- Rupee India melemah 0,23 persen
- Dolar Taiwan melemah 0,55 persen
Rupiah Melemah Seharian Ditutup ke Rp16.667 per Dolar AS

- Rupiah melemah bersama 2 mata uang lainnya.
- Rupiah diproyeksi akan bergerak terbatas pekan ini.
- The Fed diproyeksikan bakal bersifat dovish.
Jakarta, IDN Times - Pergerakan nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah pada awal perdagangan Senin (15/12/2025). Rupiah tercatat melemah ke level Rp16.667 per dolar Amerika Serikat (AS) di penutupan.
Berdasarkan data Bloomberg, laju rupiah melemah 21 poin atau 0,13 persen dibandingkan penutupan kemarin.
1. Rupiah melemah bersama 2 mata uang lainnya
Berdasarkan data bloomberg, selain rupiah hanya sedikit mata uang yang melemah, rinciannya
2. Rupiah diproyeksi akan bergerak terbatas pekan ini
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak terbatas atau cenderung datar terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pekan ini. Pelaku pasar memilih bersikap wait and see sambil mengantisipasi rilis sejumlah data ekonomi penting dari dalam dan luar negeri.
"Dari global, perhatian investor tertuju pada data ketenagakerjaan AS atau Non-Farm Payrolls (NFP) serta data inflasi, yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan moneter bank sentral AS ke depan. Sementara dari domestik, pasar juga menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI)," kata dia.
3. The Fed diproyeksikan bakal bersifat dovish
Sementara itu, Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan ada sinyal dovish dari The Fed, setelah memangkas suku bunga minggu lalu dan memberi sinyal akan segera mulai membeli obligasi pemerintah jangka pendek mulai Desember, dengan laju bulanan sebesar 40 miliar dolar AS.
Aktivitas pembelian aset The Fed menghadirkan prospek dovish untuk kebijakan moneter, terutama mengingat kondisi likuiditas lokal kemungkinan akan semakin melonggar dengan suntikan dana tunai.
"Fokus minggu ini tertuju pada data pekerjaan di sektor non-pertanian AS dan data CPI untuk November, yang akan dirilis pada hari Selasa dan Kamis. Data pekerjaan, yang biasanya dirilis pada hari Jumat pertama setiap bulan, tertunda karena penutupan pemerintah yang berkepanjangan pada bulan Oktober dan November," tegasnya.
Namun, pasar akan mengamati dengan cermat tanda-tanda lebih lanjut dari pelonggaran pertumbuhan pasar tenaga kerja dan pendinginan inflasi, mengingat keduanya merupakan pertimbangan terbesar The Fed untuk memangkas suku bunga. Data tersebut juga akan menjadi data ekonomi resmi terbaru yang tersedia bagi pasar setelah penutupan pemerintahan mengganggu beberapa data penting untuk bulan Oktober.















