Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Utang AS Tembus Rp719,7 Kuadriliun, Rekor dalam Sejarah

Utang AS Tembus Rp719,7 Kuadriliun, Rekor dalam Sejarah
ilustrasi bendera Amerika Serikat (pexels.com/Andrea Piacquadio)
  • Utang nasional AS menembus rekor 40 triliun dolar AS atau sekitar Rp719,7 kuadriliun, lebih dari dua kali lipat dibandingkan satu dekade lalu.
  • Defisit anggaran Juli mencapai 432,3 miliar dolar AS, sementara pembayaran bunga pemerintah hampir 1,2 triliun dolar AS dan menekan pasar obligasi.
  • Kongres belum menyepakati rancangan belanja, sehingga pemerintahan AS terancam ditutup pada 30 September 2026 tanpa persetujuan anggaran yang ditandatangani presiden.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN TimesUtang nasional Amerika Serikat (AS) untuk pertama kalinya menembus 40 triliun dolar AS (sekitar Rp719,7 kuadriliun), berdasarkan data Departemen Keuangan AS pada Selasa (18/8/2026).

Dilansir CNBC, pencapaian tersebut terjadi sekitar empat setengah tahun setelah utang AS melewati 30 triliun dolar AS (sekitar Rp539,1 kuadriliun). Sementara itu, nilainya telah meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan 19,4 triliun dolar AS (sekitar Rp348,6 kuadriliun) pada satu dekade sebelumnya.

Porsi utang yang dipegang publik kini mendekati 100 persen dari total perekonomian. Kondisi ini terjadi seiring akumulasi defisit anggaran tahunan, termasuk paket stimulus besar selama pandemik COVID-19.

  1. 1. Defisit anggaran AS mendorong peningkatan utang

    ilustrasi dolar AS (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)
    ilustrasi dolar AS (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

    Beban finansial tersebut meningkat seiring defisit bulanan mencapai 432,3 miliar dolar AS (sekitar Rp7,77 kuadriliun) pada Juli, menjadi kesenjangan fiskal terbesar sejak Maret 2021. Nilai defisit sejak awal tahun hingga saat ini mendekati 1,8 triliun dolar AS (sekitar Rp32,35 kuadriliun), lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, defisit federal secara keseluruhan hampir berlipat ganda dalam satu dekade terakhir, dicatat The Guardian.

    Kenaikan belanja berlangsung pada masa pemerintahan Donald Trump dan Joe Biden. Berdasarkan data Komite untuk Anggaran Federal yang Bertanggung Jawab (CRFB), Trump menyetujui tambahan utang 8,4 triliun dolar AS (sekitar Rp150,9 kuadriliun) yang sebagian besar dialokasikan untuk bantuan pandemi, sedangkan Biden menyetujui 4,3 triliun dolar AS (sekitar Rp77,3 kuadriliun).

    Menurut Pusat Kebijakan Bipartisan (BPC), pada tahun fiskal 2026 yang dimulai Oktober 2025, akumulasi utang bertambah 1,8 triliun dolar AS (sekitar Rp32,35 kuadriliun), dengan porsi besar untuk pengembalian tarif senilai 100 miliar dolar AS (sekitar Rp1,8 kuadriliun). Hal ini terjadi setelah lembaga pengawas sebelumnya memperkirakan utang mencapai 40 triliun dolar AS setelah menyentuh 39 triliun dolar AS (sekitar Rp700,8 kuadriliun) pada Maret.

  2. 2. Utang AS meningkatkan tekanan pasar keuangan

    ilustrasi portofolio investasi
    ilustrasi portofolio investasi (pexels.com/Artem Podrez)

    Ketimpangan anggaran turut memengaruhi pasar keuangan melalui kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah sejak akhir Juni hingga mencapai level tertinggi sejak krisis keuangan global. Kondisi krisis tersebut terjadi ketika Federal Reserve (The Fed) menekan suku bunga mendekati nol dan membeli obligasi dalam jumlah besar.

    Tekanan berkaitan dengan tingginya penerbitan obligasi korporasi untuk proyek kecerdasan buatan, peningkatan premi jangka, dan ketidakpastian arah kebijakan bank sentral terhadap inflasi. Selain itu, pembayaran bunga pemerintah hampir mencapai 1,2 triliun dolar AS (sekitar Rp21,56 kuadriliun) tahun ini, sehingga menjadi pengeluaran terbesar setelah Jaminan Sosial dan Medicare.

    Departemen Keuangan AS menyampaikan rencana untuk meningkatkan hingga dua kali lipat nilai pembelian kembali utang pada bagian ujung panjang kurva imbal hasil guna meredakan gejolak. Kebijakan diambil sebagai respons terhadap reaksi pasar atas inflasi yang berkelanjutan dan ketegangan AS dengan Iran. Meski tak meningkatkan total pinjaman, langkah tersebut menunjukkan tantangan dalam menarik investor.

  3. 3. Kongres AS menghadapi ancaman penutupan pemerintahan

    Bendera Amerika Serikat (pexels.com/Brett Sayles)
    Bendera Amerika Serikat (pexels.com/Brett Sayles)

    Situasi fiskal turut dipengaruhi Kongres AS yang belum bersidang karena Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Senat masih memiliki perbedaan dalam rancangan undang-undang belanja. Tanpa kesepakatan akhir yang telah ditandatangani presiden, penutupan pemerintahan terancam terjadi pada 30 September 2026.

    Maya MacGuineas, presiden CRFB, menggambarkan besarnya persoalan anggaran yang dihadapi AS dengan membandingkannya pada sejarah utang negara tersebut. Menurut MacGuineas, dibutuhkan hampir 200 tahun bagi utang kotor AS untuk mencapai 1 triliun dolar (sekitar Rp17,97 kuadriliun) untuk pertama kalinya pada 1981, sedangkan utang 40 triliun dolar AS tak hanya tercatat dalam pembukuan pemerintah karena turut dirasakan dalam perekonomian dan masuk ke kantong masyarakat melalui berbagai cara, sementara peningkatan pinjaman memperburuk inflasi, menekan prioritas anggaran lain, serta meningkatkan kerentanan terhadap keadaan darurat domestik dan gejolak luar negeri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More