Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Peluang Bisnis yang Muncul dari Tren Frugal Living

5 Peluang Bisnis yang Muncul dari Tren Frugal Living
Produk Secondhand (freepik.com/freepik)
  • Tren frugal living mengubah pola belanja menjadi lebih selektif, dengan konsumen mempertimbangkan manfaat, kualitas, daya tahan, harga, dan efisiensi sebelum membeli.
  • Bisnis rental dan refill berpeluang karena menawarkan penggunaan sesuai kebutuhan, biaya lebih hemat, serta potensi pembelian atau penyewaan berulang bagi konsumen.
  • Barang secondhand, thrifting, dan upcycling menarik lewat harga lebih terjangkau, kurasi kualitas, produk unik, serta pemanfaatan kembali barang atau material yang masih bernilai.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Tren frugal living semakin menarik perhatian ketika konsumen mulai lebih berhati-hati dalam mengelola pengeluaran. Frugal living bukan sekadar kebiasaan mengurangi belanja, tetapi cara hidup yang mendorong seseorang untuk menggunakan uang secara lebih sadar, memilih produk berdasarkan manfaat, serta menghindari pembelian yang tidak diperlukan. Kondisi ini membuat pola konsumsi ikut berubah. Konsumen tidak selalu mencari barang termurah, tetapi mulai mempertimbangkan kualitas, daya tahan, fungsi, harga, dan seberapa besar manfaat yang diperoleh dari sebuah produk atau layanan.

Perubahan tersebut sebenarnya tidak hanya menjadi tantangan bagi pelaku usaha, tetapi juga membuka peluang bisnis baru. Ketika konsumen mulai mengurangi pembelian impulsif dan berpikir lebih panjang sebelum checkout, bisnis yang menawarkan solusi hemat, praktis, awet, dapat digunakan berulang kali, atau memberikan value for money berpotensi semakin menarik. Dari bisnis barang secondhand hingga jasa perbaikan, tren frugal living dapat melahirkan berbagai peluang usaha yang menyesuaikan diri dengan cara konsumen baru dalam membelanjakan uang. Berikut ini beberapa peluang bisnis yang muncul dari tren frugal living.

  1. 1. Bisnis rental

    Menyewakan mobil
    Menyewakan Mobil (freepik.com/freepik)

    Frugal living membuat sebagian konsumen mulai mempertanyakan apakah semua barang harus dimiliki sendiri. Untuk barang yang hanya digunakan sesekali, menyewa bisa terasa lebih masuk akal daripada membeli. Kondisi ini menciptakan peluang bagi bisnis rental, mulai dari penyewaan perlengkapan pesta, kamera, alat camping, kendaraan, pakaian acara, perlengkapan bayi, hingga peralatan rumah tangga tertentu.

    Keuntungan model ini adalah satu barang dapat menghasilkan pendapatan berkali-kali selama masih dalam kondisi layak disewakan. Pelaku bisnis juga dapat menawarkan paket penyewaan berdasarkan durasi atau kebutuhan konsumen. Agar menarik, bisnis rental perlu memperhatikan kualitas barang, kebersihan, kemudahan pemesanan, sistem deposit, serta ketentuan penggunaan yang jelas. Semakin mudah dan aman proses penyewaan, semakin besar kemungkinan konsumen memilih menyewa daripada membeli.

  2. 2. Bisnis refill

    Zero waste store
    Zero waste store (pexels.com/Polina Tankilevitch)

    Konsep refill atau isi ulang juga sejalan dengan prinsip frugal living karena konsumen dapat membeli produk sesuai kebutuhan tanpa selalu membeli kemasan baru. Produk yang bisa dikembangkan cukup beragam, seperti sabun, deterjen, pewangi, produk pembersih rumah, hingga berbagai kebutuhan sehari-hari lainnya.

    Dari sisi bisnis, model refill juga dapat membangun pola pembelian berulang. Konsumen yang sudah cocok dengan produk akan kembali ketika persediaannya habis. Pelaku usaha dapat menawarkan ukuran pembelian yang fleksibel sehingga konsumen tidak perlu membeli dalam jumlah besar jika kebutuhannya sedikit. Jika dipadukan dengan konsep ramah lingkungan, bisnis refill juga dapat menjangkau konsumen yang tidak hanya ingin berhemat, tetapi juga mulai memperhatikan jumlah sampah dari aktivitas konsumsi sehari-hari.

  3. 3. Bisnis barang secondhand

    Berjualan
    Berjualan (freepik.com/freepik)

    Meningkatnya minat terhadap gaya hidup hemat dapat menjadi peluang bagi bisnis barang secondhand. Produk seperti pakaian, furnitur, elektronik tertentu, buku, perlengkapan rumah tangga, hingga barang koleksi dapat memiliki pasar tersendiri selama kondisinya masih layak digunakan. Bagi konsumen, membeli barang secondhand memberikan kesempatan untuk mendapatkan produk dengan harga lebih rendah dibandingkan dengan membeli barang baru.

    Dari sisi bisnis, model ini juga menarik karena pelaku usaha tidak selalu harus memproduksi barang dari awal. Nilai dapat diciptakan melalui proses kurasi, pemeriksaan kualitas, pembersihan, perbaikan ringan, fotografi produk, hingga pelayanan yang membuat konsumen merasa aman saat membeli. Jika dikelola dengan baik, bisnis secondhand bukan hanya menjual barang bekas, tetapi juga menawarkan produk yang sudah diseleksi dan siap digunakan kembali.

  4. 4. Bisnis thrifting

    thrifting
    ilustrasi thrifting (unsplash.com/Jin-Woo Lee)

    Thrifting menjadi salah satu peluang yang cukup dekat dengan tren frugal living, terutama bagi konsumen yang ingin tetap mengikuti perkembangan fashion tanpa harus mengeluarkan biaya terlalu besar. Pakaian secondhand dengan model menarik, kondisi bagus, atau bahkan karakter unik dapat menjadi pilihan bagi konsumen yang ingin mendapatkan penampilan berbeda dengan anggaran lebih terbatas.

    Peluang bisnis thrifting juga semakin luas karena penjualan tidak harus dilakukan melalui toko fisik. Pelaku usaha dapat menggunakan media sosial, marketplace, live shopping, atau sistem pre-order untuk menjangkau konsumen. Tantangan utamanya adalah menjaga kualitas produk dan membangun kepercayaan. Deskripsi kondisi barang, ukuran yang jelas, foto detail, serta transparansi mengenai kekurangan produk dapat menjadi faktor penting agar konsumen merasa yakin untuk membeli.

  5. 5. Bisnis upclying

    Handmade
    Kerajinan Handmade (freepik.com/freepik)

    Barang yang dianggap tidak terpakai belum tentu benar-benar tidak memiliki nilai. Tren frugal living dapat mendorong munculnya bisnis upcycling, yaitu mengubah barang atau material yang sudah ada menjadi produk baru dengan fungsi dan nilai yang berbeda. Contohnya, kain sisa menjadi aksesori, furnitur lama menjadi dekorasi, atau material tertentu diolah menjadi produk kerajinan.

    Peluang ini menarik karena produk yang dihasilkan dapat memiliki karakter unik dan tidak selalu mudah ditemukan di pasaran. Nilai bisnisnya bukan hanya berasal dari bahan, tetapi juga kreativitas, desain, keterampilan, dan cerita di balik produk. Jika dikemas dengan baik, bisnis upcycling dapat menarik konsumen yang menyukai produk unik sekaligus ingin mengurangi pemborosan.

    Tren frugal living tidak selalu berarti konsumen berhenti berbelanja. Justru, pola konsumsi dapat berubah menjadi lebih selektif. Konsumen mulai bertanya apakah sebuah produk benar-benar dibutuhkan, apakah kualitasnya sepadan dengan harga, apakah barang tersebut bisa digunakan dalam jangka panjang, dan apakah ada alternatif yang lebih efisien. Nah, dari sinilah peluang bisnis yang muncul dari tren frugal living hadir. Peluang bisnis tersebut pun menawarkan solusi nyata, bukan sekadar mendorong konsumen untuk membeli lebih banyak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More