Rupiah Melemah ke Rp17.744, Investor Cermati Diplomasi Iran-Qatar

- Rupiah ditutup melemah 19 poin menjadi Rp17.744 per dolar AS pada Kamis.
- Pasar mencermati pembicaraan Iran dan Qatar terkait upaya membuka kembali Selat Hormuz.
- Data PCE AS, klaim pengangguran, dan pidato Kevin Warsh menjadi perhatian pasar menjelang perdagangan Jumat.
Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah tercatat melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis (27/8/2026). Mata uang Garuda berakhir di level Rp17.744 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 19 poin atau 0,11 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.725 per dolar AS. Pada pembukaan perdagangan, rupiah berada di level Rp17.759 per dolar AS.
1. Diplomasi Iran-Qatar jadi perhatian investor
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pasar mencermati pembicaraan Iran dan Qatar terkait upaya membuka kembali Selat Hormuz. Pembukaan jalur tersebut diharapkan dapat mengurangi gangguan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah.
"Ada harapan bahwa pembicaraan antara Iran dan Qatar dapat membuka kembali Selat Hormuz yang vital dan mengurangi gangguan pasokan akibat perang di Timur Tengah," ujar Ibrahim.
Seorang pejabat senior Iran menyatakan Iran dan Oman tengah memfinalisasi rincian kesepakatan terkait pengelolaan Selat Hormuz. Sebelumnya, Garda Revolusi Iran juga menyebut adanya pembahasan mengenai pembagian akses dan pendapatan dari jalur perairan tersebut.
Perdana Menteri Qatar dijadwalkan berkunjung ke Iran pada Kamis untuk memulai pembicaraan diplomatik guna mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir enam bulan.
Meski AS telah menghentikan serangan terhadap Iran selama sekitar satu bulan, posisi kedua pihak masih berseberangan. Iran masih menyerang kapal-kapal di kawasan tersebut dan menegaskan Selat Hormuz tidak akan dibuka sebelum AS memenuhi persyaratan Teheran berdasarkan kesepakatan gencatan senjata sementara pada Juni yang akhirnya gagal.
2. Investor cermati data PCE dan sinyal kebijakan The Fed
Dari AS, Ibrahim mengatakan indeks harga PCE inti tercatat stabil di level 3,3 persen, sesuai dengan konsensus pasar. Indikator tersebut merupakan ukuran inflasi yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi yang cenderung lebih bergejolak.
Secara bulanan, indeks harga PCE dan PCE inti masing-masing meningkat 0,2 persen pada Juli. Pergerakan tersebut terjadi setelah data Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI) menunjukkan tekanan inflasi yang relatif moderat.
"Fokus pasar hari ini adalah rilis data klaim awal tunjangan pengangguran mingguan, serta pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh dalam Simposium Jackson Hole pada hari Jumat besok," tuturnya.
3. Rupiah diproyeksi kembali melemah pada Jumat
Ibrahim mengatakan rupiah sempat menguat hingga 75 poin sepanjang perdagangan hari ini sebelum akhirnya ditutup melemah 19 poin ke level Rp17.744 per dolar AS. Sepanjang sesi, rupiah bergerak dalam rentang Rp17.726-Rp17.799 per dolar AS.
Untuk perdagangan Jumat (28/8/2026), dia memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan potensi kembali melemah. Rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp17.740-Rp17.790 per dolar AS.




![[QUIZ] Apakah Kamu Punya Kecenderungan Doom Spending? Gen Z Biasa Begini](https://image.idntimes.com/post/20260621/upload_d06bbd48d0bf0039e7d214dda11f17d5_79e5d680-169e-4eff-826c-71b5dd0d6a9b.png)













