Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Bisakah Resep Era Habibie Dipakai untuk Pulihkan Rupiah Saat Ini?

Bisakah Resep Era Habibie Dipakai untuk Pulihkan Rupiah Saat Ini?
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
Intinya Sih
  • Dwiwulan menilai tantangan ekonomi era Prabowo lebih kompleks dibanding masa Habibie, dengan tekanan rupiah dipengaruhi defisit transaksi berjalan dan ketergantungan pada harga komoditas.
  • Independensi Bank Indonesia disorot karena mulai terpengaruh kepentingan politik dan kebijakan burden sharing yang masih berlanjut pascapandemi, sehingga reformasi bank sentral dinilai perlu difokuskan kembali.
  • Pelemahan rupiah disebut lebih dipicu faktor fundamental domestik, bukan aksi individu atau investor tertentu, sehingga perbaikan struktur ekonomi dalam negeri menjadi kunci stabilitas nilai tukar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Anggota Aliansi Ekonom Indonesia Dwiwulan menilai, tantangan pemulihan nilai tukar rupiah saat ini berbeda dibandingkan kondisi pada era Presiden ke-3 RI, B. J. Habibie.

Menurut dia, persoalan ekonomi yang dihadapi di era Presiden Prabowo Subianto saat ini lebih kompleks sehingga tidak bisa disamakan dengan situasi krisis pada akhir 1990-an.

"Apakah resepnya bisa menggunakan kebijakan ketika masa Pak Habibie sebelumnya? Kalau misalkan kita lihat sebenarnya, isunya ada perbedaan antara ketika Pak Habibie dan ketika Pak Prabowo sekarang," kata dia dalam diskusi di Trinity Tower, Jakarta, Sabtu (23/5/2026).

1. Persoalan ekonomi dinilai lebih kompleks dibanding era Habibie

Bisakah Resep Era Habibie Dipakai untuk Pulihkan Rupiah Saat Ini?
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi turun. (IDN Times/Arief Rahmat)

Dwiwulan menjelaskan, pada masa Habibie, Indonesia menghadapi krisis keuangan Asia yang disertai restrukturisasi besar-besaran di sektor perbankan. Sementara saat ini, tekanan terhadap rupiah dipengaruhi lebih banyak faktor.

"Sebenarnya kalau di sini isunya itu jauh lebih kompleks kalau saya nilai berdasarkan tadi yang sudah dilihat di current account deficit (defisit transaksi berjalan) itu," ujarnya.

Dia mengatakan, defisit tersebut dipengaruhi besarnya belanja jasa dan repatriasi dividen ke luar negeri. Selain itu, struktur perdagangan barang Indonesia juga masih sangat bergantung pada harga komoditas yang cenderung fluktuatif.

Dwiwulan juga menilai pendalaman sektor jasa keuangan domestik masih belum cukup matang untuk menopang stabilitas ekonomi secara optimal.

"Jadi sebenarnya kalau bisa saya bilang, resep untuk pemulihan rupiah (saat ini) itu jauh lebih panjang list-nya dibandingkan ketika Pak Habibie kemarin," paparnya.

2. Independensi BI jadi sorotan di tengah pelemahan rupiah

Bisakah Resep Era Habibie Dipakai untuk Pulihkan Rupiah Saat Ini?
Layar memampilkan logo Bank Indonesia (BI) di Jakarta, Kamis (17/6/2021). Bank Indonesia memutuskan mempertahankan suku bunga acuan BI (BI 7-Day Reverse Repo Rate/BI7DRR) di level 3,5 persen (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

Dalam kesempatan itu, Dwiwulan menyoroti pentingnya menjaga independensi Bank Indonesia (BI). Dia menilai reformasi di bank sentral sebaiknya difokuskan untuk mengembalikan independensi BI yang dinilai mulai tergerus.

Menurut dia, kondisi tersebut terlihat dari mulai masuknya kepentingan politik ke dalam dewan gubernur BI. Selain itu, kebijakan burden sharing yang masih berlanjut setelah pandemik COVID-19 juga dinilai menjadi perhatian dalam reformasi bank sentral.

"Kita bisa melihat bahwa sekarang di dewan gubernurnya sendiri pun sudah masuk political interest itu sendiri dan juga burden sharing berlanjut setelah pandemi. Nah, ini yang perlu kita fokuskan reformasi di dalam central bank (BI) itu," kata dia.

3. Faktor fundamental patut jadi fokus pemulihan rupiah

Bisakah Resep Era Habibie Dipakai untuk Pulihkan Rupiah Saat Ini?
ilustrasi rupiah menguat (IDN Times/Aditya Pratama)

Dwiwulan menilai, pelemahan rupiah lebih dipengaruhi persoalan fundamental ekonomi domestik. Menurut dia, depresiasi rupiah yang terjadi saat ini tidak semata-mata disebabkan faktor individu tertentu atau keluarnya satu investor dari pasar.

Dia mengatakan, apabila fundamental ekonomi mampu menciptakan stabilitas serta pertumbuhan keuntungan yang berkelanjutan, keluarnya satu investor tidak akan memberi dampak besar terhadap pelemahan rupiah.

"Jadi menurut saya tidak perlu mengkhawatirkan satu individu tersebut, lebih baik kita benahi yang ada di domestik saat ini," ujar Dwiwulan.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati

Related Articles

See More