Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pangkas Dominasi SpaceX, Eropa Guyur Modal Jumbo ke Startup Antariksa

Pangkas Dominasi SpaceX, Eropa Guyur Modal Jumbo ke Startup Antariksa
ilustrasi perusahaan SpaceX (unsplash.com/SpaceX)
  • Open Cosmos meraih 300 juta euro untuk membangun infrastruktur satelit, konektivitas, dan intelijen real-time Eropa, meski telah mencatat keuntungan selama lima tahun berturut-turut.
  • Pendanaan besar juga mengalir ke The Exploration Company, PLD Space, HyImpulse, serta program Marlan Space dan Loft Orbital, menandakan investor melihat peluang ekonomi antariksa komersial.
  • Isar Aerospace menjadi perusahaan komersial Eropa pertama yang menempatkan satelit ke orbit, tetapi Eropa masih tertinggal dari AS dalam investasi, anggaran publik, dominasi SpaceX, dan koordinasi antarnegara.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Persaingan industri antariksa global semakin panas setelah sejumlah startup Eropa mendapatkan suntikan modal dalam jumlah fantastis. Pendanaan ini muncul ketika negara-negara Eropa berusaha membangun alternatif terhadap pemain Amerika Serikat, terutama SpaceX milik Elon Musk.

Salah satu yang terbaru adalah Open Cosmos yang berhasil mengantongi 300 juta euro atau sekitar Rp5,5 triliun. Dalam beberapa pekan terakhir, startup antariksa Eropa lainnya juga mendapatkan pendanaan ratusan juta dolar untuk memperbesar kapasitas mereka. Kalau tren ini terus berlanjut, kamu mungkin akan melihat Eropa punya lebih banyak perusahaan yang siap menantang dominasi pemain antariksa Amerika Serikat.

  1. 1. Open Cosmos kantongi modal Rp5,5 triliun

    ilustrasi satelit
    ilustrasi satelit (pexels.com/SpaceX)

    Open Cosmos menjadi salah satu perusahaan yang mencuri perhatian setelah berhasil mengumpulkan pendanaan sebesar 300 juta euro atau sekitar US$346 juta (kurang lebih Rp5,5 triliun). Putaran pendanaan tersebut bahkan mengalami kelebihan permintaan, menunjukkan besarnya minat investor terhadap bisnis antariksa Eropa. CEO Open Cosmos, Rafel Jordà Siquier, mengatakan perusahaan memprioritaskan investor Eropa yang memiliki tujuan sejalan dengan perusahaan.

    Dana jumbo tersebut nantinya digunakan untuk membangun infrastruktur satelit, konektivitas, dan sistem intelijen real-time untuk Eropa. Menariknya, Open Cosmos sebenarnya bukan perusahaan yang sedang membutuhkan modal untuk bertahan karena sudah mencatatkan keuntungan selama lima tahun berturut-turut. Jordà mengatakan perusahaan tetap menggalang dana baru karena melihat semakin banyak peluang di industri antariksa. Menurutnya, pertumbuhan permintaan membuat pasar membutuhkan lebih dari satu perusahaan besar untuk melayani kebutuhan global.

  2. 2. Startup Eropa ramai dapat pendanaan jumbo

    ilustrasi mata uang Euro (pexels.com/Pixabay)
    ilustrasi mata uang Euro (pexels.com/Pixabay)

    Open Cosmos bukan satu-satunya startup antariksa Eropa yang sedang menikmati derasnya aliran modal. The Exploration Company mengumumkan pendanaan Series C sebesar US$450 juta atau sekitar Rp7,1 triliun. Sementara itu, perusahaan roket asal Spanyol, PLD Space, mendapatkan tambahan 108 juta euro atau sekitar Rp2 triliun untuk Series C sehingga total pendanaannya mencapai 288 juta euro atau sekitar Rp5,3 triliun.

    Startup roket asal Jerman, HyImpulse, juga memperoleh lebih dari 50 juta euro atau sekitar Rp920 miliar dalam bentuk ekuitas baru melalui perpanjangan Series A. Di sisi lain, Marlan Space dan Loft Orbital mengumumkan program senilai US$1 miliar atau sekitar Rp15,8 triliun untuk membangun konstelasi 50 satelit yang dilengkapi kemampuan AI. Rangkaian pendanaan ini memperlihatkan bahwa investor mulai melihat peluang besar dari pertumbuhan ekonomi antariksa komersial.

  3. 3. Isar Aerospace buktikan Eropa mulai mengejar

    ilustrasi peluncuran roket, perusahaan teknologi luar angkasa, aerospace, SpaceX
    ilustrasi peluncuran roket, perusahaan teknologi luar angkasa, aerospace, SpaceX (pexels.com/SpaceX)

    Ambisi Eropa untuk memperkuat industri antariksa juga mendapatkan momentum penting setelah Isar Aerospace mencatat sejarah. Startup asal Jerman tersebut menjadi perusahaan komersial Eropa pertama yang berhasil menempatkan satelit ke orbit. Pencapaian ini penting karena kemampuan meluncurkan satelit sendiri merupakan salah satu fondasi utama untuk membangun industri antariksa yang lebih mandiri. Dengan begitu, Eropa gak harus selalu mengandalkan perusahaan dari luar kawasan untuk menjalankan misi komersialnya.

    Isar Aerospace sebelumnya juga mengumpulkan modal sebesar 270 juta euro atau sekitar Rp5 triliun pada Juni. Dana tersebut digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas jaringan peluncurannya. Buat kamu yang melihat SpaceX sebagai pemain sangat dominan dalam urusan peluncuran roket, perkembangan ini menunjukkan Eropa mulai membangun alternatifnya sendiri. Meski skalanya belum sebanding dengan SpaceX, keberhasilan Isar Aerospace bisa menjadi pijakan penting untuk meningkatkan kemampuan peluncuran Eropa.

  4. 4. Eropa masih tertinggal jauh dari AS

    ilustrasi roket, perusahaan teknologi luar angkasa, aerospace, SpaceX
    ilustrasi roket, perusahaan teknologi luar angkasa, aerospace, SpaceX (pexels.com/iCliff Agendia)

    Meski pendanaan startup antariksa Eropa terlihat semakin besar, kamu tetap perlu melihatnya dalam konteks yang lebih luas. Data OECD menunjukkan bahwa 67 persen penerima investasi swasta di sektor antariksa pada 2025 berbasis di Amerika Serikat, sedangkan perusahaan di Eropa hanya mendapatkan porsi sekitar 12,8 persen. Artinya, aliran modal ke perusahaan antariksa Eropa memang meningkat, tapi kesenjangan dengan Amerika Serikat masih cukup lebar. Kondisi ini menunjukkan bahwa Eropa masih punya pekerjaan rumah besar untuk menarik lebih banyak investasi swasta.

    Ketersediaan dana pemerintah juga memperlihatkan perbedaan yang signifikan. Menurut Space Foundation, anggaran antariksa publik Amerika Serikat mencapai sekitar US$77 miliar atau sekitar Rp1.218 triliun pada 2024. European Space Policy Institute memperkirakan angka tersebut sekitar lima kali lebih besar dibandingkan anggaran Eropa. Sebagai pembanding, startup roket Amerika Serikat, Stoke Space, bahkan berhasil mengumpulkan US$1 miliar atau sekitar Rp15,8 triliun pada September untuk mempercepat pengembangan roket Nova yang dapat digunakan kembali.

  5. 5.Tantangan Eropa bukan cuma soal modal

    ilustrasi roket, perusahaan teknologi luar angkasa, aerospace, SpaceX
    ilustrasi roket, perusahaan teknologi luar angkasa, aerospace, SpaceX (pexels.com/SpaceX)

    Masalah lain yang perlu diperhatikan adalah dominasi SpaceX yang masih sangat kuat. Perusahaan tersebut mengoperasikan roket Falcon 9 dan Falcon Heavy serta melakukan peluncuran secara rutin untuk konstelasi Starlink dan berbagai pelanggan lainnya. Open Cosmos sendiri telah menggunakan layanan SpaceX dan Rocket Lab untuk meluncurkan satelit, selain bekerja sama dengan penyedia peluncuran Eropa seperti Arianespace. Perusahaan tersebut juga memiliki kesepakatan dengan penyedia peluncuran dari India dan Jepang.

    Di tengah upaya mengejar ketertinggalan, koordinasi antarnegara Eropa juga menjadi tantangan. Komisaris Eropa untuk Pertahanan dan Antariksa, Andrius Kubilius, menyambut baik peningkatan investasi tapi memperingatkan bahwa ambisi tersebut bisa terganggu jika masing-masing negara terlalu fokus mengejar strategi nasional. Jadi, Eropa bukan hanya perlu mengumpulkan modal besar, tapi juga harus mampu menyatukan strategi agar berbagai perusahaan dan negara gak berjalan sendiri-sendiri. Kalau koordinasinya kuat, suntikan dana jumbo tersebut bisa membantu Eropa membangun ekosistem antariksa yang lebih kompetitif.

    Pada akhirnya, derasnya pendanaan ke startup antariksa Eropa menjadi sinyal bahwa kawasan tersebut mulai serius membangun kekuatan sendiri di industri luar angkasa. Open Cosmos dengan modal sekitar Rp5,5 triliun, The Exploration Company sekitar Rp7,1 triliun, hingga program Marlan Space dan Loft Orbital senilai sekitar Rp15,8 triliun menunjukkan besarnya uang yang mulai mengalir ke sektor ini.

    Namun, jalan untuk menyaingi SpaceX masih panjang karena Amerika Serikat memiliki keunggulan dalam investasi swasta, anggaran pemerintah, dan frekuensi peluncuran. Kalau Eropa mampu menggabungkan modal jumbo dengan koordinasi lintas negara yang lebih solid, persaingan industri antariksa global bisa menjadi jauh lebih sengit.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More