Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengenal Credit Crunch, saat Kredit Makin Sulit Didapat

Mengenal Credit Crunch, saat Kredit Makin Sulit Didapat
ilustrasi pria tua dalam setelan yang memegang kartu kredit dan uang kertas (pexels.com/Andrea Piacquadio)
  • Credit crunch terjadi ketika lembaga keuangan mengurangi penyaluran pinjaman akibat kelangkaan dana dan risiko gagal bayar.
  • Pengetatan kredit dapat disertai kenaikan suku bunga, sehingga biaya pinjaman bagi individu dan bisnis meningkat.
  • Pasokan kredit yang menyusut dapat memperlambat pemulihan ekonomi, membatasi ekspansi usaha, dan memengaruhi lapangan kerja.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Credit crunch atau krisis kredit merujuk pada kondisi ketika penyaluran pinjaman oleh lembaga keuangan menurun akibat kelangkaan dana secara mendadak.

Dilansir Investopedia, kondisi ini sering terjadi saat resesi karena lembaga keuangan khawatir peminjam gagal membayar utang atau mengalami kebangkrutan.

Dalam kondisi tersebut, pemberi pinjaman cenderung memperketat penyaluran kredit dan dapat menaikkan suku bunga untuk mengimbangi risiko yang lebih tinggi. Akibatnya, akses pembiayaan individu dan bisnis menjadi lebih sulit. Kondisi ini kemudian dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi, ekspansi usaha, hingga lapangan kerja.

  1. 1. Pengertian credit crunch

    ilustrasi seorang wanita menggunakan kartu kredit dan ponsel pintar untuk berbelanja online
    ilustrasi seorang wanita menggunakan kartu kredit dan ponsel pintar untuk berbelanja online (pexels.com/Khwanchai Phanthong)

    Credit crunch adalah kondisi ekonomi ketika modal untuk investasi sulit diperoleh. Bank dan lembaga keuangan menjadi lebih berhati-hati dalam menyalurkan pinjaman kepada individu maupun perusahaan karena khawatir terjadi gagal bayar.

    Risiko yang lebih tinggi dapat mendorong kenaikan suku bunga pinjaman. Dengan begitu, biaya yang harus ditanggung peminjam menjadi lebih besar.

    Credit crunch juga dikenal sebagai credit squeeze atau pengetatan kredit. Kondisi ini cenderung terjadi secara terpisah dari perubahan suku bunga yang tiba-tiba.

    Individu dan bisnis yang sebelumnya mudah memperoleh pinjaman untuk membeli barang bernilai besar atau mengembangkan usaha dapat mendadak kesulitan mendapatkan pembiayaan.

    Dampaknya kemudian menyebar ke berbagai bagian perekonomian. Kepemilikan rumah dapat menurun, sementara bisnis yang kekurangan modal bisa melakukan efisiensi karena tidak memiliki cukup dana untuk menjalankan atau mengembangkan kegiatan usahanya.

  2. 2. Credit crunch bisa terjadi setelah kredit terlalu longgar

    ilustrasi seseorang yang melakukan proses pembayaran kartu kredit
    ilustrasi seseorang yang melakukan proses pembayaran kartu kredit (pexels.com/energepic.com)

    Credit crunch sering muncul setelah periode ketika pemberi pinjaman terlalu longgar dalam memberikan kredit. Pinjaman dapat diberikan kepada peminjam yang kemampuan membayarnya diragukan. Kondisi ini kemudian dapat diikuti peningkatan gagal bayar dan kredit macet.

    Dalam kondisi ekstrem, seperti krisis keuangan 2008, tingkat kredit macet meningkat sangat tinggi. Akibatnya, sejumlah bank mengalami kebangkrutan dan harus menutup usaha atau bergantung pada bailout pemerintah agar tetap bertahan.

    Setelah mengalami kerugian akibat gagal bayar, bank dapat memperketat pemberian kredit. Pemberi pinjaman akan lebih memilih nasabah dengan rekam jejak kredit yang sangat baik dan risiko rendah.

    Perilaku tersebut dikenal sebagai flight to quality, yaitu kondisi ketika pemberi pinjaman beralih memilih peminjam atau aset dengan kualitas dan risiko yang lebih baik.

  3. 3. Dampak credit crunch terhadap ekonomi

    ilustrasi kartu kredit, utang, cicilan, pinjaman
    ilustrasi kartu kredit, utang, cicilan, pinjaman (vecteezy.com/Titiwoot Weerawong)

    Credit crunch dapat membuat pemulihan ekonomi berjalan lebih lambat atau memperpanjang resesi. Kondisi tersebut terjadi ketika pasokan kredit menyusut.

    Selain memperketat standar pemberian kredit, lembaga keuangan dapat menaikkan suku bunga untuk memperoleh pendapatan lebih besar dari jumlah nasabah yang masih mampu meminjam.

    Kenaikan biaya pinjaman dapat mengurangi kemampuan individu untuk membelanjakan uang. Bagi bisnis, biaya pinjaman yang lebih tinggi dapat mengurangi modal yang seharusnya digunakan untuk mengembangkan usaha dan merekrut tenaga kerja.

    Dampaknya bisa lebih besar bagi bisnis dan konsumen yang sama sekali tidak dapat memperoleh pinjaman. Bisnis yang kehilangan akses pembiayaan akan kesulitan tumbuh atau berekspansi. Bagi sebagian bisnis, kondisi tersebut bahkan dapat membuat mereka kesulitan bertahan.

    Ketika perusahaan mengurangi kegiatan operasional dan jumlah tenaga kerja, produktivitas dapat menurun dan pengangguran meningkat. Keduanya menjadi indikator utama dari resesi yang semakin memburuk.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More