Bahlil Duga LNG yang Diekspor ke Singapura Sebagian Dijual Kembali

Bahlil menduga sebagian dari 148 kargo LNG Indonesia ke Singapura diperdagangkan kembali ke negara lain.
Indonesia mengurangi pasokan gas pipa ke Singapura sebesar 31 BBTUD, tanpa melanggar batas minimum kontrak.
Keputusan ekspor LNG pada 2027 bergantung pada kebutuhan domestik, sementara pemerintah mempertimbangkan pengiriman langsung.
Jakarta, IDN Times - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menduga sebagian gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) yang dikirim Indonesia ke Singapura tidak digunakan untuk konsumsi dalam negeri negara tersebut, melainkan diperdagangkan kembali ke negara lain.
Bahlil menyebut, Indonesia mengirim 148 kargo LNG ke Singapura dan memperkirakan tidak seluruh LNG tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi Singapura. Sebagian kargo diduga masuk ke kegiatan perdagangan energi.
"Keyakinan saya bahwa pengiriman 148 kargo itu tidak semuanya itu dipakai untuk kepentingan Singapura, tapi sebagian dijadikan sebagai trading untuk kemudian diekspor lagi ke negara lain," kata Bahlil kepada jurnalis di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (29/10/2026).
1. Indonesia pangkas ekspor gas pipa ke Singapura 31 BBTUD

Jaringan pipa gas. (Dok. Kementerian ESDM) Selain LNG, Indonesia memasok gas bumi ke Singapura melalui pipa dari Natuna dan Sumatra. Bahlil menyebut total pengiriman gas pipa tersebut mencapai 409,5 billion British thermal units per day (BBTUD).
Pemerintah mulai mengurangi pasokan sebesar 31 BBTUD sejak Sabtu (24/10/2026). Pengurangan itu terdiri atas 15 BBTUD dari Natuna dan 16 BBTUD dari Sumatra. Menurut Bahlil, pengurangan tersebut masih berada dalam batas minimum pasokan yang diatur dalam kontrak.
"Dengan yang ada itu, kita belum melanggar kontrak, karena ada batas minimum kan. Batas minimum itu belum kita lampaui. Jadi enggak ada masalah, ya," ujar dia.
2. Bahlil belum pastikan pemangkasan ekspor LNG pada 2027

Ilustrasi industri gas alam cair (LNG). (pexels.com/Diego F. Parra) Bahlil belum memastikan apakah pemerintah akan mengurangi ekspor LNG ke Singapura pada 2027. Dia menyatakan, keputusan tersebut akan bergantung pada perkembangan kebutuhan energi dalam negeri.
Pemerintah, menurut Bahlil, akan mendahulukan pemenuhan kebutuhan domestik. Namun, jika pasokan dalam negeri sudah mencukupi, Indonesia tetap dapat mengekspor gas ke negara lain.
"Ya, nanti kita lihat perkembangan lah ya. Kan kita harus memprioritaskan kepentingan domestik kita. Tapi kalau domestik kita sudah cukup, saya pikir kita harus juga mengirim ekspor ke negara lain, ya," tuturnya.
3. Pemerintah tak mau LNG diekspor lewat perantara

PGN berhasil melaksanakan proses ship-to-ship (STS) transfer LNG dari Terminal LNG Bontang ke FSRU Lampung pada 13–14 April 2025. (Dok. PGN). Bahlil sebelumnya telah mempertimbangkan perubahan skema ekspor di sektor ESDM. Pemerintah ingin pengiriman komoditas Indonesia ke negara tujuan dilakukan secara langsung tanpa melalui negara perantara.
"Contoh ekspor LNG, kalau kita mau ekspor ke Jepang, ya langsung ke Jepang saja, enggak usah lewat negara-negara lain. Kalau mau ekspor ke Eropa, ya Eropa saja langsung. Begitupun mau ekspor ke mana ya, langsung saja dari Indonesia," katanya dalam konferensi pers, Senin (26/10).
Dia menilai komoditas yang berasal dari Indonesia seharusnya bisa dikirim langsung ke negara pembeli. Jika ada pihak yang tidak menyetujui rencana tersebut, pemerintah akan membicarakannya secara baik-baik.
"Sedang saya pertimbangkan, jangan lagi mampir di ini di sini di sini. Enggak usah, langsung saja. Barang-barang punya Indonesia kok, kenapa harus mampir-mampir? Kalau mereka enggak mau, ya sudah, kita bicarain baik-baik. Sifatnya kita itu, Indonesia terlalu baik," ujar Bahlil.





















