Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Minim Literasi Keuangan, Warga AS Kehilangan Jutaan Rupiah Saban Tahun
ilustrasi mata uang dolar Amerika (pexels.com/www.kaboompics.com)
  • Minim literasi keuangan membuat warga AS kehilangan rata-rata 1.819 dolar AS per orang pada 2022, termasuk dari bunga kartu kredit, belanja konsumtif, biaya rekening, dan risiko penipuan.
  • Bunga serta biaya kartu kredit mencapai hampir 120 miliar dolar AS per tahun; utang dapat meningkat meski tanpa transaksi baru karena bunga terus dihitung dari saldo berjalan.
  • Biaya overdraft, pembelian barang mewah, pencurian identitas, dan penipuan turut menguras uang; pemahaman anggaran, saldo rekening, serta keamanan akun diperlukan untuk mengurangi risiko.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Banyak orang mengira masalah keuangan hanya muncul ketika penghasilan terlalu kecil atau utang sudah menumpuk. Padahal, kurangnya pemahaman soal cara mengelola uang juga bisa membuatmu kehilangan banyak uang tanpa disadari.

Kondisi tersebut ternyata menjadi persoalan cukup serius di Amerika Serikat, bahkan kerugiannya mencapai rata-rata 1.819 dolar AS (sekitar Rp28,2 juta) per orang pada 2022. Menariknya, kerugian itu gak selalu berasal dari keputusan finansial besar, tapi juga dari kebiasaan sehari-hari seperti membayar bunga kartu kredit, belanja barang mewah, sampai mengabaikan keamanan akun.

Lantas, kebiasaan finansial apa saja yang diam-diam bisa bikin uangmu terus terkuras? Simak beberapa di antaranya berikut ini.

1. Bunga kartu kredit bisa menggerus uang

ilustrasi belanja kebutuhan sehari-hari, pembayaran cashless, kartu kredit (magnific.com/magnific)

Salah satu sumber kerugian terbesar akibat minimnya literasi keuangan berasal dari bunga dan biaya kartu kredit. Menurut Consumer Financial Protection Bureau (CFPB), masyarakat Amerika membayar hampir 120 miliar dolar AS (atau sekitar Rp1.800 triliun) setiap tahun untuk bunga dan biaya kartu kredit. Jumlah sebesar itu menunjukkan bahwa biaya yang terlihat kecil pada satu transaksi bisa berubah menjadi beban besar jika terus terjadi.

Sebagai ilustrasi perhitungan, bayangkan kamu memiliki saldo kartu kredit sebesar 3.000 dolar AS atau sekitar Rp46,5 juta. Dengan Annual Percentage Rate (APR) atau tingkat persentase tahunan sebesar 25 persen, bunga harian dihitung dengan membagi tingkat bunga tahunan tersebut menjadi sekitar 0,000685 per hari. Jika bunga harian itu diterapkan pada saldo 3.000 dolar AS selama 30 hari periode tagihan, maka bunga yang harus dibayar mencapai sekitar 61,80 dolar AS atau kurang lebih Rp958 ribu.

Artinya, meskipun kamu gak menambah transaksi baru, saldo utang tetap bisa bertambah hanya karena bunga berjalan. Jika kondisi ini terus dibiarkan, bunga bulan berikutnya akan dihitung dari saldo yang lebih besar sehingga total utang pun ikut meningkat. Inilah yang membuat utang kartu kredit bisa tumbuh secara eksponensial kalau gak segera dilunasi.

2. Belanja barang mewah bikin pengeluaran membengkak

ilustrasi tas branded, tas mewah (unsplash.com/Quang Vy)

Gaya hidup konsumtif juga menjadi salah satu sumber pengeluaran besar di AS. Berdasarkan data yang dikutip dari SaveMyCent (situs agregasi data dan statistik konsumen), belanja barang mewah di Amerika Serikat mencapai sekitar 64,8 miliar dolar AS pada 2020, atau setara kurang lebih Rp1.000 triliun. Sementara itu, data dari Statista (platform data dan riset pasar global) menunjukkan pembelian barang mewah di AS meningkat lebih dari 10 miliar dolar AS dari 2020 hingga 2022, atau sekitar Rp155 triliun, dan pasar tersebut diperkirakan masih mengalami pertumbuhan hingga 2028.

Masalahnya, kamu bisa saja terdorong membeli sesuatu bukan karena benar-benar membutuhkannya, tapi karena produk tersebut dibuat terlihat eksklusif. Konsumen perlu lebih sadar terhadap istilah pemasaran dan gambar yang sengaja digunakan untuk menciptakan kesan mewah atau terbatas.

Memiliki keinginan membeli jam tangan, tas, atau barang bermerek sebenarnya gak salah selama pengeluarannya sesuai kemampuan. Namun sebelum checkout, coba lihat lagi apakah barang tersebut memang masuk anggaran atau justru membuat kebutuhan penting lain harus dikorbankan.

3. Biaya overdraft terlihat kecil tapi cepat menumpuk

ilustrasi saldo rekening (vecteezy.com/Oleg Gapeenko)

Overdraft menjadi contoh lain bagaimana keputusan finansial yang terlihat sepele bisa menghabiskan uang. Kondisi ini terjadi ketika transaksi tetap diproses meskipun saldo rekening gak cukup untuk menutup seluruh pembayaran, kemudian bank mengenakan biaya atas transaksi tersebut. Berdasarkan data CFPB, total biaya overdraft yang ditanggung masyarakat Amerika mencapai sekitar US$17 miliar setiap tahun, atau setara kurang lebih Rp263,5 triliun.

Hal yang menarik, sebagian besar transaksi yang memicu overdraft justru bernilai 24 dolar AS atau kurang (sekitar Rp375.000), sedangkan biaya overdraft median berada di angka 34 dolar AS (sekitar Rp530.000). Jadi, kamu bisa saja melakukan transaksi bernilai kecil tapi harus membayar biaya tambahan yang nilainya lebih besar dari transaksi tersebut.

Sekali terjadi mungkin terasa sepele, tapi masalahnya muncul ketika kebiasaan tersebut berulang setiap bulan. Karena itu, memahami saldo rekening dan mengatur pengeluaran sebelum transaksi dilakukan bisa membantu mencegah biaya yang sebenarnya gak perlu.

4. Pencurian identitas dan penipuan juga berbahaya

ilustrasi scam (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Minimnya literasi keuangan gak hanya membuatmu boros, lho, tapi juga bisa meningkatkan risiko kehilangan uang akibat penipuan dan pencurian identitas. Berdasarkan data dari FBI Internet Crime Complaint Center (IC3) dalam Internet Crime Report 2021 serta Statista yang mengompilasi data kerugian fraud di Amerika Serikat, diketahui bahwa pencurian identitas menyebabkan kerugian sekitar 6,9 miliar dolar AS (sekitar Rp107 triliun), sedangkan penipuan menimbulkan kerugian sekitar 5,8 miliar dolar AS (sekitar Rp90 triliun). Dalam kondisi seperti ini, menjaga uang berarti bukan hanya mengatur pengeluaran, tapi juga melindungi informasi yang bisa digunakan untuk mengakses akun.

Kamu memang gak selalu bisa mencegah seseorang mencoba melakukan penipuan, tapi ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk memperkecil risikonya. Menggunakan kata sandi yang kuat, mengaktifkan notifikasi pada akun, serta rutin memeriksa laporan kredit dapat membantu agar aktivitas mencurigakan lebih cepat diketahui. Penggunaan kata sandi yang lebih aman juga penting karena teknologi saat ini membuat kata sandi yang lemah semakin gampang dibobol.

Kasus di Amerika Serikat tersebut menunjukkan bahwa literasi keuangan punya pengaruh besar terhadap kondisi dompet sehari-hari. Kamu gak harus menjadi ahli ekonomi untuk mulai memahami cara kerja bunga, biaya rekening, anggaran belanja, dan keamanan akun. Justru dengan memahami hal-hal dasar tersebut, kamu bisa mengurangi kebiasaan yang diam-diam membuat uang terus keluar.

Semakin baik pemahamanmu soal keuangan, semakin besar pula peluang untuk menggunakan penghasilan sesuai kebutuhan dan tujuan yang ingin kamu capai.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article