Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Penjualan Gucci Anjlok, Saham Induknya Ikut Terjun Bebas
ilustrasi gerai Gucci, produk branded, barang mewah, bisnis ritel (pexels.com/Eva Klanduchova)
  • Pendapatan Gucci kuartal III 2026 turun 6% menjadi 1,291 miliar euro, lebih buruk dari perkiraan analis; penjualan ritel langsung, termasuk e-commerce, merosot 9%.
  • Permintaan lemah di China daratan dan Jepang, berkurangnya kunjungan toko, inflasi, serta ketidakpastian ekonomi menekan belanja barang mewah dan pemulihan Gucci.
  • Setelah laporan dirilis, saham Kering sempat jatuh 10,7%; grup mempercepat restrukturisasi, sementara perhiasan, kacamata, dan merek selain Gucci mencatat pertumbuhan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kalau kamu mengikuti perkembangan industri fashion mewah, nama Gucci tentu sudah gak asing lagi. Merek asal Italia ini dikenal lewat produk fesyen premium yang memiliki harga tinggi dan penggemar di berbagai negara. Akan tetapi, popularitas sebuah merek ternyata gak selalu menjamin penjualannya tetap tumbuh di tengah kondisi ekonomi yang menantang.

Hal ini terlihat dari kinerja Gucci pada kuartal III 2026 yang justru mencatatkan penurunan pendapatan lebih dalam dari perkiraan analis. Kondisi penjualan Gucci anjlok turut menekan saham perusahaan induknya, Kering, sekaligus menambah tantangan bagi manajemen untuk memulihkan bisnis grup.

Bagi kamu yang ingin memahami perkembangan bisnis merek mewah dunia, situasi ini menarik untuk dicermati. Penurunan penjualan Gucci memperlihatkan bagaimana perubahan daya beli konsumen, terutama di pasar penting seperti China, dapat memengaruhi kinerja perusahaan berskala global.

Di sisi lain, Kering juga sedang menjalankan restrukturisasi untuk memperbaiki efisiensi dan memperkuat identitas merek-mereknya. Lantas, apa saja faktor yang membuat kinerja Gucci melemah dan bagaimana dampaknya terhadap Kering? Berikut lima hal yang perlu kamu ketahui.

1. Penjualan Gucci turun lebih dalam dari perkiraan analis

ilustrasi Gucci, produk branded, barang mewah, bisnis ritel, aksesoris, kacamata (unsplash.com/L Photography)

Pada kuartal III 2026, Gucci mencatatkan pendapatan sebesar 1,291 miliar euro atau sekitar Rp25,2 triliun, dengan penurunan 6 persen secara tahunan berdasarkan perbandingan yang telah disesuaikan. Angka ini menunjukkan bahwa upaya pemulihan bisnis Gucci masih menghadapi tantangan. Sebelumnya, analis memperkirakan penurunan penjualan merek tersebut hanya sekitar 2,8 persen, sehingga hasil akhirnya lebih buruk dari ekspektasi pasar. Kondisi ini membuat perhatian investor kembali tertuju pada kemampuan Gucci untuk memperbaiki kinerjanya.

Salah satu persoalan utama yang dihadapi Gucci adalah berkurangnya jumlah pengunjung di toko fisiknya. Menurut laporan kinerja Kering, penjualan melalui jaringan ritel yang dikelola langsung oleh Gucci, termasuk kanal e-commerce, turun 9 persen secara tahunan pada kuartal tersebut. Sementara itu, pendapatan dari penjualan grosir dan kanal lainnya justru meningkat 35 persen secara sebanding. Perbedaan ini menunjukkan bahwa tantangan Gucci terutama terlihat pada aktivitas penjualan melalui jaringan ritelnya sendiri.

2. China dan Jepang menjadi tantangan besar bagi Gucci

ilustrasi tas Gucci, produk branded, barang mewah, bisnis ritel, bisnis fashion (unsplash.com/Lala Azizli)

China daratan menjadi salah satu pasar yang paling memengaruhi kinerja Gucci selama kuartal III 2026. Rendahnya jumlah pengunjung toko di kawasan Asia Pasifik, terutama China, ikut menekan penjualan merek tersebut. Jepang juga mengalami pelemahan permintaan sehingga kinerja Gucci di Asia belum menunjukkan pemulihan yang kuat. Bagi merek mewah yang mengandalkan konsumen berdaya beli tinggi, perubahan perilaku belanja di pasar-pasar utama seperti ini bisa berdampak besar terhadap pendapatan.

Chief Financial Officer Kering, Armelle Poulou, secara terbuka menyebut China daratan sebagai hambatan utama yang dihadapi perusahaan. Tekanan juga datang dari kondisi ekonomi yang membuat konsumen lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang untuk barang mewah. Inflasi yang berkepanjangan mengurangi daya beli, sementara konflik di Timur Tengah menambah ketidakpastian ekonomi global. Situasi tersebut membuat konsumen perlu mempertimbangkan kembali pengeluaran untuk produk premium, termasuk tas, pakaian, dan aksesori desainer.

Kondisi Gucci memperlihatkan bahwa merek terkenal tetap bergantung pada kekuatan daya beli konsumennya. Popularitas dan citra eksklusif memang penting, tapi keduanya belum tentu cukup untuk mempertahankan pertumbuhan ketika konsumen mulai menahan pengeluaran. Perusahaan juga harus memastikan produk yang ditawarkan tetap menarik dan sepadan dengan harga yang dibayarkan pelanggan. Jika minat belanja belum pulih, upaya meningkatkan penjualan kemungkinan membutuhkan waktu lebih panjang.

3. Saham Kering ikut anjlok setelah laporan keuangan dirilis

ilustrasi investasi, krisis, risiko, saham (magnific.com/tirachardz)

Melemahnya penjualan Gucci langsung memengaruhi sentimen investor terhadap Kering, perusahaan induk yang menaungi sejumlah merek mewah dunia. Pada Jumat (23/10/2026), saham Kering sempat turun 10,7 persen pada awal perdagangan di Paris setelah laporan kinerja kuartal III dirilis sehari sebelumnya. Penurunan tersebut memperlihatkan bahwa investor masih meragukan kecepatan pemulihan bisnis perusahaan. Mereka berharap ada tanda-tanda perbaikan yang lebih meyakinkan dari Gucci, tapi hasil terbaru belum memenuhi ekspektasi tersebut.

Tekanan terhadap saham Kering juga berkaitan dengan kinerja grup secara keseluruhan. Pada kuartal III 2026, pendapatan Kering tercatat sebesar 3,345 miliar euro atau sekitar Rp65,2 triliun, relatif stabil secara nominal, tapi turun 1 persen setelah penyesuaian untuk perbandingan kinerja yang sebanding. Hasil ini menunjukkan bahwa pelemahan Gucci masih cukup berpengaruh terhadap pertumbuhan perusahaan. Meski demikian, penjualan ritel merek-merek Kering lainnya di luar Gucci justru meningkat 2 persen secara sebanding, sehingga masih ada bagian bisnis yang menunjukkan perkembangan positif.

Kondisi ini penting dipahami karena harga saham mencerminkan ekspektasi investor terhadap kinerja perusahaan pada masa mendatang, bukan hanya hasil keuangan yang sudah tercatat. Ketika perusahaan belum memperlihatkan pemulihan yang meyakinkan, investor bisa menjadi lebih berhati-hati dalam menilai prospeknya. Namun, penurunan harga saham dalam satu sesi perdagangan juga tidak otomatis berarti perusahaan akan terus mengalami kemerosotan. Perkembangan kinerja pada kuartal-kuartal berikutnya akan menjadi salah satu faktor penting yang diperhatikan pasar.

4. Kering melakukan restrukturisasi untuk memulihkan bisnis

ilustrasi tas Gucci, produk branded, barang mewah, bisnis ritel, bisnis fashion (unsplash.com/Kouji Tsuru)

CEO Kering, Luca de Meo, sedang menjalankan restrukturisasi untuk memperbaiki kinerja grup yang menghadapi tekanan dalam beberapa tahun terakhir. Ia mulai memimpin perusahaan setelah meninggalkan produsen mobil Renault pada 2025, dengan mandat untuk memperkuat operasional dan meningkatkan daya saing merek-merek di bawah Kering. Strateginya mencakup pengintegrasian sejumlah fungsi produksi, penguatan identitas setiap merek, serta pemusatan sebagian pengambilan keputusan. Langkah-langkah tersebut diharapkan membuat perusahaan lebih efisien sekaligus memperjelas posisi setiap merek di pasar barang mewah.

Salah satu langkah konkret yang ditempuh Kering adalah mengurangi jumlah toko yang kinerjanya kurang memuaskan. Hingga akhir September 2026, perusahaan telah menyelesaikan penutupan bersih sebanyak 105 toko sepanjang tahun berjalan, setelah memperhitungkan toko yang ditutup dan dibuka kembali dalam bentuk lokasi baru. Kering kemudian menaikkan target penutupan bersih menjadi sedikitnya 125 toko hingga akhir 2026. Pengurangan jaringan toko ini menjadi bagian dari upaya perusahaan mengendalikan biaya dan meningkatkan efisiensi operasional.

Meski begitu, restrukturisasi gak bisa langsung memberikan hasil dalam waktu singkat. Kering masih perlu memastikan bahwa perubahan operasional tersebut mampu meningkatkan profitabilitas tanpa mengorbankan daya tarik merek di mata konsumen. De Meo juga menegaskan bahwa pemulihan Gucci tetap menjadi prioritas utama perusahaan. Kering mempertahankan target untuk meningkatkan margin operasional berulang pada 2026, meskipun prospek pendapatan jangka pendek masih menghadapi tantangan ekonomi.

5. Merek lain memberikan harapan di tengah lemahnya Gucci

ilustrasi gerai Bottega Veneta, produk branded, barang mewah, bisnis ritel, bisnis fashion (unsplash.com/Henry Möllers)

Di tengah tekanan yang dialami Gucci, beberapa bisnis lain di bawah Kering masih menunjukkan pertumbuhan. Penjualan ritel merek-merek selain Gucci, termasuk Saint Laurent dan Bottega Veneta, meningkat 2 persen secara sebanding pada kuartal III 2026. Hasil tersebut memperlihatkan bahwa pelemahan kinerja tidak terjadi secara merata di seluruh portofolio perusahaan. Meski demikian, pertumbuhan merek lain tetap perlu dilihat bersama kontribusinya terhadap pendapatan dan keuntungan grup secara keseluruhan.

Divisi perhiasan Kering juga mencatatkan kinerja yang cukup kuat dengan pertumbuhan pendapatan 11 persen secara sebanding pada kuartal tersebut. Sementara itu, divisi kacamata mencatatkan kenaikan penjualan 4 persen secara sebanding. Pertumbuhan kedua divisi ini menjadi titik positif ketika bisnis fesyen dan barang berbahan kulit masih menghadapi tekanan. Perusahaan pun memiliki peluang untuk mengembangkan bisnis di luar Gucci sambil terus memperbaiki kinerja merek andalannya tersebut.

Ke depan, tantangan Kering adalah menjaga momentum pertumbuhan merek-merek yang berkinerja baik sekaligus mengembalikan daya tarik Gucci. Perusahaan perlu memperhatikan kualitas produk, strategi harga, serta kebutuhan konsumen di pasar utama seperti China. Jika upaya tersebut berhasil, kontribusi merek lain dapat membantu memperkuat bisnis grup selama proses pemulihan Gucci berlangsung. Namun, hasil akhirnya masih bergantung pada perkembangan permintaan barang mewah dan efektivitas strategi yang dijalankan manajemen.

Penjualan Gucci anjlok pada kuartal III 2026 menjadi tantangan besar bagi Kering karena merek tersebut memiliki peran penting dalam bisnis grup. Lemahnya permintaan di China dan Jepang, berkurangnya kunjungan ke toko, serta kondisi ekonomi global yang menantang ikut memperlambat pemulihan perusahaan.

Meski saham Kering sempat anjlok, pertumbuhan divisi perhiasan, kacamata, dan sejumlah merek lain masih memberikan harapan. Pada akhirnya, keberhasilan restrukturisasi dan kemampuan Gucci kembali menarik minat konsumen akan menjadi faktor penting yang menentukan arah bisnis Kering selanjutnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article