yang benar-benar tersisa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article