Perjanjian Dagang Molor, AS Kerek Tarif Impor Korsel Jadi 25 Persen

- Saham Hyundai anjlok 4 persen setelah AS kerek tarif impor Korsel jadi 25 persen
- AS dan Korsel sudah melakukan kesepakatan dagang pada 2025, namun belum disetujui Parlemen Korsel
- Korsel merupakan salah satu pengekspor barang terbesar ke AS dengan nilai ekspor mencapai 131,6 miliar dolar AS pada 2024
Jakarta, IDN Times - Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah menaikkan tarif barang impor dari Korea Selatan (Korsel) dari yang semula 15 persen menjadi 25 persen. Langkah ini diambil Presiden Donald Trump pada Senin (26/1/2026) sebagai hukuman karena Negeri Ginseng menunda kesepakatan dagang dengan AS.
Kenaikkan tarif ini akan berdampak kepada berbagai produk impor yang datang datang dari Korsel ke AS. Beberapa di antaranya, seperti produk otomotif, obat-obatan, dan kayu-kayuan. Dengan kata lain, semua produk tersebut akan dikenakan tarif sebesar 25 persen jika ingin masuk ke Negeri Paman Sam.
“Karena Parlemen Korea Selatan belum mengesahkan perjanjian perdagangan bersejarah kita yang merupakan hak prerogatif mereka, dengan ini, saya menaikkan tarif Korea Selatan untuk produk otomotif, kayu, farmasi, dan semua tarif timbal balik lainnya dari 15 persen menjadi 25 persen,” kata Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social.
Table of Content
1. Saham Hyundai langsung anjlok usai AS kerek tarif jadi 25 persen

Imbas kenaikan tarif ini, harga saham Hyundai langsung anjlok drastis. Nilai saham salah satu perusahaan otomotif terbesar di Korea Selatan tersebut dilaporkan turun sebesar 4 persen.
Hyundai sendiri merupakan eksportir mobil terbesar ke AS. Pada 2025, total penjualan produk mobil mereka ke AS menyentuh angka 187,9 triliun won atau setara Rp2,1 kuadriliun.
Selain dari Hyundai, KIA juga menjadi salah satu eksportir produk mobil ke Washington. Anak perusahaan dari Hyundai itu juga berhasil mencatatkan penjualan fantastis pada 2025. Dilansir Korea Times, total penjualan mobil KIA ke AS mencapai 115 triliun won atau Rp1,3 kuadriliun.
2. AS dan Korsel sudah melakukan kesepakatan dagang pada 2025

AS dan Korsel sudah melakukan kesepakatan dagang pada Juli 2025. Dalam kesepakatan tersebut, AS setuju untuk mengenakan tarif sebesar 15 persen terhadap semua produk impor dari Korsel. Namun, kesepakatan tersebut hingga saat ini tidak bisa dilakukan karena belum mendapat persetujuan dari Parlemen Korea Selatan.
“Legislatif Korea Selatan tidak memenuhi kesepakatannya dengan Amerika Serikat. Presiden Lee Jae Myung dan saya mencapai kesepakatan besar untuk kedua negara pada 30 Juli 2025. Kami menegaskan kembali ketentuan ini saat saya berada di Korea Selatan pada 29 Oktober 2025. Lantas, mengapa Parlemen Korea Selatan belum menyetujuinya?” tulis Trump dalam pernyataannya.
3. Korsel merupakan salah satu pengekspor barang terbesar ke AS

Korsel sendiri merupakan salah satu pengekspor barang terbesar ke AS. Menurut Kantor Perwakilan Perdagangan AS yang ada di Korsel, nilai ekspor barang dari Seoul ke Washington pada 2024 saja mencapai angka 131,6 miliar dolar AS atau Rp2,2 kuadriliun.
Oleh karena itu, AS pada 2025 sepakat mengenakan tarif 15 persen untuk produk impor dari Korsel. Kesepakatan ini dilakukan guna memperlancar masuknya barang dari Korsel ke AS. Selain itu, langkah ini diambil guna mempererat kerja sama dagang antara kedua negara.
Namun, perjanjian itu kini tidak jadi dilakukan. Sebab, Trump telah memutuskan menaikkan tarif barang impor dari Negeri Ginseng menjadi 25 persen karena Parlemen Korsel hingga kini rupanya belum menyetujui kesepakatan yang dibuat pada 2025.
Trump sendiri dikabarkan belum secara resmi memberi tahu Korsel soal kenaikan tarif. Kendati begitu, Pemerintah Korsel akan segera menggelar pertemuan dengan kementerian terkait guna membahas masalah ini.

















