Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Apa Beda Cut Loss dan Stop Loss? Ini Penjelasan Lengkapnya!

Apa Beda Cut Loss dan Stop Loss? Ini Penjelasan Lengkapnya!
Ilustrasi trading (pexels.com/iam hogir)
Intinya Sih
  • Cut loss dilakukan manual berdasarkan keputusan investor, sedangkan stop loss otomatis dijalankan sistem saat harga menyentuh batas tertentu.
  • Stop loss biasanya disiapkan sejak awal pembelian saham, sementara cut loss dilakukan setelah evaluasi kondisi pasar atau fundamental perusahaan.
  • Aspek psikologis berbeda: stop loss lebih objektif dan disiplin, sedangkan cut loss rentan dipengaruhi emosi dan harapan harga akan naik kembali.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Dalam dunia investasi saham, istilah cut loss dan stop loss sering banget muncul. Buat kamu yang baru mulai belajar trading atau investasi, dua istilah ini memang terdengar mirip karena sama-sama berkaitan dengan kerugian. Namun, sebenarnya ada perbedaan penting di antara keduanya.

Memahami perbedaan cut loss dan stop loss bisa membantu kamu mengelola risiko dengan lebih baik. Selain itu, strategi ini juga penting supaya kerugian gak makin besar ketika harga saham tiba-tiba turun drastis di pasar. Banyak investor pemula masih sering tertukar antara cut loss dan stop loss. Padahal, keduanya punya cara kerja, waktu penggunaan, hingga aspek psikologis yang berbeda. Berikut penjelasan lengkapnya.

1. Eksekusi transaksi berbeda

Apa Beda Cut Loss dan Stop Loss? Ini Penjelasan Lengkapnya!
Ilustrasi investor (pexels.com/Kaushal Moradiya)

Perbedaan paling utama antara cut loss dan stop loss ada pada cara eksekusinya. Stop loss bekerja secara otomatis melalui sistem yang sudah dipasang sebelumnya. Jadi, ketika harga saham menyentuh batas tertentu, saham akan langsung terjual tanpa perlu kamu tekan tombol jual lagi.

Sementara itu, cut loss dilakukan secara manual oleh investor. Artinya, keputusan menjual saham sepenuhnya bergantung pada pertimbangan dan tindakan kamu sendiri. Karena manual, terkadang investor jadi menunda penjualan karena berharap harga bakal naik lagi.

Contohnya, kamu membeli saham di harga Rp1.200 lalu memasang stop loss di Rp1.000. Ketika harga turun ke Rp1.000, sistem otomatis menjual saham tersebut. Berbeda dengan cut loss, kamu harus memutuskan sendiri kapan waktu terbaik untuk keluar dari saham tersebut.

2. Waktu penggunaannya gak sama

Apa Beda Cut Loss dan Stop Loss? Ini Penjelasan Lengkapnya!
Ilustrasi saham (pexels.com/StockRadars Co.)

Perbedaan berikutnya terletak pada waktu penerapan strategi. Stop loss biasanya sudah disiapkan sejak awal saat membeli saham. Investor menentukan batas toleransi kerugian sebelum masuk ke pasar agar risiko lebih terkontrol.

Sedangkan cut loss lebih sering dilakukan setelah investor mengevaluasi ulang kondisi pasar atau fundamental saham. Jadi, keputusan menjual muncul ketika situasi dianggap sudah tidak menguntungkan lagi.

Misalnya, kamu membeli saham perusahaan tertentu karena kinerjanya bagus. Namun beberapa minggu kemudian, muncul laporan keuangan buruk atau berita negatif yang membuat prospek saham memburuk. Dalam kondisi seperti ini, investor biasanya memilih melakukan cut loss secara sadar.

Karena itu, stop loss lebih cocok digunakan untuk trading yang disiplin dan cepat. Sementara cut loss sering dipakai investor yang masih mempertimbangkan banyak faktor sebelum menjual asetnya.

3. Aspek psikologisnya cukup berbeda

Apa Beda Cut Loss dan Stop Loss? Ini Penjelasan Lengkapnya!
Ilustrasi saham (pexels.com/StockRadars Co.)

Stop loss cenderung lebih objektif karena semuanya sudah diatur otomatis lewat sistem. Investor tinggal menentukan batas kerugian maksimal, lalu sistem akan bekerja sendiri jika harga menyentuh titik tersebut. Cara ini membantu mengurangi rasa panik, takut, atau terlalu berharap.

Sebaliknya, cut loss lebih rentan dipengaruhi emosi. Banyak investor yang sebenarnya sudah rugi cukup besar, tetapi masih menahan saham karena yakin harga bakal kembali naik. Akibatnya, kerugian malah makin dalam.

Gak sedikit juga investor yang ragu-ragu menekan tombol jual karena takut salah keputusan. Padahal, dalam beberapa kondisi, keluar lebih cepat justru bisa menyelamatkan modal untuk dipindahkan ke saham lain yang lebih potensial. Karena alasan itu, banyak trader profesional lebih memilih menggunakan stop loss demi menjaga disiplin dan konsistensi strategi investasi mereka.

4. Contoh kasus cut loss dan stop loss

Apa Beda Cut Loss dan Stop Loss? Ini Penjelasan Lengkapnya!
Ilustrasi trading (pexels.com/Jakub Zerdzicki)

Pada strategi stop loss, misalnya kamu membeli saham A di harga Rp1.200. Untuk membatasi risiko, kamu memasang stop loss di Rp1.000. Ketika harga turun hingga menyentuh Rp1.000, sistem otomatis menjual saham tersebut tanpa campur tangan lagi.

Sementara pada strategi cut loss, kamu membeli saham B di harga Rp2.000. Beberapa waktu kemudian harga saham turun terus, ditambah kondisi fundamental perusahaan ternyata memburuk. Setelah mempertimbangkan situasi, kamu akhirnya memutuskan menjual saham itu di harga Rp1.700 agar kerugian gak semakin besar.

Dari contoh tersebut terlihat bahwa stop loss lebih mengandalkan sistem otomatis. Sedangkan cut loss didasarkan research dan keputusan sendiri. Hal ini penting banget untuk keputusan trading. Sekarang kamu sudah tahu apa beda cut loss dan stop loss dalam investasi saham. Meski sama-sama bertujuan membatasi kerugian, keduanya punya mekanisme dan pendekatan yang berbeda.

Stop loss cocok buat kamu yang ingin lebih disiplin dan minim emosi saat trading. Sementara cut loss biasanya digunakan ketika investor melakukan evaluasi ulang terhadap kondisi pasar atau fundamental saham tertentu. Dengan memahami dua strategi ini, kamu bisa lebih bijak mengatur risiko dan menjaga modal investasi tetap aman.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Related Articles

See More