Pemberdayaan petani dan pengolahan rempah di kawasan Perbukitan Menoreh, Kulon Progo. (Dok/Istimewa).
Upaya meningkatkan nilai tambah komoditas lokal juga dilakukan Asri Saraswati Iskandar bersama suaminya, Andhika Mahardika, melalui usaha Agradaya. Setelah berpindah dari kota ke pedesaan di Yogyakarta, Asri mengembangkan usaha yang berfokus pada pemberdayaan petani dan pengolahan rempah di kawasan Perbukitan Menoreh, Kulon Progo.
Asri melihat petani di wilayah tersebut telah membudidayakan rempah, tetapi sebagian besar masih berperan sebagai pemasok bahan baku. Sementara itu, proses pengolahan dilakukan di tempat lain sehingga nilai tambah produk belum sepenuhnya dinikmati petani.
Agradaya kemudian mendorong petani untuk meningkatkan kualitas hasil panen melalui pemahaman proses pascapanen dan standar mutu yang dibutuhkan pasar.
Salah satu inovasi yang digunakan adalah solar dryer house atau rumah pengering tenaga surya. Fasilitas ini membantu proses pengeringan hasil panen tanpa terlalu bergantung pada kondisi cuaca. Saat ini, Agradaya telah bermitra dengan lebih dari 300 petani dan memasarkan produknya ke pasar internasional.
“Bagi kami, hilirisasi akan lebih optimal jika kami tidak hanya melahirkan inovasi pengolahan komoditas, namun memberi transfer pengetahuan agar petani dapat memiliki kapasitas untuk meningkatkan nilai komoditas panen mereka kini dan nanti,” ujar Asri.
Melalui pendekatan tersebut, petani tidak hanya memasok bahan mentah, tetapi juga memperoleh pengetahuan untuk meningkatkan kualitas dan nilai jual hasil panen. Transfer pengetahuan ini diharapkan dapat memperkuat kemampuan petani dalam mengembangkan usaha secara berkelanjutan.