Prabowo Temui Bos Inpex, Minta Proyek Blok Masela Cepat Dieksekusi

- Presiden Prabowo meminta percepatan implementasi Proyek Blok Masela setelah bertemu Presiden Direktur Inpex di Jepang, dengan target tender EPC rampung dan FID tercapai pada 2026.
- Pemerintah menekankan pentingnya proyek Lapangan Gas Abadi untuk memperkuat ketahanan energi nasional serta menjadikan Indonesia pemain utama di industri gas global.
- Bahlil menyebut total investasi proyek mencapai 20,9 miliar dolar AS termasuk teknologi CCS, dan potensi peningkatan nilai akibat dinamika geopolitik terkini.
Jakarta, IDN Times - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan Presiden Prabowo Subianto meminta Proyek Pengembangan Lapangan Gas Abadi, Blok Masela segera diimplementasikan.
Kepastian tersebut muncul usai Bahlil mendampingi Presiden Prabowo bertemu Presiden Direktur Inpex selaku investor proyek Blok Masela dalam kunjungan kerja di Jepang.
Pemerintah menargetkan proses tender Engineering, Procurement, and Construction (EPC) proyek tersebut dapat rampung pada 2026, serta Final Investment Decision (FID) alias keputusan akhir investasi.
"Bapak Presiden tadi dalam arahannya ketika saya pertemukan Presiden Direktur daripada Inpex dengan Bapak Presiden, mengharapkan agar project ini bisa cepat diimplementasikan," katanya disiarkan YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (31/3/2026).
1. Indonesia berambisi jadi pemain gas dunia

Bahlil menekankan pentingnya percepatan proyek di Lapangan Abadi tersebut karena statusnya sebagai salah satu penghasil migas raksasa. Menurutnya, keberhasilan proyek tersebut akan memperkuat ketahanan energi nasional di sektor migas.
Selain pemenuhan kebutuhan dalam negeri, operasional Blok Masela diproyeksikan mampu memposisikan Indonesia sebagai salah satu pemain utama industri gas di tingkat global.
"Dan kita minta untuk dipercepat. Kenapa ini harus dipercepat? Karena ini penghasil migas salah satu yang giant," paparnya.
2. Danantara siap serap gas untuk hilirisasi

Terkait kepastian pasar, Bahlil menyebut telah meminta agar produksi gas tersebut diserap sepenuhnya oleh domestik jika pasar luar negeri belum memberikan kepastian.
Dia mendorong Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) melalui PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) untuk mengambil peran tersebut.
"Kemarin saya minta untuk kalau seandainya market di luar belum clear, itu dibeli semua oleh Danantara, dalam hal ini PGN, supaya kita memperkuat hilirisasi dalam negeri," kata Bahlil.
3. Total investasi diprediksi mengalami peningkatan

Bahlil memaparkan,.konsesi Blok Masela sebenarnya telah dikuasai selama 27 tahun dan sempat terhambat perdebatan skema pembangunan di darat atau laut. Namun, setelah pertemuan intensif pada 2025, urusan tersebut sudah beres.
Total nilai proyek disepakati sebesar 20,9 miliar dolar AS, yang mencakup biaya pengembangan di Plan of Development (POD) sebesar 20 miliar dolar AS dan tambahan 1 miliar dolar AS untuk teknologi Carbon Capture and Storage (CCS).
"Alhamdulillah sudah selesai total project-nya 20,9 miliar dolar AS karena dia tambah CCS 1 miliar, di POD-nya itu 20 miliar. Tetapi dengan perkembangan geopolitik yang seperti ini kemungkinan besar akan nambah," kata Bahlil.


















