"Ini (Selat Hormuz) sudah dibuka sekarang. Lihat, satu-satunya pihak yang mengendalikan Selat Hormuz saat ini adalah angkatan laut Amerika Serikat. Kami (juga) telah membersihkan semua ranjau (Iran) di seluruh selat," kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval, Gedung Putih, Washington D.C., pada Senin (10/8/2026), seperti dilansir Jerusalem Post.
Trump Klaim AS Kuasai Selat Hormuz 100 Persen, Iran Membantah

- Donald Trump mengklaim AS menguasai penuh Selat Hormuz, angkatan lautnya telah membersihkan ranjau Iran, dan jalur strategis itu kini terbuka sepenuhnya.
- IRGC membantah klaim tersebut, menyatakan Iran masih menutup Selat Hormuz dan hanya akan membukanya jika AS memenuhi enam syarat yang diajukan Teheran.
- Perseteruan klaim AS-Iran menurunkan pelayaran di Selat Hormuz, mengganggu ekspor minyak Timur Tengah dan berpotensi mendorong kenaikan harga minyak serta kebutuhan pokok.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengklaim negaranya kini sudah 100 persen menguasai Selat Hormuz. Ia juga mengklaim angkatan laut AS sudah menyusuri Selat Hormuz untuk membasmi seluruh ranjau yang dipasang Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).
1. Trump sebelumnya mengklaim Selat Hormuz sudah dibuka

potret Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/Goran_tek-en) Pekan lalu, Trump juga sudah mengklaim bahwa Selat Hormuz telah dibuka. Namun, kala itu, ia mengatakan bahwa selat tersebut masih belum dibuka sepenuhnya. Oleh karena itu, belum banyak kapal yang bisa berlayar di sana dengan bebas. Namun, Trump kali ini menyebut Selat Hormuz sudah dibuka sepenuhnya. Sebab, ia mengklaim AS sudah 100 persen mengambil alih kekuasaan di salah satu jalur strategis perdagangan global tersebut.
“Ini (Selat Hormuz) sudah agak terbuka sekarang. Anda tahu, kita punya sesuatu yang disebut blokade yang dipimpin angkatan laut AS dan kita mengendalikannya. Namun, mereka (Iran) selalu bisa menembak sesuatu. Mereka selalu punya sesuatu atau memasang ranjau. Jika ada satu ranjau yang tergeletak di sana, itu akan mengacaukan segalanya karena orang-orang tidak ingin membawa kapal mereka yang bernilai miliaran dolar dan secara tidak sengaja terkena ranjau,” ujar Trump kepada awak media di Gedung Putih pada Jumat (7/8/2026) pekan lalu.
2. Iran membantah klaim Trump soal pembukaan Selat Hormuz

potret bendera Iran (unsplash.com/Akbar Nemati) Namun, semua klaim Trump tadi dibantah keras oleh Iran. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengatakan, pihaknya saat ini masih menguasai dan menutup Selat Hormuz secara penuh. Oleh karena itu, IRGC menyebut klaim Trump soal Selat Hormuz bohong besar. Milisi itu menegaskan, pihaknya baru akan membuka Selat Hormuz jika AS mau mematuhi semua syarat yang diberikan Iran.
“Kapan pun Amerika Serikat menerima syarat-syarat Iran, Selat Hormuz pasti akan dibuka kembali,” kata juru bicara IRGC, Hossein Mohebbi, kepada kantor berita Iran, Tasnim, seperti dikutip Al Jazeera, Minggu (9/8/2026).
Iran sendiri memberikan enam syarat ke AS agar Selat Hormuz bisa kembali dibuka. Enam syarat tersebut terdiri dari penghentian ancaman dan penghinaan AS terhadap Iran, penghentian permanen serangan AS terhadap Iran dan para sekutu di Lebanon, Palestina, Yaman, dan Irak, pencabutan blokade angkatan laut AS serta penarikan pasukan angkatan laut dan udara AS dari sekitar Iran, ganti rugi kerusakan akibat serangan AS ke Iran, pencabutan sanksi ekonomi AS terhadap Iran, dan pembebasan tanpa syarat aset Iran yang dibekukan AS.
3. Konflik AS dan Iran membuat jumlah pelayaran di Selat Hormuz menurun

ilustrasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel (unsplash.com/Saifee Art) Perseteruan antara AS dan Iran di Selat Hormuz ini telah membuat jumlah pelayaran di perairan tersebut merosot. Sebab, di satu sisi Washington mengklaim Selat Hormuz sudah dibuka sehingga bebas dilalui kapal dari negara mana pun. Namun, di sisi lain, Teheran mengklaim masih menutup selat tersebut. Hal ini membuat kapal-kapal jadi enggan melintas di Selat Hormuz karena takut diserang Iran.
Dilansir CNBC, menurunnya pelayaran di Selat Hormuz ini menjadi tanda bahaya bagi harga minyak global. Sebab, jika pelayaran di Selat Hormuz menurun, itu berarti ekspor minyak dari Timur Tengah ke pasar global sedang terganggu. Hal ini berpotensi membuat harga minyak kembali naik seperti beberapa bulan lalu. Jika harga minyak naik, maka harga kebutuhan pokok di sejumlah negara juga akan naik. Ini tentu berbahaya bagi kondisi ekonomi global.





















