Proyek HPAL Vale Indonesia di Blok Pomalaa Beroperasi Tahun Ini

- PT Vale Indonesia menargetkan pabrik smelter nikel HPAL di Blok Pomalaa beroperasi lebih cepat, yakni pada kuartal ketiga 2026 setelah percepatan pembangunan bersama mitra strategis.
- Pabrik HPAL akan memproduksi hingga 120 ribu ton mixed hydroxide precipitate (MHP) per tahun sebagai bahan baku utama baterai kendaraan listrik, lengkap dengan pelabuhan khusus berkapasitas sembilan jetty.
- Proyek Blok Pomalaa telah mencapai progres 65,76 persen dan tambang nikelnya sudah mencatat penjualan perdana bijih nikel pada Februari 2026 dengan target produksi 300 ribu ton limonit per bulan.
Jakarta, IDN Times - PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menargetkan proyek smelter nikel berbasis high pressure acid leaching (HPAL) di Pomalaa, Sulawesi Tenggara, bakal beroperasi pada kuartal ketiga tahun ini.
Head of Corporate Finance and Investor Relations PT Vale Indonesia Tbk, Andaru Brahmono Adi mengatakan, penyelesaian pembangunan pabrik HPAL itu lebih cepat dari target.
“Dari sisi timeline-nya sendiri, tadinya kami perkirakan akan dapat beroperasi pada kuartal IV tahun ini, tapi ternyata ada percepatan yang luar biasa dari partner kami. Sehingga kemungkinan kami akan bisa lebihcepat beroperasi sejak kuartal III-2026,” kata Andaru dalam media briefing di Jakarta, Jumat (6/3/2026).
1. Bakal produksi bahan baku kendaraan listrik hingga 120 ribu ton per tahun

Pabrik HPAL di Blok Pomalaa akan menghasilkan 120 ribu ton mixed hydroxide precipitate (MHP) per tahun. MHP berbentuk bubuk hijau-abu yang mengandung nikel dan kobalt tinggi, yang menjadi bahan baku utama untuk bahan katoda bateral kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).
Selain pabrik, PT Vale Indonesia juga membangun pelabuhan khusus Pomalaa yang akan menjadi penunjang operasional pabrik, dengan kapasitas sembilan jetty.
2. Perkembangan proyek Blok Pomalaa

Secara keseluruhan, proyek pengembangan Blok Pomalaa atau Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa telah mencapai 65,76 persen. Sejumlah infrastruktur vital telah dituntaskan, mulai dari North Access Road (NAR), Gedung Main Construction Office, serta fasilitas persemaian modern berkapasitas satu juta bibit pohon sebagai bentuk komitmen keberlanjutan.
Pembangunan fasilitas penunjang lainnya juga dipercepat, termasuk Living Area (Operation Camp)yang telah mencapai 41 persen, Workshop dan Office Area mencapai 57 persen, serta kolaborasi strategis bersama mitra Huayou (KNI) di area Feed Preparation Plant dan HPAL.
3. Tambang nikel Blok Pomalaa sudah catatkan penjualan perdana

Lebih lanjut, tambang nikel di Blok Pomalaa sudah beroperasi. Di mana penjualan perdana bijih nikel telah terlaksana pada 28 Februari 2026.
Blok tersebut ditargetkan bisa memproduksi 300 ribu ton limonit per bulan, atau sekitar 9.677 ton limonit per hari.


















