ilustrasi Amazon Web Services (unsplash.com/boliviainteligente)
Kerja sama ini menjadi bukti nyata kolaborasi antara raksasa teknologi dan perusahaan penerbangan demi memenuhi kebutuhan penumpang masa kini yang ingin selalu terhubung. Amazon Leo, yang sebelumnya dikenal dengan nama Project Kuiper, kini berubah menjadi penyedia infrastruktur komunikasi canggih yang mampu mengirim data besar lewat ribuan satelit di orbit rendah bumi (Low Earth Orbit/LEO).
Rencananya, Delta akan mulai memasang alat penangkap sinyal satelit Amazon Leo pada 500 pesawatnya mulai tahun 2028. Pada tahap awal, layanan ini akan difokuskan untuk penerbangan dalam negeri di AS sebelum merambah ke rute internasional. Hubungan erat Delta dengan Amazon Web Services (AWS) menjadi alasan kuat di balik terpilihnya Amazon sebagai mitra utama.
"Masa depan Delta adalah mendunia. Perjanjian ini memberi kami teknologi tercepat dan termurah untuk menghubungkan dunia dengan lebih baik, sekaligus mempererat kerja sama kami dengan pemimpin global yang punya ambisi besar dalam membangun masa depan," kata CEO Delta Air Lines, Ed Bastian, dilansir About Amazon.
Selain internet, kerja sama ini juga akan menciptakan sistem digital lengkap yang mencakup kecerdasan buatan, penyimpanan data awan (cloud), hingga hiburan eksklusif. Penumpang yang terdaftar dalam program loyalitas Delta SkyMiles bisa menikmati Wi-Fi gratis sejak di gerbang keberangkatan sampai tiba di tujuan. Amazon sendiri tidak main-main dengan menyiapkan investasi sebesar 10 miliar dolar AS (Rp169,96 triliun) untuk membangun jaringan satelit global ini.
"Kami merancang Leo untuk menyediakan internet cepat bagi miliaran orang di Bumi yang selama ini sulit mendapat sinyal bagus. Perjanjian dengan Delta ini adalah bukti nyata kecanggihan teknologi kami dalam menghadirkan Wi-Fi pesawat yang jauh lebih ngebut bagi jutaan penumpang setiap tahunnya," kata CEO Amazon, Andy Jassy.