Rupiah Melemah, Sektor Ekspor Komoditas Justru Ketiban Durian Runtuh

- Pelemahan rupiah membuat sektor ekspor komoditas seperti batu bara, nikel, dan kelapa sawit menikmati peningkatan margin karena pendapatan dolar dikonversi ke rupiah yang lebih besar.
- Sektor manufaktur berorientasi ekspor ikut diuntungkan selama kandungan impor bahan bakunya rendah, sebab produk Indonesia jadi lebih kompetitif secara harga di pasar global.
- Pariwisata dan remitansi pekerja migran meningkat nilainya akibat rupiah melemah, namun dampak positif tidak merata karena sektor bergantung impor justru menghadapi tekanan biaya.
Jakarta, IDN Times - Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memberikan keuntungan bagi sejumlah sektor ekonomi, terutama yang berorientasi ekspor.
Menurutnya, sektor yang paling jelas diuntungkan adalah sektor berbasis komoditas ekspor.
“Yang paling jelas adalah sektor berbasis ekspor komoditas, seperti pertambangan batu bara dan nikel, serta perkebunan seperti kelapa sawit,” ujarnya kepada IDN Times, Kamis (9/4/2026).
1. Produk dijual dalam denominasi dolar AS

Ia menjelaskan, perusahaan di sektor tersebut menjual produknya ke pasar global dengan harga dalam dolar AS. Sementara itu, sebagian biaya operasional masih menggunakan rupiah, sehingga margin keuntungan cenderung meningkat.
"Ketika rupiah melemah, setiap dolar yang mereka terima dikonversi menjadi rupiah yang lebih besar," ucap Yusuf.
2. Sektor manufaktur berorientasi ekspor

Selain komoditas, sektor manufaktur berorientasi ekspor juga berpotensi memperoleh manfaat. Namun, Yusuf mengingatkan bahwa keuntungan tersebut sangat bergantung pada struktur biaya.
Selama kandungan impor bahan bakunya tidak terlalu tinggi, maka produk manufaktur Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar global karena secara harga relatif lebih murah.
"Dengan rupiah yang lebih lemah, produk mereka menjadi lebih kompetitif di pasar global karena secara harga relatif lebih murah dibandingkan negara lain," ungkapnya.
3. Sektor pariwisata dan remitansi akan dapat berkah dari pelemahan rupiah

Tak hanya sektor barang, sektor jasa seperti pariwisata juga terdampak positif.
Dengan nilai rupiah yang lebih rendah, Indonesia menjadi destinasi yang lebih menarik bagi wisatawan mancanegara karena biaya yang mereka keluarkan menjadi relatif lebih murah. Hal ini dinilai dapat mendorong peningkatan kunjungan wisatawan serta devisa negara
Di sisi lain, remitansi dari pekerja migran juga meningkat nilainya dalam rupiah, sehingga berdampak positif terhadap konsumsi di daerah-daerah penerima.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa dampak positif ini tidak bersifat merata. Sektor yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor, baik untuk bahan baku maupun mesin, justru bisa mengalami tekanan biaya
"Jadi efek positif dari pelemahan rupiah itu sangat tergantung pada struktur biaya masing-masing sektor," tegasnya.

















