BCA Bawa 11 Desa Wisata Binaan Menembus Pasar Global

- BCA membawa 11 desa wisata binaan ke WITF 2026 di Jakarta untuk menjangkau pasar internasional melalui interaksi dengan 64 pelaku industri pariwisata.
- Pendapatan Desa Bakti BCA dari perluasan akses pasar luar negeri mencapai Rp536 juta sepanjang 2024–2025, sementara ITB Berlin 2026 mencatat potensi transaksi Rp1,9 miliar.
- Pada semester I-2026, kontribusi BCA terhadap pendapatan desa wisata dan UMKM mencapai Rp2,22 miliar melalui penguatan SDM, kelembagaan, promosi, dan jaringan kemitraan.
Jakarta, IDN Times - PT Bank Central Asia Tbk (BCA) membuka peluang bagi 11 desa wisata binaan untuk menjangkau pasar internasional. .
Adapun, pameran yang telah berlangsung pada 15–17 Oktober 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta, sebanyak 64 pelaku industri pariwisata menjajaki peluang kerja sama dengan desa wisata binaan Bakti BCA.
1. Buka peluang kerja sama bisnis yang nyata dan berkelanjutan

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn. (IDN Times/Triyan). EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, keikutsertaan dalam WITF 2026 menjadi salah satu upaya perseroan memperluas akses pasar desa wisata ke tingkat internasional.
“Akses pasar menjadi satu hal penting yang perlu didorong dalam mengembangkan Desa Bakti BCA. Melalui partisipasi di WITF 2026 serta interaksi langsung bersama puluhan buyers mancanegara, kami ingin membuka peluang kerja sama bisnis yang nyata dan berkelanjutan bagi Desa Bakti BCA,” ujar Hera dalam keterangan tertulis, Kamis (29/10/2026).
Sebanyak 11 desa binaan yang mengikuti pameran tersebut menawarkan paket wisata berbasis kekayaan budaya dan alam daerah. Desa tersebut meliputi Kampung Adat Sijunjung di Sumatra Barat, Desa Wisata Dayun di Riau, Desa Wisata Limbongan dan Bukit Peramun di Belitung, serta Desa Wisata Taro di Bali.
Selain itu, terdapat Wisata Wayang Desa Wukirsari di Yogyakarta, Desa Wisata Edelweiss Wonokitri, Desa Wisata Tamansari, Desa Wisata Bilebante di Nusa Tenggara Barat, Kampung Adat Prai Ijing atau Tebara di Nusa Tenggara Timur, serta Desa Wisata Pulau Derawan di Kalimantan Timur.
2. Pendapatan desa bakti BCA capai Rp536 juta sejak 2024-2025

ilustrasi menghitung dengan kalkulator, revenue, pendapatan, entrepreneur, pengusaha, bisnis, usaha (unsplash.com/Jakub Żerdzicki) Upaya memperluas pasar internasional tersebut juga berkontribusi terhadap pendapatan desa binaan.
"Sepanjang 2024–2025, pendapatan Desa Bakti BCA dari perluasan akses pasar luar negeri mencapai Rp536 juta. Sementara itu, partisipasi dalam pameran pariwisata ITB Berlin pada 2026 mencatatkan potensi nilai transaksi sebesar Rp1,9 miliar," ujarnya.
3. Kontribusi BCA ke pendapatan desa wisata dan UMKM capai Rp2,22 miliar

ilustrasi cadangan devisa (unsplash.com/ Viacheslav Bublyk) Di dalam negeri, kontribusi BCA terhadap pendapatan desa wisata dan UMKM mencapai Rp 2,22 miliar pada semester I-2026. Angka tersebut terdiri dari kontribusi sektor UMKM sebesar Rp 1,92 miliar dan paket wisata sebesar Rp 301 juta.
BCA menjalankan program pemberdayaan UMKM dan desa melalui dua fokus utama, yakni peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dan kelembagaan serta perluasan akses pasar melalui promosi dan pembentukan jaringan kemitraan.
Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif hingga September 2026, terdapat 6.396 desa wisata di Indonesia. Pengembangan desa wisata berpotensi mendukung perekonomian lokal, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus membuka peluang penerimaan devisa dari sektor pariwisata.
"BCA berupaya mendorong pertumbuhan bisnis yang turut memberikan manfaat bagi masyarakat melalui prinsip creating shared value atau penciptaan nilai bersama," ujarnya.





















