ilustrasi pabrik baja (freepik.com/KamranAydinov)
China menjadi salah satu contoh negara yang menghadapi persoalan kapasitas berlebih dalam jangka panjang. Sejak 2009, perekonomian negara tersebut disebut mengalami kondisi ini untuk ketiga kalinya. Periode sebelumnya terjadi pada 1998-2001 dan 2003-2006.
Kelebihan kapasitas terutama menjadi tantangan di sektor manufaktur, termasuk industri baja, semen, aluminium, kaca datar, dan otomotif. Persoalan ini tetap muncul meskipun China telah menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia.
Dalam industri otomotif, pabrik perakitan membutuhkan biaya tetap yang besar. Sementara itu, sejumlah fasilitas produksi baru di China bergantung pada insentif pemerintah daerah. Kondisi tersebut menciptakan dorongan agar pabrik terus beroperasi dan pekerja tetap bekerja, meskipun produksi yang dihasilkan belum tentu terserap pasar.
Ketika jumlah mobil yang diproduksi melampaui permintaan domestik, produsen menghadapi tekanan untuk menurunkan harga. Persaingan harga dapat mengurangi keuntungan perusahaan, sedangkan kelebihan produksi mendorong mereka mencari pembeli di pasar ekspor.
Masalahnya, mengurangi kapasitas produksi tidak selalu mudah. Penutupan pabrik yang relatif baru dapat memicu ketidakpuasan pemerintah daerah, terutama ketika fasilitas tersebut berkaitan dengan lapangan kerja dan investasi setempat. Akibatnya, perusahaan memiliki insentif terbatas untuk menghentikan produksi meskipun kapasitasnya berlebihan.
Pandemik COVID-19 kemudian menambah tekanan terhadap industri otomotif China. Pada Februari 2020, penjualan mobil di negara tersebut dilaporkan turun lebih dari 80 persen. Gangguan produksi di China juga berdampak pada industri otomotif global karena lebih dari 80 persen rantai pasokan otomotif dunia terhubung dengan negara tersebut.
Besarnya skala dan lamanya persoalan kapasitas berlebih di China menunjukkan bahwa masalah ini tidak sekadar berkaitan dengan fluktuasi permintaan sementara. Kondisi tersebut juga berpotensi memengaruhi perdagangan internasional, terutama ketika produsen mengandalkan pasar luar negeri untuk menyerap kelebihan produksinya.