Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai perkembangan konflik di Timur Tengah masih menjadi salah satu sentimen yang dicermati pelaku pasar. Upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan terus berlangsung, tetapi risiko konflik kembali meluas masih membayangi pergerakan pasar keuangan.
Pada Senin (26/10/2026), pejabat senior Arab Saudi, Turki, dan Pakistan bertemu dengan para pemimpin Iran di Teheran. Pertemuan tersebut bertujuan meredakan ketegangan regional sekaligus membuka jalur negosiasi untuk mencegah kembali terjadinya eskalasi militer.
Qatar juga terlibat dalam upaya diplomatik dengan menjalin komunikasi bersama Teheran. Sejumlah pembahasan mencakup serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi, kemungkinan negosiasi antara AS dan Iran, gangguan pelayaran di Selat Hormuz, serta blokade Washington terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Reuters melaporkan, pertemuan di Teheran menjadi salah satu upaya negara-negara kawasan untuk mencegah konflik semakin meluas. Namun, belum ada kepastian bahwa langkah diplomatik tersebut dapat menghasilkan kesepakatan damai yang bertahan lama.
"Upaya diplomatik ini telah membantu meredakan kekhawatiran mendesak mengenai eskalasi militer lebih lanjut, namun para investor tetap bersikap hati-hati terkait apakah upaya tersebut akan menghasilkan de-eskalasi yang langgeng," kata Ibrahim.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump masih membuka kemungkinan tindakan militer lanjutan terhadap Iran. Teheran juga menyatakan bahwa negosiasi dengan Washington memerlukan sejumlah konsesi, termasuk penghentian blokade AS dan pencabutan sanksi terhadap ekspor minyak Iran.
Risiko terhadap pasokan energi global turut menjadi perhatian karena konflik mengganggu pelayaran komersial melalui Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb. Kedua jalur tersebut memiliki peran penting dalam perdagangan energi dunia.