Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Rupiah Stagnan di Rp17.877 per Dolar AS
ilustrasi rupiah (IDN Times/Aditya Pratama)
  • Rupiah ditutup stagnan di Rp17.877 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (13/8/2026).
  • Rupiah sempat melemah 7 poin sebelum kembali bergerak mendatar berdasarkan data Bloomberg.
  • Untuk perdagangan Jumat, rupiah diproyeksikan berpotensi melemah pada kisaran Rp17.870 hingga Rp17.920 per dolar AS.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Kamis (13/8/2026)

Rupiah ditutup stagnan di Rp17.877 per dolar AS setelah sempat melemah 7 poin dan kembali bergerak mendatar.

Jumat (14/8/2026)

Ibrahim memproyeksikan rupiah berpotensi melemah pada kisaran Rp17.870 hingga Rp17.920 per dolar AS.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Nilai tukar rupiah ditutup stagnan di level Rp17.877 per dolar AS setelah sempat melemah 7 poin.
  • Who?
    Rupiah, dolar AS, pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, MSCI, Bank Indonesia, Presiden Prabowo Subianto, AS, dan Iran menjadi pihak yang disebut.
  • Where?
    Jakarta, dengan sentimen eksternal dari kawasan Timur Tengah dan sentimen pasar modal Indonesia.
  • When?
    Pada penutupan perdagangan Kamis (13/8/2026). Proyeksi pergerakan berikutnya disampaikan untuk Jumat (14/8/2026).
  • Why?
    Perpaduan dinamika sentimen dalam dan luar negeri, termasuk Selat Hormuz, prospek suku bunga The Fed, MSCI, dan Plt. Gubernur BI, membayangi pasar.
  • How?
    Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sempat melemah 7 poin terhadap dolar AS sebelum kembali bergerak mendatar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Aku melihat rupiah diam di Rp17.877 untuk satu dolar AS pada Kamis. Rupiah sempat turun sedikit, lalu diam lagi. Pak Ibrahim Assuaibi bilang ada kabar dari luar dan dalam negeri. Untuk Jumat, ia memperkirakan rupiah bisa melemah di antara Rp17.870 sampai Rp17.920 per dolar AS.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Posisi pasar modal Indonesia yang tetap berada dalam kategori emerging market menurut MSCI menjadi salah satu sentimen positif yang disebutkan. Respons positif pelaku pasar terhadap langkah Presiden Prabowo Subianto memilih kembali Plt. Gubernur BI juga menunjukkan adanya faktor domestik yang mendukung pergerakan pasar.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah bergerak stagnan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis (13/8/2026). Mata uang Garuda tertahan tak bergerak dan berada di level Rp17.877 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, mata uang rupiah sempat mengalami pelemahan sebesar 7 poin terhadap dolar AS sebelum akhirnya kembali ke posisi bergerak mendatar.

1. Sengketa Selat Hormuz hingga prospek suku bunga The Fed bayangi pasar

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyatakan dari faktor eksternal, ketegangan di kawasan Timur Tengah diperkirakan masih akan terus berlangsung antara AS dan Iran. Dia menjelaskan AS mengeklaim pengawasan Selat Hormuz sepenuhnya dikuasai 100 persen oleh mereka.

Sementara itu, pihak Iran menegaskan kewenangan pengawasan jalur pelayaran tersebut dipegang oleh Iran dan Oman. Iran turut menambahkan keinginan untuk mencapai perdamaian mensyaratkan penghapusan seluruh sanksi yang diterapkan AS.

Di sisi lain, Ibrahim menyebutkan inflasi AS, baik secara bulanan maupun tahunan mengalami penurunan sesuai perkiraan pasar. Kondisi ini dinilai berpotensi mendorong Bank Sentral AS (The Fed) untuk mempertahankan suku bunga dalam pertemuan pada Agustus.

"Kalau seandainya nanti harga minyak kita terus mengalami penurunan, ada kemungkinan besar di bulan September, Bank Sentral Amerika akan menurunkan suku bunga 25 basis poin," ujarnya.

2. Ada sentimen positif dari keputusan MSCI dan penunjukan Plt Gubernur BI

Dari dalam negeri, Ibrahim mengungkapkan lembaga penyedia indeks global MSCI masih mempertahankan posisi pasar modal Indonesia di kategori emerging market atau pasar berkembang. Meski terjadi penurunan peringkat, hal tersebut belum sampai memicu pelemahan rupiah.

"Artinya apa? Bahwa saat ini ya MSCI positif terhadap pasar modal Indonesia," tutur Ibrahim.

Selain itu, dia menuturkan langkah Presiden Prabowo Subianto yang kembali memilih Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Bank Indonesia (BI) juga mendapatkan respons positif dari para pelaku pasar.

3. Rupiah diprediksi melemah pada Jumat

Ibrahim menyampaikan perpaduan dinamika sentimen dari dalam dan luar negeri tersebut akhirnya membuat rupiah ditutup stagnan di level Rp17.877 per dolar AS.

Untuk pergerakan perdagangan Jumat (14/8/2026), Ibrahim memproyeksikan mata uang rupiah berpotensi mengalami pelemahan dengan kisaran rentang di level Rp17.870 hingga Rp17.920 per dolar AS.

Curated For You

Editorial Team

Related Article