Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Riset: Promosi Produk di Medsos Lebih Menarik daripada Media Massa

Riset: Promosi Produk di Medsos Lebih Menarik daripada Media Massa
ilustrasi media sosial (pixabay.com/WebTechExperts)
Intinya Sih

 

  • 72% responden setuju promosi influencer di medsos lebih menarik daripada iklan di media massa
  • 63% responden setuju influencer dapat menambah kepercayaan terhadap kualitas produk yang dipromosikan
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Riset yang dilakukan perusahaan riset digital, Jangkara dan Jakpat menunjukkan, promosi produk melalui influencer di media sosial (medsos) lebih menarik daripada iklan di media massa.

Riset dengan judul, Riset Digital Ramadan 2024 itu dilaksanakan dengan dua cara. Pertama, monitoring media sosial dan influencer yang dipilih selama 12-31 Maret 2024.

Instagram dipilih sebagai platform yang dimonitor. Sementara influencer yang menjadi objek monitor adalah 50 akun Instagram di Indonesia dengan jumlah pengikut terbanyak.

Adapun monitoring yang dilakukan, meliputi unggahan promosi di story, image feed, dan video feed. Kedua, survei online pada 15-19 Maret 2024 dengan melibatkan sebanyak 1.180 responden dari usia 16-45 tahun dan tersebar di seluruh Indonesia.

1. Promosi influencer di medsos lebih menarik dibanding iklan di media konvensional

Hasil riset Jangkara dan Jakpat (Dok Jangkara dan Jakpat)
Hasil riset Jangkara dan Jakpat (Dok Jangkara dan Jakpat)

Survei mengungkapkan, 87 persen responden setuju dan sangat setuju bahwa promosi yang dilakukan influencer bisa membuat produk menjadi lebih dikenal oleh masyarakat. Sementara 72 persen responden setuju dan sangat setuju jika promosi produk melalui influencer di media sosial lebih menarik daripada iklan di media massa.

Sedangkan, 63 persen responden setuju dan sangat setuju bahwa influencer dapat menambah kepercayaan responden terhadap kualitas produk yang dipromosikan.

"Responden berasumsi produk yang ditawarkan oleh influencer adalah produk yang berkualitas karena reputasi mereka juga dipertaruhkan dalam mempromosikan produk tersebut," kata Manajer Riset Jangkara Data Lab Heditia Damanik dalam keterangannya, dikutip Senin (9/4/2024).

Survei juga mengungkapkan, promosi oleh influencer bisa mempengaruhi preferensi pembelian responden terhadap suatu produk. Sebanyak 63 persen responden mengaku pernah mengubah produk pembelian dari produk yang biasa dibeli ke produk yang dipromosikan karena terpengaruh influencer.

Adapun pembawaan dan nama besar influencer dianggap mampu menjadi daya dorong untuk membeli sebuah produk.

Selain itu, responden juga melihat cara atau gaya penyampaian influencer dalam mempromosikan produk. Sebanyak 47 persen responden setuju, gaya pembawaan influencer sangat berpengaruh dalam keberhasilan mempromosikan sebuah produk.

2. Sebanyak 65 persen responden tertarik beli produk yang dipromosikan influencer

Hasil riset Jangkara dan Jakpat (Dok Jangkara dan Jakpat )
Hasil riset Jangkara dan Jakpat (Dok Jangkara dan Jakpat )

Survei online mengungkapkan, pasangan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina (Raffi-Gigi) menjadi influencer terpopuler dengan 77 persen responden mengenalinya.

"Raffi-Gigi juga memiliki jumlah pengikut terbanyak di Instagram dengan 75,4 juta pengikut," ujar Heditia.

Popularitas Raffi-Gigi diikuti Prilly Latuconsina dengan 65 persen responden (55,8 juta pengikut), Baim Wong dengan 64 persen responden (18,5 juta pengikut), Raditya Dika dengan 62 persen responden (22,8 juta pengikut), dan Agnez Mo dengan 62 persen responden (32 juta pengikut).

Adapun sebanyak 65 persen responden mengaku tertarik membeli produk yang dipromosikan influencer selama Ramadan ini.

"Produk fesyen, kecantikan, dan kuliner adalah kategori yang paling diminati responden,” ucapnya.

Meski pengaruh influencer cukup signifikan, faktor pendorong utama yang meyakinkan konsumen membeli produk yang dipromosikan masih ditentukan oleh familiaritas produk di lingkungan responden.

Survei menunjukkan, dari 767 responden yang tertarik membeli produk yang dipromosikan influencer, 57 persen dari total responden menyebut alasan tertarik membeli produk karena produk yang dipromosikan sudah pernah dipakai orang-orang di sekitarnya.

Sedangkan 49 persen responden menyebut alasan pembelian karena influencer memiliki pembawaan yang menarik dalam mempromosikan produk.

3. Produk yang paling banyak dipromosikan

ilustrasi produk skincare (pexels.com/Elena Druzhinina)
ilustrasi produk skincare (pexels.com/Elena Druzhinina)

Kombinasi monitoring Instagram serta survei online mengungkap bahwa ada tiga produk yang menjadi kategori paling sering dipromosikan. Ketiga produk itu, yakni fesyen, kecantikan, dan kuliner.

Survei online mengungkapkan, responden menyebut ada kecenderungan jenis-jenis produk tertentu yang biasanya dipromosikan influencer. Sebanyak 81 persen responden menyebut produk kecantikan seperti skincare, body care, parfum, dan make up menjadi produk yang paling banyak dipromosikan.

Diikuti 73 persen responden yang menyebut produk fesyen, dan 71 persen responden yang menyebut produk kuliner. Ketiga jenis produk ini mendominasi top of mind responden saat ditanyai jenis produk apa yang paling banyak dipromosikan influencer.

Sementara, hasil monitoring Instagram mencatat produk fesyen menjadi kategori produk yang banyak dipromosikan, dengan 34 persen dari keseluruhan unggahan dengan promosi terbanyak terkait pakaian muslim (813 promosi).

Kedua, produk kuliner dengan 25 persen dengan unggahan terbanyak terkait produk makanan (516 promosi). Ketiga, produk kecantikan sebanyak 19 persen dengan unggahan terbanyak terkait produk skincare (394 promosi).

Produk/brand yang paling sering dipromosikan adalah Chante (produk fesyen milik Citra Kirana), Lu’miere (produk kuliner milik Ashanti dan keluarga), dan Onsfit (produk kesehatan milik Ruben Onsu).

Melihat hasil survei Jakpat dan Jangkara menyimpulkan bahwa penggunaan influencer yang mempromosikan produk via media sosial cukup efektif dalam mengenalkan sebuah produk ke masyarakat.

Ke depan, dengan dinamika pemasaran yang selalu berubah, peran influencer masih akan cukup dominan mengingat reputasi mereka sebagai salah satu dasar pembelian produk oleh masyarakat.

Di sisi lain, fenomena kemunculan brand milik para influencer juga ikut menambah kompetitor di industri. Oleh karena itu, bila ingin menggunakan jasa influencer untuk mempromosikan produk, para brand-owner harus bisa memilih dengan baik influencer yang akan diajak kerja sama untuk promosi.

"Sebaiknya mempertimbangkan menggunakan influencer yang tidak berkecimpung di satu kotak industri yang sama," kata dia.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Related Articles

See More