Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Rahasia di Balik Tata Letak Toko yang Bikin Belanja Tak Terkendali
ilustrasi pusat perbelanjaan (unsplash.com/Surinder Pal Singh)
  • Gruen transfer terjadi ketika konsumen kehilangan fokus belanja setelah berada di lingkungan toko yang dirancang khusus.
  • Rangsangan pancaindra, tata letak, banyak pilihan, dan barang dekat kasir dapat mendorong pembelian yang tidak direncanakan.
  • Konsep ini juga hadir secara digital melalui gulir tanpa batas, pop-up promosi, penghitung waktu mundur, dan rekomendasi produk.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • Apa?
    Gruen transfer adalah kondisi ketika konsumen kehilangan fokus pada tujuan belanja awal dan membeli produk secara impulsif.
  • Siapa?
    Konsumen, pengunjung toko, pelanggan belanja online, dan arsitek Victor Gruen terlibat dalam pembahasan ini.
  • Di mana?
    Fenomena ini diterapkan di toko fisik, pusat perbelanjaan, supermarket, IKEA, situs e-commerce, dan media sosial.
  • Kapan?
    Kini, konsep Gruen transfer tidak hanya diterapkan di toko fisik, tetapi juga berkembang ke dunia digital.
  • Mengapa?
    Desain ruang ritel memanfaatkan respons terhadap rangsangan dan kecenderungan kehilangan orientasi agar konsumen bertahan lebih lama serta membeli lebih banyak.
  • Bagaimana?
    Pencahayaan, warna, musik, aroma, lorong berkelok, produk di belakang toko, gulir tanpa batas, pop-up, dan rekomendasi produk mengalihkan perhatian konsumen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Orang yang masuk toko untuk membeli satu barang bisa pulang membawa banyak barang. Ini disebut Gruen transfer. Toko memakai lampu, musik, bau, dan jalan yang berkelok supaya orang melihat banyak barang. Victor Gruen punya nama pada istilah ini. Kini, cara seperti itu juga ada di belanja online.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Gagasan awal Victor Gruen menempatkan pusat perbelanjaan sebagai ruang publik modern yang memadukan tempat tinggal, bekerja, berbelanja, dan berkumpul. Konsepnya juga mencakup apartemen, sekolah, taman, serta pusat kebudayaan. Unsur-unsur ini menunjukkan adanya ruang bagi fungsi sosial dan komunitas dalam rancangan pusat perbelanjaan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pernah masuk ke toko hanya untuk membeli satu barang, tetapi keluar membawa banyak belanjaan yang sebenarnya tidak direncanakan? Pengalaman seperti ini ternyata cukup umum dan dikenal sebagai Gruen transfer.

Istilah tersebut diambil dari nama arsitek Victor Gruen. Gruen transfer menggambarkan kondisi ketika konsumen kehilangan fokus terhadap tujuan awal setelah berada di lingkungan toko yang dirancang secara khusus. Akibatnya, pengunjung berubah dari sekadar mencari barang tertentu menjadi berkeliling, melihat-lihat, lalu membeli produk secara impulsif.

Ironisnya, sebagaimana dilansir PsychoTricks, Victor Gruen justru tidak menyukai konsep yang kemudian dikaitkan dengan namanya. Dia menilai gagasannya tentang ruang publik dan pusat komunitas berubah menjadi kawasan komersial yang hanya berorientasi pada konsumsi. Lalu, bagaimana mekanisme Gruen transfer bekerja?

1. Psikologi di balik Gruen transfer

Ilustrasi pusat perbelanjaan (pixabay.com/pascalkoenig)

Gruen transfer muncul dari kombinasi beberapa prinsip psikologi. Intinya, desain ruang ritel memanfaatkan respons manusia terhadap rangsangan serta kecenderungan kehilangan orientasi di lingkungan yang kompleks. Kondisi tersebut membuat konsumen lebih santai, kurang fokus pada tujuan awal, dan lebih mudah melakukan pembelian yang tidak direncanakan.

Salah satu caranya ialah melalui rangsangan terhadap pancaindra. Pencahayaan, warna, musik, suhu ruangan hingga aroma disusun sedemikian rupa untuk memengaruhi suasana hati pengunjung. Pajangan yang mencolok mengalihkan perhatian dari daftar belanja, sementara musik yang diputar biasanya dipilih agar pengunjung bergerak lebih lambat sehingga memiliki lebih banyak waktu melihat-lihat produk.

Aroma juga memiliki peran penting. Bau roti yang baru dipanggang di supermarket atau parfum di department store dapat memunculkan perasaan nyaman dan membangun asosiasi positif terhadap pengalaman berbelanja. Berbagai rangsangan tersebut membuat perhatian konsumen terpecah sehingga lebih terbuka terhadap produk yang sebelumnya tidak ingin dibeli.

Selain itu, tata letak toko juga sengaja dibuat agar pengunjung tidak langsung mencapai tujuan. Lorong yang berkelok, susunan rak yang tidak lurus, serta minimnya pandangan langsung ke lokasi barang tertentu membuat konsumen lebih lama berada di dalam toko. Dalam kondisi ini, fokus untuk mencari satu produk bergeser menjadi keinginan menjelajahi area lain.

Gruen transfer juga berkaitan dengan sejumlah prinsip perilaku. Manusia secara alami tertarik pada hal baru sehingga menemukan produk yang tidak diduga bisa memberikan rasa puas. Keramaian pengunjung juga mendorong orang lain ikut menikmati aktivitas belanja.

Di sisi lain, semakin banyak pilihan yang dihadapi, semakin besar kelelahan dalam mengambil keputusan. Saat kondisi mental mulai lelah, keinginan menolak pembelian tambahan pun melemah. Karena itu, banyak toko menempatkan barang-barang kecil di dekat kasir untuk mendorong pembelian spontan.

2. Tidak hanya di toko fisik tetapi juga belanja online

ilustrasi belanja di e-commerce (magnific.com/tonodiaz)

Konsep Gruen transfer kini tidak hanya diterapkan di toko fisik, tetapi juga berkembang ke dunia digital. Tujuannya tetap sama, yaitu membuat pelanggan bertahan lebih lama dan membeli lebih banyak dari rencana semula.

Di pusat perbelanjaan, desain bangunan dibuat agar pengunjung menjelajahi sebanyak mungkin area. Atrium besar di tengah mal menjadi titik awal yang menarik perhatian. Toko-toko utama ditempatkan di lokasi yang berjauhan sehingga pengunjung harus melewati banyak gerai sebelum mencapai tujuan.

Supermarket menerapkan strategi serupa dengan menempatkan kebutuhan pokok, seperti susu, roti, dan telur, di bagian belakang toko. Dengan begitu, pembeli harus melewati banyak rak yang berisi produk lain. Sementara itu, IKEA dikenal menggunakan jalur satu arah yang membawa pengunjung melewati hampir seluruh area showroom sebelum mencapai kasir.

Di era digital, pendekatan tersebut hadir dalam bentuk yang berbeda. Situs e-commerce dan media sosial memanfaatkan antarmuka yang dirancang agar pengguna terus menjelajah. Fitur gulir tanpa batas, pop-up promosi, penghitung waktu mundur, hingga rekomendasi produk berbasis algoritma membuat pengguna terus menemukan barang baru.

Setiap klik akan memunculkan rekomendasi lain yang sesuai dengan minat pengguna. Pola tersebut membuat perhatian perlahan bergeser dari tujuan awal sehingga peluang memasukkan lebih banyak produk ke keranjang belanja menjadi semakin besar.

3. Berawal dari visi ruang publik bukan mendorong konsumsi

ilustrasi ruang publik inklusif (unsplash.com/Thales Botelho de Sousa)

Di balik istilah Gruen transfer, terdapat ironi yang cukup besar. Victor Gruen sebenarnya tidak merancang pusat perbelanjaan sebagai tempat untuk mendorong konsumsi.

Arsitek asal Austria yang melarikan diri dari Eropa pada masa pendudukan Nazi itu membayangkan mal sebagai ruang publik modern yang menggabungkan fungsi tempat tinggal, bekerja, berbelanja, hingga berkumpul. Dalam konsepnya, pusat perbelanjaan juga dilengkapi apartemen, sekolah, taman, dan pusat kebudayaan agar menjadi pusat kehidupan masyarakat.

Namun, konsep tersebut tidak sepenuhnya diwujudkan. Pengembang hanya membangun bagian yang dianggap menguntungkan secara komersial, sementara unsur sosial dan komunitas dihilangkan. Kawasan itu kemudian dikelilingi area parkir luas dan lebih bergantung pada penggunaan kendaraan pribadi.

Perkembangan tersebut membuat Gruen kecewa terhadap hasil akhir yang lahir dari gagasannya. Dia menilai pusat perbelanjaan telah bergeser dari ruang publik menjadi tempat yang semata-mata mendorong konsumsi.

Karena itu, Gruen transfer tidak hanya dikenal sebagai fenomena psikologis dalam dunia ritel, tetapi juga menjadi gambaran bagaimana sebuah gagasan dapat berubah arah ketika diterapkan untuk kepentingan komersial.

Curated For You

Editorial Team

Related Article