ilustrasi Bank Sentral Eropa, ECB, gedung pencakar langit (pexels.com/Mat)
Di tengah perkembangan tersebut, Bank Sentral Eropa (ECB) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya pada Oktober 2026. Keputusan ini diambil karena kenaikan harga energi belum menunjukkan dampak lanjutan yang lebih luas terhadap perekonomian.
Meski begitu, ECB mengakui bahwa risiko penurunan pertumbuhan ekonomi semakin meningkat. Para analis juga memperkirakan bank sentral tersebut masih berpeluang menaikkan suku bunga satu kali lagi pada Desember apabila tekanan harga energi terus berlanjut.
Joe Nellis, kepala riset ekonomi di MHA, menilai bahwa zona euro masih memperlihatkan ketahanan yang cukup mengejutkan di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik. Namun, ia mengingatkan bahwa kondisi tersebut berpotensi menutupi persoalan struktural yang sudah berlangsung lama.
Beberapa di antaranya adalah pertumbuhan produktivitas yang lemah, investasi yang terbatas, tekanan demografi, serta menurunnya daya saing industri Eropa. Ia juga memperingatkan bahwa konflik di Timur Tengah berpotensi mempertahankan tekanan terhadap biaya energi dan transportasi, sehingga meningkatkan beban hidup rumah tangga ketika kepercayaan konsumen masih lemah.
Perlambatan pertumbuhan ekonomi zona euro pada kuartal III 2026 memang terjadi bersamaan dengan memburuknya kondisi ekonomi Prancis. Namun, Prancis bukan satu-satunya negara yang menghadapi persoalan karena Jerman dan Italia juga mencatat pertumbuhan yang terbatas.
Di sisi lain, Spanyol dan Irlandia memperlihatkan bahwa masih ada negara yang mampu mempertahankan performa ekonomi positif. Ke depan, kemampuan Eropa mengendalikan tekanan politik, utang, biaya energi, dan persoalan struktural akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah pertumbuhan ekonominya pada 2027.