Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) memastikan terus berada di pasar keuangan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang kembali tertekan hingga menyentuh level terendah di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Apalagi jika mengacu data Bloomberg pada penutupan perdagangan sore ini, rupiah sudah berada di level Rp17.880,5 per dolar AS atau merupakan level terlemahnya sepanjang sejarah.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyampaikan tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi berlanjutnya konflik di Timur Tengah yang mendorong penguatan dolar Amerika Serikat (AS) secara global. Selain faktor eksternal, kebutuhan valuta asing (valas) domestik juga meningkat.
“Kebutuhan valas meningkat antara lain untuk pembayaran utang luar negeri (ULN) dan repatriasi dividen, di tengah arus masuk dolar AS yang masih terbatas,” tulis BI dalam keterangannya, Jumat (29/5/2026).
