Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Saat Teknologi Menjadi Infrastruktur Kehidupan Masyarakat

Saat Teknologi Menjadi Infrastruktur Kehidupan Masyarakat
Saat Teknologi Menjadi Infrastruktur Kehidupan Masyarakat. Dok. Erajaya

  • Teknologi menjadi infrastruktur keseharian di Indonesia, didukung 230 juta pengguna internet dan 331 juta koneksi seluler aktif pada akhir 2025.
  • Smartphone beralih menjadi pusat aktivitas digital; 98 persen pengguna internet mengakses lewat ponsel untuk kerja, belajar, transaksi, hiburan, serta pemanfaatan AI.
  • Ekonomi dan dunia kerja makin bergantung pada ekosistem digital, terlihat dari adopsi AI pekerja, belanja online, pembayaran digital, serta penggunaan QRIS oleh masyarakat dan UMKM.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Teknologi dulunya hadir sebagai alat untuk mempermudah pekerjaan manusia. Telepon digunakan untuk berkomunikasi, komputer untuk mengolah data, dan televisi untuk menikmati hiburan.

Kini batas tersebut semakin kabur. Satu perangkat dapat digunakan untuk bekerja, belajar, berkomunikasi, berbelanja, membayar tagihan, membuat konten, hingga mencari hiburan.

Perubahan itu bukan sekadar soal semakin banyaknya perangkat digital yang digunakan masyarakat. Teknologi perlahan berubah menjadi infrastruktur yang menopang kehidupan sehari-hari.

Di Indonesia, perubahan tersebut berlangsung seiring dengan semakin luasnya konektivitas. DataReportal mencatat terdapat 230 juta pengguna internet di Indonesia pada akhir 2025, setara dengan penetrasi 80,5 persen populasi. Pada periode yang sama, terdapat 331 juta koneksi seluler aktif atau setara 116 persen dari jumlah penduduk.

Lantas, seperti apa perubahan tersebut terlihat dalam kehidupan masyarakat?

  1. 1. Smartphone bukan lagi sekadar alat komunikasi

    iPhone 17 Pro.jpg
    Saat Teknologi Menjadi Infrastruktur Kehidupan Masyarakat. Dok. Erajaya

    Bagi banyak orang, smartphone mungkin menjadi perangkat teknologi yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ponsel digunakan untuk mengirim pesan dan melakukan panggilan, tetapi fungsinya kini jauh lebih luas. Dari satu perangkat yang sama, seseorang dapat mengikuti rapat, mengakses materi pembelajaran, mengelola pekerjaan, melakukan transaksi, menikmati video dan musik, sampai membuat konten untuk media sosial.

    Pola penggunaan masyarakat juga menunjukkan kecenderungan mobile-first. DataReportal mencatat 98 persen pengguna internet Indonesia mengakses internet melalui ponsel, sementara 51 persen mengaksesnya melalui laptop atau komputer.

    Kehidupan digital juga tidak berhenti ketika jam kerja selesai. Masyarakat menghabiskan rata-rata 37 jam 20 menit per minggu menggunakan media terkoneksi. Sebanyak 21 jam 50 menit di antaranya digunakan untuk media sosial, dengan rata-rata 7,7 platform yang digunakan setiap bulan.

    Artinya, smartphone telah bergeser dari perangkat komunikasi menjadi semacam pusat aktivitas digital.

    Perkembangan kecerdasan buatan atau AI bahkan memperluas fungsi tersebut. Bukan hanya sebagai alat untuk mencari informasi, AI mulai masuk ke perangkat yang digunakan sehari-hari dan membantu pengguna melakukan berbagai pekerjaan secara lebih praktis.

  2. 2. Teknologi ikut menentukan produktivitas kerja

    iBox.jpg
    Saat Teknologi Menjadi Infrastruktur Kehidupan Masyarakat. Dok. Erajaya

    Perubahan paling terasa juga terjadi di dunia kerja.

    Model kerja hybrid dan kolaborasi jarak jauh membuat lokasi fisik tidak lagi selalu menjadi batas bagi seseorang untuk menyelesaikan pekerjaan. Laptop, smartphone, aplikasi kolaborasi, penyimpanan berbasis cloud, hingga perangkat pendukung lainnya menjadi bagian dari infrastruktur kerja.

    Riset Work Relationship Index 2025 yang diberitakan IDN Times menunjukkan besarnya ketergantungan tersebut. Sebanyak 94 persen pekerja di Indonesia yang disurvei telah menggunakan AI, sementara 89 persen percaya teknologi tersebut dapat meningkatkan kualitas hidup dan pengalaman kerja mereka.

    Menariknya, teknologi tidak hanya dipandang sebagai alat untuk mempercepat pekerjaan. Dalam riset tersebut, pekerja yang mendapatkan akses terhadap teknologi pendukung produktivitas disebut memiliki kemungkinan dua kali lebih besar untuk memiliki hubungan kerja yang sehat.

    Ini menunjukkan perubahan cara memandang perangkat digital. Kualitas teknologi yang digunakan seseorang semakin berkaitan dengan bagaimana pekerjaan dilakukan.

    Dengan kata lain, laptop, smartphone, aplikasi, dan konektivitas bukan lagi sekadar perlengkapan kerja. Semuanya menjadi bagian dari lingkungan kerja itu sendiri.

  3. 3. Satu perangkat, makin banyak peran

    iPhone 17 Pro iBox.jpg
    Saat Teknologi Menjadi Infrastruktur Kehidupan Masyarakat. Dok. Erajaya

    Batas antara produktivitas dan hiburan juga semakin tipis.

    Setelah digunakan untuk bekerja atau belajar, perangkat yang sama dapat beralih fungsi menjadi sarana menonton film, mendengarkan musik, bermain gim, berinteraksi di media sosial, atau membuat konten.

    Perkembangan perangkat audio juga memperlihatkan bagaimana teknologi semakin melekat pada aktivitas personal. Perangkat seperti earphone dan headphone tidak hanya digunakan untuk mendengarkan musik, tetapi juga menemani perjalanan, olahraga, bekerja, mengikuti pertemuan virtual, hingga membuat konten.

    Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa perangkat digital kini dituntut untuk menjalankan banyak fungsi sekaligus.

    Hal serupa terlihat dari semakin berkembangnya perangkat yang menggabungkan teknologi dengan aktivitas kreatif. Drone, kamera, perangkat audio, hingga smartphone dengan fitur AI membuat aktivitas yang sebelumnya membutuhkan perangkat khusus menjadi lebih mudah dilakukan secara personal.

    Salah satu contohnya terlihat dari perkembangan perangkat seperti drone untuk pengguna pemula yang belakangan hadir di pasar Indonesia. Kehadiran perangkat semacam ini menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya digunakan untuk konsumsi, tetapi juga semakin banyak dipakai untuk menciptakan sesuatu.

    Pada titik ini, teknologi menjadi bagian dari gaya hidup sekaligus alat produktivitas.

  4. 4. Aktivitas ekonomi pun berpindah ke layar

    ilustrasi chat, chatting, pengguna hp,  ponsel, smartphone
    ilustrasi chat, chatting, pengguna hp, ponsel, smartphone (magnific.com/yanalya)

    Perubahan fungsi teknologi juga terlihat dari cara masyarakat melakukan transaksi.

    Belanja, pembayaran, hingga aktivitas usaha semakin terhubung dengan perangkat digital. Data yang dihimpun dalam laporan Digital 2026 menunjukkan 99 juta orang di Indonesia telah membeli produk konsumsi secara online dengan nilai sekitar US$42 miliar per tahun. Sebanyak 67,6 persen pembelian tersebut dilakukan melalui ponsel.

    Pembayaran digital menjadi bagian lain dari perubahan tersebut.

    Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 14,82 miliar transaksi pada kuartal II 2026, tumbuh 36,88 persen secara tahunan. Transaksi melalui aplikasi mobile bahkan tumbuh 31,39 persen, sementara transaksi QRIS meningkat 100,12 persen secara tahunan.

    Di tingkat masyarakat dan pelaku usaha, QRIS juga semakin menjadi bagian dari aktivitas ekonomi sehari-hari. Pemberitaan IDN Times mencatat hingga Juni 2026 terdapat 65,77 juta pengguna QRIS dan 44,86 juta merchant, dengan 96,68 persen di antaranya merupakan UMKM.

    Perubahan ini penting karena menunjukkan bahwa transformasi digital tidak hanya terjadi di kantor atau di kalangan perusahaan teknologi.

    Pedagang, pekerja lepas, pemilik usaha kecil, hingga konsumen sehari-hari ikut masuk ke dalam ekosistem tersebut. Teknologi akhirnya tidak lagi berada di luar kehidupan ekonomi, melainkan menjadi salah satu infrastrukturnya.

  5. 5. Tiga dekade di tengah perubahan teknologi

    Logo Erajaya. (Website Erajaya)
    Logo Erajaya. (Website Erajaya)

    Jika ditarik lebih jauh, perubahan tersebut menunjukkan bahwa industri perangkat teknologi sebenarnya tidak hanya menjual benda. Yang berubah adalah kebutuhan masyarakat terhadap teknologi.

    Ketika telepon seluler pertama kali menjadi populer, kebutuhan utamanya adalah komunikasi. Ketika internet semakin mudah diakses, perangkat mulai menjadi pintu menuju informasi dan interaksi. Kini, perangkat yang sama dituntut untuk mendukung pekerjaan, hiburan, kreativitas, transaksi, hingga pemanfaatan AI.

    Perjalanan Erajaya selama tiga dekade dapat dibaca dalam konteks perubahan tersebut.

    Didirikan pada 1996, Erajaya pada awalnya bergerak sebagai importir, distributor, dan peritel perangkat telekomunikasi. Seiring perubahan teknologi dan perilaku konsumen, cakupan bisnisnya berkembang ke berbagai kategori perangkat dan ekosistem digital.

    Memasuki usia 30 tahun pada 2026, perjalanan tersebut menarik dilihat bukan semata sebagai perjalanan sebuah perusahaan ritel, tetapi sebagai bagian dari perubahan cara masyarakat Indonesia berhubungan dengan teknologi.

    Perangkat yang dulu dibeli karena kebutuhan komunikasi kini dibeli karena kebutuhan yang jauh lebih kompleks: bekerja, belajar, berkarya, bertransaksi, bersosialisasi, dan mencari hiburan.

    Pada akhirnya, pertanyaan tentang teknologi hari ini bukan lagi sekadar perangkat apa yang digunakan masyarakat, melainkan seberapa besar kehidupan masyarakat telah bergantung pada ekosistem teknologi tersebut.

    Di titik itulah teknologi benar-benar berubah fungsi: dari sekadar alat menjadi infrastruktur kehidupan modern.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More