- Bath Thailand menguat 1,41 persen
- Ringgit Malaysia menguat 0,98 persen
- Yuan China menguat 0,44 persen
- Rupee India menguat 0,08 persen
- Pesso Filipina menguat 1,28 persen
- Won Korea menguat 1,58 persen
- Dolar Taiwan menguat 0,57 persen
- Dolar Singapura menguat 0,57 persen
- Dolar Hongkong menguat 0,06 persen
- Yen Jepang menguat 0,78 persen
Rupiah Berhasil Menguat ke Level Rp16.999 per Dolar AS

- Rupiah dibuka menguat ke level Rp16.999 per dolar AS, naik 106 poin atau 0,62 persen dibanding penutupan sebelumnya di Rp17.103.
- Penguatan rupiah terjadi seiring membaiknya sentimen global setelah Presiden AS menunda rencana serangan militer ke Iran yang menurunkan harga minyak dunia.
- Meski menguat, analis menilai belum ada keseimbangan pasar karena ketidakpastian geopolitik masih tinggi dan faktor eksternal tetap mendominasi arah rupiah.
Jakarta, IDN Times - Pergerakan nilai tukar atau kurs rupiah dibuka menguat tipis pada awal perdagangan, Rabu (8/4/2026).
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat ke level Rp16.999 per dolar AS. Rupiah tercatat menguat 106 poin atau 0,62 persen dibandingkan penutupan perdagangan kemarin di level Rp17.103 per dolar AS.
1. Daftar mata uang di Asia menguat
Mata uang di Asia kompak menguat pada awal perdagangan, rincian:
2. Alasan rupiah bisa menguat hari ini
Pengamat pasar uang, Lukman Leong memproyeksikan rupiah akan menguat terhadap dolar AS.Sentimen pasar keuangan global mulai membaik setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan penundaan rencana serangan militer terhadap Iran selama dua minggu.
Langkah ini memicu penurunan tajam harga minyak dunia dan membuka ruang bagi risk‑on sentiment yang kembali pada aset‑aset pasar berkembang, termasuk rupiah.
"Kondisi ini menyebabkan penurunan tajam pada harga minyak dan pulihnya sentimen di pasar. Range 16.950-Rp17.100 per dolar AS," tegasnya.
3. Rupiah belum membentuk equibilium baru
Namun, Lukman menekankan bahwa belum ada keseimbangan (equilibrium) di pasar saat ini. Ketidakpastian geopolitik masih tinggi, sehingga rupiah masih bisa melemah lebih jauh atau kembali menguat, tergantung arah risiko global dan sentimen investor.
"Belum ada equbilirium ditengah ketidakpastian geopolitik saat ini, rupiah masih bisa melemah lebih jauh atau kembali menguat, saat ini faktor eksternal masih mendominasi," tegasnya.


















