3 Fasilitas Milik Amazon di UEA dan Bahrain Diserang Drone Iran

- Tiga fasilitas Amazon Web Service di UEA dan Bahrain diserang drone Iran, menyebabkan kebakaran, mati listrik, serta kerusakan struktural pada infrastruktur pusat data.
- Serangan terjadi di tengah perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang dimulai akhir Februari 2026, dengan operasi militer besar-besaran bernama Epic Furry.
- Konflik meluas ke berbagai negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, Qatar, Kuwait, dan UEA, memicu serangan terhadap fasilitas energi serta kenaikan harga minyak global.
Jakarta, IDN Times - Drone Iran dilaporkan menghantam tiga fasilitas milik perusahaan teknologi asal Amerika Serikat, Amazon Web Service (AWS), di Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain pada Minggu (1/3/2026) pagi waktu setempat. Kabar ini dikonfirmasi langsung oleh AWS pada Senin (2/3/2026).
AWS dalam pernyataannya menyebut drone Iran menghantam dua fasilitas pusat data di UEA dan satu fasilitas di Bahrain. Namun, Amazon tidak menyebut secara detail fasilitas apa di Bahrain yang terkena serangan dari Iran.
1. Serangan menyebabkan kebakaran dan mati listrik

Dalam pernyataannya, AWS mengatakan serangan ini menyebabkan kebakaran dan mati listrik di sekitar fasilitas yang ada di UEA dan Bahrain. Mereka lantas menyebut serangan ini sebagai serangan yang parah.
“Di UEA, dua fasilitas kami terkena serangan langsung. Sementara di Bahrain, serangan pesawat tidak berawak di dekat salah satu fasilitas kami menyebabkan dampak fisik pada infrastruktur kami,” bunyi pernyataan AWS yang dirilis di laman resminya, seperti dilansir CNBC.
“Serangan-serangan ini telah menyebabkan kerusakan struktural, mengganggu pasokan listrik ke infrastruktur kami, dan dalam beberapa kasus memerlukan kegiatan pemadaman kebakaran yang mengakibatkan kerusakan air tambahan,” lanjut pernyataan tersebut.
2. Serangan terjadi di tengah perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran

Serangan drone yang menyasar fasilitas AWS di UEA dan Bahrain ini terjadi di tengah perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. AS dan Israel sendiri mulai menyerang Iran pada Sabtu (28/2/2026) lalu.
Hingga saat ini, AS dan Israel masih melakukan serangan ke Iran. Bahkan, Trump menyebut telah melakukan serangan besar-besaran ke Iran selama 36 non-stop lewat operasi militer yang disebut Epic Furry. Lewat operasi militer tersebut, Trump juga berjanji akan menyerang Iran dengan kekuatan yang lebih besar.
“Kita menghancurkan mereka. Saya pikir semuanya berjalan sangat baik. Ini sangat ampuh. Kita memiliki militer terhebat di dunia dan kita menggunakannya,” kata Trump kepada jurnalis CNN, Jake Tapper, dalam wawancara yang dihelat pada Senin pagi.
Meski begitu, Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan, perang dengan Iran tidak akan memakan waktu lama. Trump memprediksi perang dengan Iran hanya akan berlangsung sekitar empat sampai lima pekan saja. Namun, Trump menegaskan bahwa perang melawan Iran bisa jadi lebih lama jika dibutuhkan.
3. Perang sudah meluas ke negara Timur Tengah lainnya

Saat ini, perang antara AS, Israel, dan Iran sudah meluas ke beberapa negara di Timur Tengah, yakni Arab Saudi, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab. Ini terjadi karena Iran mulai melakukan serangan ke markas militer Negeri Paman Sam yang ada di negara-negara tersebut.
Pada Senin lalu, Iran juga menyerang perusahaan energi Arab Saudi dan Qatar, yakni Aramco dan QatarEnergy. Serangan tersebut membuat harga minyak global mengalami kenaikan.
Terbaru, Iran menyerang Kedutaan Besar AS di Riyahd, Arab Saudi, pada Selasa (3/3/2026) pagi waktu setempat. Serangan tersebut merusak dan menyebabkan kebakaran di komplek diplomatik AS di Saudi.
Di sisi lain, Israel juga mulai melancarkan serangan udara ke Lebanon. Serangan ini ditujukan kepada kelompok milisi Hizbullah karena mereka membantu Iran untuk menyerang AS dan Israel.

















