China Terapkan Bea Antidumping 99,2 Persen atas Bahan Chip Jepang

- China menerapkan bea antidumping sementara hingga 99,2 persen atas impor diklorosilan Jepang mulai 8 September 2026, setelah penyelidikan delapan bulan menemukan kerugian bagi produsen lokal.
- Jepang masih pemasok penting DCS China, dengan produk Jepang menguasai sekitar 72 persen pasar pada 2022-2024; Shin-Etsu dan mayoritas produsen dikenai tarif maksimum.
- Kebijakan ini sejalan dengan upaya China memperkuat kemandirian rantai pasok chip, sementara Jepang menilai dampaknya terhadap bisnis di tengah hubungan bilateral yang memanas.
Jakarta, IDN Times - China memberlakukan bea anti-dumping sementara hingga 99,2 persen terhadap impor diklorosilan (DCS) dari Jepang, bahan kimia penting dalam pembuatan semikonduktor. Kebijakan tersebut mulai berlaku pada Selasa (8/9/2026).
Importir DCS asal Jepang diwajibkan membayar deposit tunai kepada bea cukai sesuai besaran tarif yang ditetapkan. Langkah ini diambil oleh Beijing setelah penyelidikan selama delapan bulan yang menyimpulkan bahwa impor dari Jepang dengan harga dumping telah merugikan produsen lokal.
Kementerian Perdagangan China (MOFCOM) mengumumkan keputusan pendahuluan itu pada Senin (7/9/2026). Pihaknya menyatakan menerapkan langkah-langkah penanggulangan perdagangan secara konsisten dengan cara bijaksana dan terkendali untuk menjaga perdagangan yang adil dan bebas.
"Ke depannya, kami akan melanjutkan penyelidikan sesuai dengan hukum, sepenuhnya menjamin hak-hak semua pihak yang berkepentingan, dan membuat keputusan akhir yang objektif dan tidak memihak berdasarkan temuan penyelidikan," kata MOFCOM, dilansir South China Morning Post.
1. Jepang tetap menjadi pemasok utama DCS China

Ilustrasi chip. (unsplash.com/Yogesh Phuyal) Dikutip dari Asahi Shimbun, Shin-Etsu Chemical dan sebagian besar produsen Jepang lainnya dikenai tarif maksimum 99,2 persen. Sementara itu, pengiriman dari Denal Silane dikenai deposit sebesar 80,8 persen.
DCS digunakan dalam proses pengendapan lapisan tipis pada wafer silikon dan menjadi salah satu bahan penting dalam produksi berbagai jenis chip. China meluncurkan penyelidikan anti-dumping terhadap impor bahan kimia tersebut dari Jepang pada Januari lalu.
Jepang merupakan salah satu produsen utama DCS dunia. Shin-Etsu Chemical, Nippon Sanso, dan Sumitomo Seika termasuk tiga produsen terbesar secara global. Namun, China dalam beberapa tahun terakhir mulai meningkatkan sumber pasokannya dari negara lain, termasuk Korea Selatan.
Meski begitu, impor Jepang masih memiliki posisi penting di pasar China. Menurut data yang dikutip dari laporan industri, produk Jepang menyumbang sekitar 72 persen pasar DCS China pada periode 2022-2024. Pada Juli 2026, nilai impor DCS dari Jepang mencapai sekitar 2,6 juta dolar AS (Rp45,6 miliar) atau sekitar sepertiga dari total impor China untuk bahan kimia tersebut.
2. Ambisi China untuk mandiri dalam teknologi dan rantai pasok chip

Ilustrasi bendera China. (unsplash.com/CARLOS DE SOUZA) Keputusan Beijing mendapat perhatian dari pasar. Saham Tangshan Sunfar Silicon Industry, produsen DCS China yang mengajukan pengaduan yang memicu penyelidikan, melonjak hingga batas harian 10 persen di bursa Shanghai. Sebaliknya, saham Shin-Etsu Chemical turun hingga 1,5 persen di Tokyo.
Langkah terbaru ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang China untuk memperluas kemampuannya di seluruh rantai pasokan chip, guna mencapai kemandirian teknologi. Hal ini mencakup pengembangan perusahaan lokal yang memproduksi material, alat manufaktur, serta sistem mesin esensial untuk memproduksi semikonduktor secara mandiri.
3. Kebijakan baru China di tengah perselisihan Beijing-Tokyo yang semakin memanas

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi (kiri) saat bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di sela-sela KTT APEC 2025 di Korsel (31/10/2025). (Dok. laman resmi Kemlu China/www.fmprc.gov.cn) Menanggapi kebijakan tersebut, Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Minoru Kihara menyatakan bahwa Tokyo akan meneliti kebijakan tersebut dan menilai dampaknya terhadap perusahaan, guna mencegah gangguan yang tidak perlu terhadap kegiatan bisnis. Di sisi lain, juru bicara Shin-Etsu Chemical menyebutkan bahwa langkah ini tidak berdampak signifikan pada pendapatan karena DCS hanya mencakup sebagian kecil dari bisnis mereka.
Langkah terbaru Beijing ini dilakukan menjelang kunjungan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi ke Amerika Serikat yang diperkirakan akan terjadi bulan ini. Presiden China Xi Jinping juga berencana bertemu dengan Presiden AS Donald Trump, dengan kunjungan ke Gedung Putih yang dijadwalkan pada 24 September mendatang, The Japan Times melaporkan.
Hubungan Beijing-Tokyo telah memburuk akibat perselisihan mengenai Taiwan. Ketegangan meningkat sejak Takaichi pada November 2025 mengatakan bahwa serangan China terhadap Taiwan dalam situasi tertentu dapat menjadi ancaman bagi Jepang dan memicu respons militer negaranya. Beijing kemudian mengambil sejumlah langkah, termasuk memperketat kontrol ekspor tertentu dan memperingatkan warga negaranya agar berhati-hati bepergian ke Jepang.


















