Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

RI Bakal Impor Bioetanol AS, Tapi Jika Produksi Dalam Negeri Kurang

RI Bakal Impor Bioetanol AS, Tapi Jika Produksi Dalam Negeri Kurang
Pegawai Pertamina menunjukkan warna ungu pada bahan bakar bioetanol (Pertamax Green 95). (IDN Times/Larasati Rey)
Intinya Sih
  • Pemerintah membuka peluang impor bioetanol dari Amerika Serikat untuk menutup kekurangan pasokan dalam negeri, sesuai skema Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan penyesuaian volume berdasarkan kebutuhan nasional.
  • Bioetanol impor wajib memiliki tingkat kemurnian minimal 99,9 persen guna menjamin keamanan mesin kendaraan saat dicampur dengan bahan bakar minyak dan menghindari masalah teknis performa.
  • Kesepakatan ART antara Indonesia dan AS menetapkan tarif bea masuk nol persen bagi sejumlah komoditas, termasuk etanol dan LPG, sebagai bagian dari kerja sama perdagangan timbal balik kedua negara.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengonfirmasi peluang impor bioetanol dari Amerika Serikat (AS) untuk menambal celah antara produksi dalam negeri dan permintaan pasar.

Bahlil menjelaskan, skema impor yang merupakan bagian dari kesepakatan Agreement on Reciprocal Trade (ART) itu hanya berlaku jika pasokan di dalam negeri tidak mencukupi, sehingga volume yang didatangkan dari AS disesuaikan dengan kekurangan stok nasional.

"Untuk etanol ini apabila kebutuhan kita itu antara kebutuhan dan produksi kita berkurang, dengan kata lain produksi kita 10, kebutuhan kita 20, 10-nya bisa impor dan Amerika salah satu yang bisa kita impor," kata Bahlil di Jakarta, dikutip Kamis (5/3/2026).

1. Spesifikasi wajib 99,9 persen demi keamanan mesin

Pengisian BBM Hijau.
Ilustrasi Pengisian Bahan Bakar Energi Hijau. (https://jornal.camposoberano.com.br/etanol-impulsiona-alta-da-gasolina)

Mengenai kualitas produk, Bahlil menegaskan bioetanol yang masuk harus memenuhi standar kemurnian minimal 99,9 persen. Spesifikasi tinggi itu ditetapkan untuk menjamin keamanan saat dicampur ke bahan bakar minyak (BBM).

Standarisasi semacam itu penting agar tidak muncul perdebatan teknis terkait performa mesin kendaraan yang menggunakan campuran bahan bakar nabati tersebut.

"Bioetanolnya itu harus mencapai kadar 99,9 persen. Itu standarnya supaya tidak terjadi debatable terkait dengan untuk penggunaan BBM," ujar Bahlil.

2. Kegunaan bioetanol tak hanya untuk BBM

ilustrasi etanol (pexels.com/ThamKC)
ilustrasi etanol (pexels.com/ThamKC)

Selain untuk sektor energi, Bahlil menyebut bioetanol memiliki fungsi luas di berbagai sektor ekonomi. Produk tersebut bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku industri maupun bahan dasar kosmetik.

"Dia juga bisa dipakai untuk kosmetik, bisa juga dipakai untuk bahan-bahan industri dan itu kan tergantung dari spesifikasi pabrik dan kebutuhan industri apa yang mereka akan pakai," tuturnya.

3. Implementasi tarif 0 persen dalam kesepakatan ART

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mendapat apresiasi langsung dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump di BoP
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mendapat apresiasi langsung dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump di BoP (setneg.go.id)

Rencana impor tersebut berpayung pada perjanjian perdagangan timbal balik atau ART antara Indonesia dan Amerika Serikat yang menyepakati tarif bea masuk nol persen bagi sejumlah komoditas kedua negara.

Bahlil memerinci sebagaimana produk ekspor unggulan Indonesia yang bebas tarif di pasar AS, komoditas energi asal Amerika seperti LPG dan etanol juga mendapatkan fasilitas serupa saat masuk ke Indonesia.

"Mereka juga ada beberapa komoditas mereka yang mereka impor ke sini juga ada beberapa yang 0 persen, termasuk dalamnya adalah etanol. Kita impor LPG itu nggak kena tarif, 0 persen," kata dia.

Share
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar
Follow Us

Latest in Business

See More