Jakarta, IDN Times - Pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi menambah tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Jika rupiah bertahan di kisaran Rp18.000 hingga Rp18.300 per dolar AS sampai akhir tahun, defisit APBN diperkirakan mendekati 2,9 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Proyeksi ini hanya sedikit meningkat dari target dalam APBN tahun ini sebesar 2,85 persen terhadap PDB.
"Jika kurs bertahan pada kisaran Rp18.000 hingga Rp18.300 sampai Desember, pelemahan rupiah dapat mendorong defisit mendekati 2,9 persen. Jika digabungkan dengan tekanan harga minyak, defisit bisa bergerak mendekati 3 persen apabila tidak ada penyesuaian belanja," tegas Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet saat dihubungi IDN Times, Rabu (28/10/2026).
