Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Rupiah Loyo, Harga Pangan Hingga Biaya Langganan Netflix Bisa Naik

Rupiah Loyo, Harga Pangan Hingga Biaya Langganan Netflix Bisa Naik
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
Intinya Sih
  • Pelemahan rupiah membuat harga pangan seperti mi instan, roti, dan tahu-tempe naik karena biaya impor bahan baku meningkat.
  • Sektor energi terdampak signifikan dengan naiknya beban subsidi BBM dan listrik, yang berpotensi menekan APBN serta menaikkan biaya logistik.
  • Industri farmasi dan layanan digital ikut tertekan akibat kenaikan biaya impor, memicu potensi kenaikan harga obat hingga langganan platform seperti Netflix.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai pelemahan nilai tukar rupiah mulai memberikan tekanan terhadap biaya hidup masyarakat, terutama pada sektor pangan, energi, hingga layanan digital.

Menurut Yusuf, dampak paling cepat terasa terjadi pada harga pangan karena Indonesia masih bergantung pada impor sejumlah komoditas strategis seperti gandum, kedelai, bawang putih, gula, susu, hingga sebagian kebutuhan daging sapi.

"Ketika rupiah melemah cukup dalam, biaya impor otomatis naik," ujarnya kepada IDN Times, Jumat (15/5/2026).

1. Harga mi instan, roti, hingga tahu-tempe akan ikut naik

ilustrasi manusia dan mie instan (pexels.com/かわい サムライ)
ilustrasi manusia dan mie instan (pexels.com/かわい サムライ)

Dia menjelaskan, kondisi tersebut membuat harga mi instan, roti, tahu-tempe, kecap, hingga berbagai makanan olahan perlahan ikut naik ketika tekanan terhadap rupiah berlangsung cukup lama.

"Memang tidak semua kenaikan langsung diteruskan ke konsumen karena ada kontrak lama dan pedagang biasanya menahan harga terlebih dahulu. Namun, dalam beberapa bulan biasanya penyesuaian mulai terlihat," ujar Yusuf.

2. Beban subsidi di APBN akan bengkak

Ilsutrasi dolar AS. (Unsplash.com/Alexander Grey)
Ilsutrasi dolar AS. (Unsplash.com/Alexander Grey)

Selain pangan, Yusuf mengatakan sektor energi juga terdampak besar karena Indonesia masih menjadi net importir minyak dan mayoritas transaksi energi global menggunakan dolar Amerika Serikat (AS).

Menurutnya, pelemahan rupiah otomatis meningkatkan beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan listrik pemerintah. Jika harga BBM nonsubsidi dinaikkan, biaya logistik ikut meningkat dan mendorong kenaikan harga barang di berbagai sektor.

"Kalau harga ditahan, APBN yang menanggung beban lebih besar. Pada akhirnya tetap ada biaya ekonomi yang harus dibayar," kata Yusuf.

3. Sektor kesehatan rentan terhadap pelemahan rupiah

ilustrasi obat obatan (pexels.com/tima miroshnichenko)
ilustrasi obat obatan (pexels.com/tima miroshnichenko)

Sektor kesehatan juga rentan terdampak oleh pelemahan rupiah. Industri farmasi nasional masih mengimpor sebagian besar bahan baku obat serta alat kesehatan canggih. Untuk obat generik yang harganya diatur pemerintah, margin perusahaan farmasi semakin tertekan ketika kurs melemah. Sementara itu, kenaikan biaya pada obat paten dan layanan rumah sakit swasta umumnya diteruskan kepada pasien.

"Jika tekanan rupiah berlangsung lama, risiko yang muncul tidak hanya kenaikan harga, tetapi juga potensi gangguan pasokan obat tertentu karena distributor mulai menahan impor saat biaya terlalu tinggi dan harga jual sulit dinaikkan," ujar Yusuf.

4. Langganan Netflix juga bisa ikut naik

Logo Netflix (dok.netflix)
Logo Netflix (dok.netflix)

Tekanan juga mulai dirasakan kelas menengah melalui kenaikan harga barang dan layanan berbasis dolar. Meski demikian, dampaknya tidak sebesar kenaikan harga pangan dan energi. Akumulasi kenaikan berbagai kebutuhan tersebut membuat masyarakat merasa daya belinya semakin tertekan meski pendapatan tidak mengalami penurunan.

"Harga gadget, elektronik, kosmetik impor, suku cadang kendaraan, hingga layanan digital seperti Netflix, Spotify, iCloud, dan Microsoft 365, perlahan ikut meningkat karena sebagian besar biaya operasionalnya menggunakan dolar AS," kata Yusuf.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Satria Permana
EditorSatria Permana
Follow Us

Related Articles

See More